Bangkit dari Nol, Salad Umma Tembus Omzet Rp1 Juta

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 02 Juni 2026 09:55 WIB 2
Bangkit dari Nol, Salad Umma Tembus Omzet Rp1 Juta

Hikma Nurul Audhliya, perempuan 38 tahun asal Jakarta, bangkit dari keterpurukan usai usaha make-up artist-nya hancur akibat pandemi. Setelah seluruh pesanan pernikahan dibatalkan, ia memulai kembali dari nol dengan merintis usaha kuliner sehat bernama Salad Umma. Perjalanan itu dimulai dari dapur rumah, lalu berkembang berkat pelatihan usaha, Kartu Prakerja, dan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Dari usaha kecil dengan omzet harian yang naik turun, Salad Umma kini mampu mencatat pendapatan hingga Rp 1 juta per hari.

Kisah bangkitnya Hikma menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dapat melahirkan peluang baru jika disertai ketekunan dan kemampuan beradaptasi. Usaha yang awalnya hanya menjual salad sayur kini berkembang menjadi bisnis yang melayani pesanan rutin untuk rapat kementerian dan pemerintah daerah. Perjalanan itu juga menjadi contoh bagaimana dukungan pelatihan dan pembiayaan dapat membantu pelaku UMKM naik kelas. Berikut kisah lengkapnya.

Salad Umma dari Keterpurukan

Hikma semula bekerja sebagai perias wajah atau makeup artist yang banyak menangani acara pernikahan. Saat pandemi melanda, seluruh jadwal acara dibatalkan secara mendadak, sehingga usahanya terpukul hebat. Uang muka yang sudah masuk ke sejumlah vendor juga membuatnya harus menanggung ganti rugi. Dalam situasi itu, ia bahkan menjual mobil, baju, hingga perlengkapan make-up untuk menutup kerugian.

Ia mengaku sempat pasrah setelah seluruh pesanan wedding dibatalkan pada akhir 2020. Dana yang telah dibayarkan pelanggan terlanjur masuk ke vendor dekorasi, tenda, dan bunga. Ketika aktivitas pernikahan berhenti total, semua aset usaha yang masih bisa dijual langsung dilepas. Kondisi tersebut memaksa Hikma mencari jalan baru agar tetap bisa bertahan.

Di tengah tekanan ekonomi itu, Hikma kemudian mencoba mengikuti program Kartu Prakerja. Pada gelombang pertama ia gagal, namun pada kesempatan berikutnya ia berhasil lolos dan memperoleh voucher pelatihan usaha senilai Rp 1 juta. Awalnya ia memilih kelas makeup karena berharap industri hiburan dan pernikahan segera pulih. Akan tetapi, situasi belum membaik sehingga ia mulai mempertimbangkan usaha yang lebih praktis dan tahan terhadap kondisi krisis.

Pilihan itu akhirnya jatuh pada salad sayur, karena dinilai tidak membutuhkan kompor, minyak, maupun gas. Baginya, produk tersebut juga selaras dengan tren masyarakat yang mulai mencari makanan sehat dan ringkas. Dari pertimbangan sederhana itulah Salad Umma lahir sebagai usaha baru. Keputusan itu menjadi titik balik penting setelah kegagalan usaha sebelumnya.

Pelatihan Usaha yang Mengubah Arah

Setelah menentukan produk, Hikma mulai merintis usaha dari dapur rumah dengan modal yang terbatas. Dana yang diterimanya melalui Kartu Prakerja mencapai Rp 2,4 juta, yang dicairkan bertahap sebesar Rp 600 ribu selama empat bulan. Uang itu dipakai untuk membeli bahan baku dan peralatan dasar secara perlahan. Beberapa kebutuhan yang dibeli antara lain chopper, blender, kemasan, dan showcase.

Langkah kecil tersebut membuat operasional Salad Umma bisa berjalan lebih rapi. Hikma tidak langsung membuka usaha besar, melainkan membangun fondasi dari peralatan yang paling mendesak. Ia menekankan efisiensi agar modal yang terbatas tidak cepat habis. Cara ini membantu usahanya bertahan pada masa awal yang penuh ketidakpastian.

