BRIN Soroti Biaya Energi Operator Telko dan Solusi Energi Hijau

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 01 Juni 2026 13:02 WIB 3
BRIN Soroti Biaya Energi Operator Telko dan Solusi Energi Hijau

Badam Riset dan Inovasi Nasional menilai pendapatan operator telekomunikasi di Indonesia mulai mengalami saturasi. Kondisi itu membuat pelaku industri perlu mencari sumber efisiensi baru, terutama dari sisi biaya energi.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menyebut pertumbuhan pendapatan industri telekomunikasi hanya sekitar 1,2 persen berdasarkan analisis PwC. Ia menilai energi terbarukan dapat menjadi salah satu solusi untuk menekan biaya operasional dan menjaga margin usaha.

Biaya Energi Telko Meningkat

Dr Mardi menjelaskan, operator telekomunikasi kini harus lebih agresif menggenjot penjualan. Paket layanan yang lebih menarik diperlukan karena layanan legacy seperti telepon dan SMS semakin jarang digunakan.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi. Kegiatan tersebut mengangkat tema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, pada Rabu, 20 Mei 2026.

Menurut dia, fokus pertumbuhan pendapatan tidak cukup tanpa efisiensi biaya. Salah satu pos yang paling besar adalah biaya energi yang mencapai sekitar 20 persen dari total biaya operasional operator.

Dari porsi tersebut, sekitar 90 persen digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik. Karena itu, pengelolaan energi menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi perusahaan telekomunikasi.

Peluang Energi Terbarukan

Dr Mardi merujuk analisis McKinsey yang menyebut ada empat pendorong utama efisiensi energi. Keempatnya adalah keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri.

Dari berbagai opsi itu, ia menilai pembelian atau produksi energi hijau memberikan potensi penghematan paling besar. Energi terbarukan juga dinilai lebih relevan untuk kebutuhan jaringan telekomunikasi yang tersebar di banyak lokasi.

Skema yang dapat diterapkan meliputi solar PV, turbin angin, micro hydro, hingga sumber energi lain yang sesuai dengan karakter situs. Penyesuaian ini penting karena tiap lokasi jaringan memiliki kebutuhan dan kondisi geografis yang berbeda.

Dengan pendekatan tersebut, operator dinilai dapat menekan biaya jangka panjang sekaligus memperkuat komitmen terhadap pengurangan emisi. Strategi ini juga sejalan dengan tren efisiensi yang mulai menjadi perhatian industri global.

Hambatan Implementasi Operator

Meski peluangnya besar, Dr Mardi mempertanyakan mengapa energi terbarukan belum diterapkan secara menyeluruh oleh operator di Indonesia. Menurut dia, pertanyaan itu perlu dijawab karena teknologi serupa sudah lama diuji.

Ia mengingat riset terkait renewable energy untuk telekomunikasi telah dimulai sejak 2010. Saat itu, Telkom Indonesia menjalankan pilot project instalasi energi terbarukan di Kalimantan dan Sumatera.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa implementasi sebenarnya sudah pernah dicoba. Namun, hasilnya belum berkembang menjadi penerapan masif di seluruh jaringan operator.

Karena itu, ia menduga ada hambatan struktural yang perlu diidentifikasi lebih jauh. Hambatan tersebut bisa berkaitan dengan investasi awal, kesiapan teknologi, maupun model bisnis yang belum sepenuhnya mendukung.

Efisiensi Jadi Kunci Persaingan

Dr Mardi menegaskan bahwa industri telekomunikasi tidak bisa hanya bertumpu pada pertumbuhan pelanggan. Ketika pendapatan dari layanan lama terus menurun, efisiensi menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan bisnis.

Ia melihat optimasi biaya energi sebagai langkah strategis yang langsung berdampak pada profitabilitas. Jika beban energi dapat dikurangi, operator memiliki ruang lebih besar untuk memperkuat layanan dan investasi jaringan.

Di sisi lain, adopsi energi terbarukan juga dapat mendukung target keberlanjutan perusahaan. Langkah ini berpotensi memperbaiki citra industri sekaligus menjawab tuntutan efisiensi operasional.

Dengan kondisi pendapatan yang cenderung stagnan, operator perlu bergerak cepat mencari solusi baru. Energi hijau, menurut BRIN, bisa menjadi salah satu jawaban yang paling realistis untuk menekan biaya dan menjaga daya saing.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!