Batuk Tak Kunjung Sembuh, Ternyata Piercing Masuk ke Paru-paru

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 11:49 WIB 2
Batuk Tak Kunjung Sembuh, Ternyata Piercing Masuk ke Paru-paru

Batuk yang tak kunjung reda kerap dianggap sebagai keluhan ringan, padahal pada kasus tertentu bisa menandakan masalah serius di dalam tubuh. Hal itulah yang dialami seorang wanita asal Spanyol bernama Monica Deyanira Cabrera Barajas, yang selama sekitar satu bulan mengalami batuk terus-menerus hingga akhirnya memeriksakan diri ke dokter.

Hasil pemeriksaan rontgen justru mengungkap temuan mengejutkan, yakni anting hidung atau septum piercing berada di dalam tubuhnya. Kondisi tersebut membuat dokter bergerak cepat karena posisi benda asing itu sangat dekat dengan aorta, pembuluh darah utama yang berperan penting dalam sirkulasi darah.

Piercing dan batuk berkepanjangan

Kasus ini bermula ketika Deyanira merasakan batuk yang tidak kunjung sembuh selama kurang lebih sebulan. Awalnya, ia mengira gejala itu hanyalah gangguan biasa yang akan mereda dengan sendirinya. Namun, keluhan yang terus berulang membuatnya memilih untuk mencari pertolongan medis.

Pemeriksaan kemudian menunjukkan adanya benda asing di dalam tubuhnya, yang semula tidak ia sadari. Dokter menemukan septum piercing yang diduga terlepas dari hidungnya. Temuan itu langsung mengubah arah penanganan karena posisinya tidak berada di tempat yang semestinya.

Kasus seperti ini menegaskan bahwa batuk berkepanjangan tidak selalu berkaitan dengan infeksi saluran napas. Dalam situasi tertentu, keluhan tersebut bisa menjadi petunjuk adanya benda asing yang masuk ke organ dalam. Karena itu, pemeriksaan medis menjadi langkah penting saat gejala tidak membaik.

Temuan rontgen yang mengejutkan

Rontgen yang dilakukan terhadap Deyanira memberikan hasil yang tak disangka-sangka. Dokter melihat adanya anting hidung yang berada di dalam tubuhnya. Situasi itu mengejutkan bukan hanya bagi pasien, tetapi juga bagi tim medis yang menanganinya.

Menurut pengakuan Deyanira, ia sama sekali tidak menyadari bahwa piercing miliknya hilang. Ia menduga bagian kecil anting itu terlepas saat dirinya tidur telentang. Setelah itu, benda tersebut diduga masuk ke tenggorokan dan terhirup hingga mencapai paru-paru.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa benda kecil sekalipun dapat menimbulkan risiko besar bila masuk ke jalur pernapasan. Tanpa disadari, kondisi seperti itu bisa berkembang menjadi keadaan yang mengancam jiwa. Karena itu, gejala yang tampak sepele tetap perlu diwaspadai.

Operasi darurat yang rumit

Setelah lokasi benda asing teridentifikasi, Deyanira harus menjalani operasi darurat untuk mengeluarkannya. Pada awalnya, prosedur tersebut diperkirakan berlangsung singkat dan berjalan tanpa hambatan berarti. Namun, kondisi di ruang operasi ternyata lebih kompleks dari yang dibayangkan.

Operasi pertama tidak berhasil karena piercing sudah menempel pada jaringan tubuh. Dokter pun harus melakukan tindakan kedua dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Proses ini menuntut ketelitian ekstra agar tidak terjadi cedera pada organ vital di sekitarnya.

Penanganan medis yang cepat menjadi faktor penting dalam kasus ini. Jika benda tersebut bergerak lebih jauh atau melukai jaringan penting, konsekuensinya bisa jauh lebih berbahaya. Karena itu, keputusan untuk melakukan tindakan segera dinilai tepat.

Risiko serius di tubuh

Dokter menyebut posisi piercing tersebut sangat dekat dengan aorta, yakni pembuluh darah utama dalam tubuh. Jaraknya bahkan disebut hanya sekitar 0,5 milimeter. Kedekatan itu membuat risiko komplikasi menjadi sangat tinggi.

Dalam penjelasan medis, benda asing di sekitar pembuluh darah besar dapat memicu perdarahan hebat bila terjadi cedera. Selain itu, jika mengenai paru-paru, dampaknya bisa berupa paru-paru kolaps atau gangguan pernapasan berat. Karena itu, kasus ini dinilai berpotensi fatal.

Beruntung, operasi kedua berjalan lancar dan benda asing itu berhasil diangkat. Deyanira dinyatakan selamat setelah melewati prosedur yang cukup berisiko. Dokter menilai keberuntungan dan penanganan cepat menjadi kunci keselamatannya.

Pengalaman tersebut membuat Deyanira memutuskan untuk tidak lagi menggunakan piercing. Ia mengaku trauma setelah melalui peristiwa yang hampir merenggut nyawanya. Kisah ini menjadi pengingat bahwa aksesori tubuh juga memiliki risiko yang perlu diperhatikan secara serius.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!