Lokasi rumahnya yang dekat dengan kawasan indekost karyawan juga menjadi keuntungan tersendiri. Pasar awal Salad Umma datang dari orang-orang yang membutuhkan makanan praktis dan sehat untuk konsumsi harian. Dari situ, produk salad sayur mulai dikenal secara perlahan. Permintaan yang masuk memberi keyakinan bahwa pasar untuk makanan sehat memang ada.

Kesempatan baru muncul ketika ia menerima pesanan salad buah untuk acara ulang tahun pada 2022. Dari pesanan itu, Hikma mulai memperluas variasi produk agar tidak bergantung pada satu jenis menu. Inovasi tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat daya saing usaha. Salad Umma kemudian bergerak dari jualan rumahan menuju usaha yang lebih siap menerima pesanan beragam.

Omzet Salad Umma Naik Turun

Meski pasar mulai terbentuk, perjalanan bisnis Salad Umma tidak selalu mulus. Hikma mengaku omzetnya kerap naik turun meski sudah membuka pesanan online dan mempromosikan produk melalui media sosial. Pada hari tertentu, pendapatannya hanya sekitar Rp 15 ribu. Di hari lain, omzet bisa meningkat menjadi Rp 100 ribu per hari.

Bahkan pada momen tertentu, ia sama sekali tidak mendapat pesanan. Situasi itu menunjukkan bahwa usaha kuliner rumahan tetap menghadapi tantangan besar, terutama dalam menjaga konsistensi permintaan. Hikma harus terus mencari cara agar usahanya tetap terlihat di tengah persaingan. Ketekunan menjadi modal utama ketika penjualan belum stabil.

Untuk menarik perhatian konsumen, ia terus menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar. Salad Umma dipasarkan sebagai makanan sehat yang praktis, cocok untuk pekerja dan pelanggan yang ingin makan lebih ringan. Strategi itu membuat produknya memiliki nilai jual yang lebih jelas. Perlahan, merek Salad Umma mulai mendapat tempat di kalangan pelanggan sekitar.

Perubahan berarti datang ketika produknya memperoleh sertifikasi halal. Selain itu, keikutsertaannya dalam kegiatan bazar Jakpreneur membuka akses jaringan yang lebih luas. Dari sana, ia mulai mendapatkan pesanan rutin untuk rapat kementerian dan pemerintah daerah. Omzet harian pun naik hingga bisa menyentuh Rp 1 juta per hari.

Naik Kelas Berkat Dukungan

Pertumbuhan Salad Umma tidak lepas dari dukungan berbagai program pembinaan usaha. Hikma memanfaatkan pelatihan, jejaring, dan kesempatan pasar yang terbuka melalui ekosistem pemberdayaan UMKM. Pendampingan tersebut membantu usahanya berkembang lebih terarah. Dalam proses itu, pembiayaan dari Kredit Usaha Rakyat atau KUR BRI juga menjadi penopang penting.

Akses pembiayaan membuat pelaku usaha kecil memiliki ruang lebih besar untuk mengembangkan bisnis. Modal dapat dipakai untuk memperkuat produksi, memperbaiki peralatan, dan menjaga ketersediaan bahan baku. Bagi Hikma, dukungan semacam ini menjadi pembeda antara usaha yang sekadar bertahan dan usaha yang benar-benar tumbuh. KUR memberi napas tambahan saat bisnis mulai menemukan pasar.

Perjalanan Hikma juga menegaskan pentingnya keberanian mencoba sektor baru ketika usaha lama terdampak krisis. Dari profesi make-up artist, ia beralih ke kuliner sehat yang lebih sederhana namun relevan dengan tren pasar. Perubahan arah itu semula tampak berisiko, tetapi justru menghasilkan peluang baru. Salad Umma kini menjadi simbol pemulihan yang dibangun dari pengalaman pahit.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa kebangkitan usaha tidak selalu dimulai dari modal besar. Ketika pelaku UMKM mendapat pelatihan, pembiayaan, dan pasar yang tepat, pertumbuhan bisnis bisa terjadi lebih cepat. Salad Umma menjadi contoh bahwa ketahanan, inovasi, dan dukungan ekosistem dapat membawa usaha rumahan naik kelas. Dari dapur kecil di rumah, bisnis ini kini berkembang menjadi usaha kuliner sehat yang semakin dikenal.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!