Bawang Bombai Berpotensi Bantu Kendalikan Gula Darah

Lifestyle Nadia Safira Putri 23 Mei 2026 21:54 WIB 4
Bawang Bombai Berpotensi Bantu Kendalikan Gula Darah

Diabetes tipe 2 ditandai oleh fluktuasi kadar gula darah yang dapat memicu kerusakan pada berbagai organ tubuh. Di tengah risiko tersebut, penelitian terbaru menunjukkan adanya jenis sayuran yang berpotensi membantu mengelola gula darah. Temuan itu menarik perhatian karena bahan yang diteliti murah, mudah didapat, dan umum digunakan dalam masakan sehari-hari. Meski demikian, para ahli menegaskan hasil tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut sebelum diterapkan pada manusia.

Penelitian yang dipresentasikan di San Diego mengungkap ekstrak umbi bawang bombai atau Allium cepa mampu menurunkan kadar gula darah tinggi pada tikus diabetes. Efek itu terlihat ketika ekstrak diberikan bersamaan dengan obat anti-diabetes metformin. Peneliti utama Anthony Ojieh dari Delta State University, Nigeria, menyebut bawang bombai berpotensi dimanfaatkan sebagai suplemen nutrisi. Namun, ia menekankan perlunya penyelidikan lanjutan untuk memahami mekanisme kerjanya secara lebih pasti.

Bawang Bombai dan Gula Darah

Dalam studi tersebut, tim peneliti memberikan metformin dan ekstrak bawang bombai dengan dosis berbeda kepada tikus diabetes. Dosis yang diuji meliputi 200 mg, 400 mg, dan 600 mg per kilogram berat badan tikus setiap hari. Peneliti juga membandingkannya dengan kelompok tikus non-diabetes yang menerima perlakuan serupa. Cara ini digunakan untuk melihat apakah bawang bombai dapat memperkuat efek obat.

Selain kelompok perlakuan, penelitian juga melibatkan tikus kontrol yang tidak mendapat metformin maupun ekstrak bawang. Ada pula kelompok pembanding yang hanya menerima metformin tanpa tambahan ekstrak bawang. Setiap kelompok berisi lima tikus agar hasil pengamatan tetap terukur. Dengan rancangan itu, peneliti dapat menilai perubahan kadar gula darah secara lebih jelas.

Hasilnya menunjukkan dosis 400 mg dan 600 mg ekstrak bawang bombai mampu menurunkan gula darah puasa tikus diabetes secara signifikan. Penurunannya masing-masing tercatat sebesar 50 persen dan 35 persen dibandingkan kadar awal penelitian. Temuan ini dinilai cukup menjanjikan dalam konteks pengelolaan diabetes. Meski demikian, hasil pada hewan belum tentu sama ketika diuji pada manusia.

Potensi Bawang Bombai Sehat

Anthony Ojieh menjelaskan bawang bombai dikenal murah, mudah diperoleh, dan sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan nutrisi tambahan. Menurutnya, karakter tersebut membuat bawang bombai menarik untuk diteliti lebih jauh. Ia menilai bahan pangan ini memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai pendukung terapi diabetes. Namun, pemanfaatannya tetap membutuhkan dasar ilmiah yang kuat.

Menariknya, pemberian ekstrak bawang bombai juga memengaruhi berat badan rata-rata pada tikus non-diabetes. Kondisi itu tidak terjadi pada tikus diabetes yang ikut diteliti. Ojieh menilai bawang bombai tidak tinggi kalori, tetapi diduga dapat meningkatkan laju metabolisme. Akibatnya, nafsu makan ikut naik dan konsumsi makanan bertambah.

Para peneliti menilai mekanisme penurunan glukosa darah oleh bawang bombai belum sepenuhnya dipahami. Karena itu, studi lanjutan dibutuhkan untuk menjawab cara kerja senyawa aktif di dalamnya. Ekstrak yang dipakai dalam penelitian dibuat dari umbi bawang yang dijual di supermarket lokal. Jika kelak digunakan pada manusia, bahan tersebut harus melalui proses pemurnian agar dosisnya lebih akurat.

Cara Mengontrol Gula Darah

Kementerian Kesehatan RI menyarankan masyarakat membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak sesuai anjuran harian. Batas yang disebutkan adalah 50 gram per hari atau setara empat sendok makan. Pola makan seperti ini penting untuk mencegah lonjakan gula darah. Langkah sederhana tersebut dapat membantu menjaga kesehatan dalam jangka panjang.

Selain pola makan, aktivitas fisik juga menjadi bagian penting dalam mengelola gula darah. Olahraga dianjurkan dilakukan tiga sampai lima kali seminggu dengan durasi 30 menit hingga 45 menit. Total aktivitas idealnya mencapai sekitar 150 menit per minggu. Kebiasaan ini sebaiknya tidak dilakukan dengan jeda terlalu lama agar manfaatnya lebih optimal.

Spesialis penyakit dalam dr. Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD, menekankan pentingnya evaluasi berkala agar upaya menjaga kesehatan tidak sia-sia. Ia juga menyebut pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi gula darah secara akurat. Pemeriksaan seperti gula darah puasa dan HbA1c dapat membantu membedakan kondisi normal, prediabetes, atau diabetes. Dengan skrining rutin, perubahan pola hidup dapat dilakukan lebih cepat dan terarah.

Skrining Rutin dan Pencegahan

Pemeriksaan kesehatan rutin sangat penting untuk mendeteksi dampak konsumsi gula berlebih sejak dini. Banyak orang baru menyadari masalah setelah keluhan muncul, padahal gangguan gula darah bisa berkembang perlahan. Karena itu, skrining menjadi langkah pencegahan yang tidak boleh diabaikan. Pemeriksaan berkala membantu seseorang memahami risiko kesehatannya secara lebih objektif.

Dr. Erpryta menjelaskan bahwa diagnosis diabetes melitus tidak cukup hanya mengandalkan gula darah sewaktu. Pemeriksaan gula darah puasa dan HbA1c dibutuhkan untuk melihat rata-rata kadar gula darah dalam dua hingga tiga bulan terakhir. Hasil tersebut memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi metabolisme tubuh. Dari sana, dokter dapat menentukan apakah seseorang masih aman atau sudah masuk tahap prediabetes.

Upaya menjaga gula darah tetap stabil sebaiknya dilakukan secara konsisten, bukan hanya sesekali. Kombinasi pola makan seimbang, olahraga teratur, dan pemeriksaan rutin dapat menekan risiko komplikasi. Temuan tentang bawang bombai memang menarik, tetapi belum dapat dijadikan dasar pengobatan mandiri. Masyarakat tetap disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mencoba pendekatan baru.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!