Ayana menegaskan dirinya tidak pernah menjadikan dunia hiburan sebagai fokus utama karier. Di tengah kesibukan sebagai pekerja kantoran dan akademisi, ia justru menempatkan pendidikan sebagai prioritas yang kini membawanya ke Universitas Oxford, Inggris.
Perempuan 30 tahun itu akan berangkat pada September mendatang untuk mengambil program S2 di bidang public policy. Ia juga menegaskan kesiapan finansial untuk menempuh studi tersebut, sembari tetap menjalani ritme kerja yang padat di Indonesia, Malaysia, dan Korea Selatan.
Fokus Ayana ke Oxford
Ayana menyebut dunia entertainment hanya sebagai selingan dalam hidupnya. Ia lebih nyaman dikenal sebagai pekerja kantoran yang tetap menjalankan tanggung jawab akademik.
Dalam keterangannya, Ayana menegaskan bahwa dirinya tidak terlalu terlibat dalam dunia hiburan. Ia memilih membagi energi pada pekerjaan utama dan rencana studi yang telah disiapkan jauh hari.
Ia merasa tidak perlu memusatkan perhatian pada industri hiburan karena sudah memiliki arah karier sendiri. Pilihan itu membuatnya lebih tenang dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Menurut Ayana, fokus pada pekerjaan dan pendidikan memberinya kepuasan tersendiri. Ia menilai keduanya lebih sesuai dengan tujuan jangka panjang yang ingin ia capai.
Rencana Studi di Inggris
Ayana dijadwalkan melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Oxford pada September mendatang. Program yang ia pilih adalah public policy, bidang yang sejalan dengan latar belakang pendidikan sarjananya.
Ketertarikannya pada kebijakan publik bukanlah keputusan mendadak. Ia sejak awal memiliki minat pada isu politik dan tata kelola, sehingga pilihan studinya terasa konsisten.
Keberangkatan ke Inggris menjadi langkah besar dalam perjalanan akademiknya. Ia menyiapkan diri untuk menghadapi lingkungan belajar yang lebih kompetitif dan menantang.
Meski demikian, Ayana terlihat menikmati proses menuju babak baru tersebut. Ia menganggap kesempatan belajar di kampus bergengsi sebagai pengalaman yang patut dijalani dengan serius.
Kemandirian Finansial Ayana
Saat disinggung soal biaya kuliah yang tinggi, Ayana merespons dengan tenang. Ia menegaskan bahwa dirinya sudah memiliki penghasilan sendiri dan tidak bergantung pada orang tua.
Ayana juga menolak anggapan bahwa dirinya masih membutuhkan perlakuan seperti anak sekolah. Baginya, usia 30 tahun adalah fase ketika seseorang harus bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
Ia bahkan menyampaikan secara terbuka bahwa dirinya sudah menyiapkan dana untuk kuliah. Sikap itu memperlihatkan keyakinan kuat pada kemandirian finansial yang ia bangun selama ini.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendidikan di luar negeri bukan beban yang membuatnya ragu. Sebaliknya, ia melihatnya sebagai investasi untuk masa depan yang lebih luas.
Ritme Hidup yang Seimbang
Di tengah kesibukan bekerja, Ayana tetap harus membagi waktu antara tiga negara. Indonesia, Malaysia, dan Korea Selatan menjadi bagian dari ritme hidup yang kini ia jalani.
Ia mengaku menikmati dinamika tersebut karena memberi kesempatan untuk terus bergerak dan bertemu banyak orang. Baginya, interaksi dengan teman dan lingkungan baru menjadi sumber kebahagiaan.
Meski jadwalnya padat, Ayana tidak menunjukkan kekhawatiran berlebihan. Ia memilih menjalani semuanya dengan disiplin agar pekerjaan dan kuliah tetap seimbang.
Fokus utamanya kini adalah menuntaskan studi S2 di Oxford dengan hasil terbaik. Ia hanya ingin memastikan kondisi kesehatannya tetap terjaga agar seluruh target dapat dicapai secara maksimal.
