Produk Daur Ulang UMKM Tembus Pasar Global

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 01 Juni 2026 12:59 WIB 3
Produk Daur Ulang UMKM Tembus Pasar Global

Di tangan pelaku usaha kreatif, sampah dapat berubah menjadi produk bernilai tinggi dan diminati pasar luar negeri. Robries dan Lumosh menjadi dua contoh usaha mikro kecil menengah yang memanfaatkan limbah plastik serta limbah keramik menjadi produk fungsional dengan desain menarik. Keduanya menempuh jalur yang sama, yakni mengolah bahan tak bernilai menjadi komoditas yang punya daya saing ekspor.

Upaya tersebut didukung oleh Indonesia Design Development Center atau IDDC Kementerian Perdagangan dalam ajang Trade Expo Indonesia 2025 di Tangerang, Sabtu, 18 Oktober 2025. Melalui pendampingan desain, riset pasar, dan kurasi produk, sejumlah pelaku UMKM diberi peluang untuk menjangkau pembeli dari Singapura, Malaysia, hingga Uni Eropa. Dorongan ini membuat produk daur ulang semakin dekat ke pasar global.

Robries Olah Sampah Plastik

CEO dan Founder Robries, Syukriyatun Niamah, menjelaskan bahwa usahanya berdiri pada 2018 dengan fokus mengubah sampah botol plastik menjadi furnitur. Produk yang dihasilkan dibuat agar tetap menarik secara visual, sekaligus membawa pesan menjaga lingkungan. Pendekatan itu menjadi identitas utama Robries sejak awal berdiri.

Syukriyatun menyebut tantangan terbesar bukan hanya proses produksi, tetapi juga edukasi pasar. Menurut dia, produk berbahan dasar sampah botol plastik masih tergolong unik bagi sebagian masyarakat. Karena itu, konsumen perlu diberi pemahaman bahwa material daur ulang dapat menjadi produk berkualitas.

Masalah lain datang dari ketersediaan bahan baku yang tidak selalu stabil. Robries membutuhkan sampah tutup botol plastik dalam jumlah konsisten agar kualitas produk tetap terjaga. Kondisi tersebut membuat perusahaan harus terus mencari pasokan yang sesuai dengan standar produksi.

Hingga kini, Robries telah memproduksi sekitar 25 ribu produk dari 145 ton sampah olahan. Produknya telah dipasarkan ke Singapura, Malaysia, dan Uni Eropa. Perusahaan juga menegaskan komitmen untuk memenuhi kebutuhan pasar global secara berkelanjutan.

Lumosh Kembangkan Limbah Keramik

Co Founder Lumosh, Raymond Tjiadi, mengungkapkan bahwa perusahaannya memanfaatkan limbah keramik sebagai bahan utama produk UMKM. Dari bahan tersebut, Lumosh menghasilkan piring, gelas, dan berbagai perabot rumah tangga dengan desain artistik. Konsep itu memberi nilai baru pada material yang sebelumnya dianggap tidak layak pakai.

Raymond menuturkan bahwa pengolahan limbah keramik masih jarang dilakukan, sehingga referensi risetnya terbatas. Timnya kerap kesulitan mencari jurnal maupun pengetahuan teknis yang relevan. Dalam kondisi itu, dukungan dari IDDC menjadi sangat penting untuk mempercepat pengembangan produk.

Melalui pendampingan tersebut, Lumosh memperoleh bantuan riset dan arahan desain agar produknya terlihat representatif. Desain dibuat agar konsumen langsung memahami bahwa barang tersebut berasal dari bahan daur ulang. Langkah ini membantu Lumosh memperkuat identitas merek di pasar.

Raymond juga menekankan pentingnya konsultasi terkait pasar global. IDDC memberi masukan mengenai negara atau wilayah mana yang paling potensial untuk ditembus Lumosh. Pendekatan itu dinilai membantu pelaku usaha memilih strategi ekspansi yang lebih tepat.

IDDC Dorong Kurasi UMKM

Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag melalui IDDC terus mendorong pelaku UMKM untuk masuk ke pasar internasional. Salah satu caranya adalah memberikan fasilitas kepada pelaku usaha yang telah lulus kurasi untuk tampil di TEI 2025. Dukungan ini dirancang agar produk lokal memiliki ruang bertemu langsung dengan pembeli mancanegara.

TEI 2025 menjadi ajang penting karena diikuti setidaknya 8.045 pembeli dari 130 negara. Pameran berskala internasional itu membuka peluang besar bagi pelaku usaha untuk memperluas jejaring dagang. Dalam konteks ini, kurasi produk menjadi pintu awal sebelum masuk ke pasar ekspor.

Syukriyatun mengakui bahwa kehadiran IDDC memberi kemudahan besar bagi Robries. Ia menyebut pendampingan dalam pengemasan produk membantu usahanya lebih dilirik calon pembeli, termasuk dari luar negeri. Menurut dia, masukan yang diberikan sangat relevan untuk kebutuhan ekspor.

Ia juga menyampaikan bahwa setelah empat tahun mengajukan Good Design Award, Robries akhirnya meraih Best Design Indonesia dan Good Design Award Japan pada tahun ini. Penghargaan tersebut dinilai berdampak besar terhadap penetrasi pasar, terutama di segmen ekspor. Pencapaian itu sekaligus memperkuat posisi produk daur ulang di mata pembeli internasional.

Daya Saing Produk Daur Ulang

Kisah Robries dan Lumosh menunjukkan bahwa produk daur ulang dapat bersaing bila didukung inovasi, riset, dan desain yang tepat. Keduanya mengubah material bekas menjadi produk bernilai jual tanpa meninggalkan unsur estetika. Dengan pendekatan itu, sampah tidak lagi sekadar masalah, melainkan sumber peluang ekonomi.

Di sisi lain, dukungan institusi seperti IDDC menjadi faktor penting dalam membuka akses pasar. Pelaku UMKM tidak hanya membutuhkan produksi yang kuat, tetapi juga pendampingan agar produk sesuai dengan selera pembeli global. Karena itu, kurasi dan pengembangan desain menjadi bagian penting dari strategi ekspor.

Pasar internasional terbukti memberi ruang bagi produk yang memiliki cerita, fungsi, dan kualitas. Produk berbahan daur ulang dinilai punya nilai tambah karena membawa pesan keberlanjutan yang semakin dicari konsumen dunia. Kondisi ini membuka jalan lebih luas bagi UMKM Indonesia untuk naik kelas.

Dengan tren tersebut, peluang produk berbahan limbah untuk menembus pasar global kian terbuka. Namun, konsistensi bahan baku, kualitas produksi, dan edukasi pasar tetap menjadi pekerjaan rumah utama. Jika tantangan itu terjawab, produk daur ulang berpotensi menjadi salah satu kekuatan baru ekspor Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!