ASSI Soroti Peluang Besar Teknologi Direct to Device

Teknologi Moh. Royhan Nahado 22 Mei 2026 15:57 WIB 5
ASSI Soroti Peluang Besar Teknologi Direct to Device

Teknologi direct-to-device atau D2D mulai menarik perhatian global karena berpotensi membuat ponsel dan sensor terhubung langsung ke satelit tanpa infrastruktur tambahan. Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) menilai perkembangan ini sebagai peluang besar bagi industri nasional, namun juga membawa tantangan serius pada aspek regulasi dan kedaulatan data.

Ketua Umum ASSI Rusdianto Yuli Hermansyah menjelaskan, D2D terbagi ke dalam dua model utama, yakni direct-to-cell untuk perangkat genggam dan direct IoT untuk sensor. Ia menyampaikan pandangan itu di Jakarta, Selasa (5/5/2026), saat memaparkan arah perkembangan teknologi satelit yang kian kompetitif.

Direct to Device Mengubah Arah

Teknologi Direct to Device memungkinkan ponsel terhubung langsung ke jaringan satelit tanpa bergantung pada menara pemancar atau BTS. Model ini dinilai dapat memperluas jangkauan layanan komunikasi di wilayah yang sulit dijangkau jaringan terestrial.

Di sisi lain, direct IoT membuka jalan bagi perangkat sensor untuk mengirim data ke satelit secara langsung. Skema tersebut dianggap lebih efisien karena data tidak lagi harus melalui pengumpul data sebelum diteruskan ke jaringan satelit.

Rusdianto menjelaskan bahwa perubahan ini berpotensi besar untuk sektor maritim, industri, hingga pemantauan wilayah terpencil. Dengan koneksi real-time, pengiriman data dapat berlangsung lebih cepat dan lebih andal.

ASSI melihat perkembangan itu sebagai lompatan teknologi yang tidak bisa diabaikan. Namun, adopsinya di Indonesia tetap membutuhkan kesiapan ekosistem yang matang.

PNT Jadi Kebutuhan Baru

Selain konektivitas, kebutuhan terhadap layanan Positioning, Navigation, and Timing atau PNT juga meningkat. Kondisi ini dipicu oleh tensi geopolitik global yang membuat banyak negara mencari sistem navigasi alternatif.

Rusdianto menilai persaingan di sektor satelit kini tidak lagi terbatas pada internet dan komunikasi. Menurutnya, setiap negara ingin memiliki sistem navigasi sendiri agar tidak sepenuhnya bergantung pada GPS.

Situasi tersebut membuat PNT menjadi bagian penting dalam strategi teknologi satelit modern. Indonesia, kata dia, perlu membaca perubahan ini sebagai peluang untuk memperkuat kemampuan nasional.

ASSI menilai pengembangan PNT juga berkaitan erat dengan ketahanan digital. Jika dikelola dengan baik, layanan ini dapat mendukung kebutuhan pertahanan, transportasi, dan industri strategis.

Regulasi Masih Dikaji

Meski potensinya besar, implementasi D2D di Indonesia masih menunggu kejelasan regulasi. Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi saat ini tengah mengkaji model operasional dan penggunaan spektrum frekuensi.

Saat ini, layanan D2D dimungkinkan menggunakan spektrum Mobile Satellite Service atau MSS. Namun, kapasitas bandwidth yang tersedia masih terbatas untuk mendukung layanan yang lebih luas.

Di tingkat global, International Telecommunication Union atau ITU juga masih membahas tambahan alokasi frekuensi. Pembahasan itu diperkirakan baru berdampak pada akhir 2027 atau awal 2028.

ASSI menilai kepastian regulasi menjadi kunci sebelum teknologi ini diimplementasikan secara komersial. Tanpa aturan yang jelas, pelaku industri akan kesulitan menyiapkan investasi dan model bisnis.

Kedaulatan Data Menjadi Sorotan

ASSI menekankan bahwa adopsi D2D tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal kedaulatan. Menurut Rusdianto, idealnya seluruh infrastruktur satelit dikendalikan oleh entitas dalam negeri.

Ia mengakui bahwa target tersebut memerlukan waktu, investasi besar, dan kesiapan industri nasional. Karena itu, tahap awal yang dinilai paling realistis adalah memastikan data layanan tetap berada di Indonesia.

Minimal datanya harus tetap landing di Indonesia, karena ini menyangkut data konsumen dan kedaulatan digital. Pernyataan itu menegaskan pentingnya perlindungan data dalam ekosistem satelit baru.

Di tengah keterlibatan pihak asing dalam pengembangan infrastruktur, ASSI mendorong pemerintah menjaga kendali atas arus data. Langkah itu dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemilik kepentingan strategis.

Persaingan Satelit Kian Ketat

Perkembangan D2D juga berlangsung dalam situasi persaingan global yang semakin intens. Selain Starlink, sejumlah pemain seperti Amazon dan perusahaan asal China tengah membangun konstelasi satelit LEO dalam jumlah besar.

Persaingan itu membuat industri satelit bergerak cepat menuju layanan yang lebih terintegrasi. Negara yang lambat beradaptasi berisiko tertinggal dalam memanfaatkan peluang ekonomi digital berbasis ruang angkasa.

ASSI menilai masa depan industri satelit Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh kecepatan adaptasi terhadap teknologi baru. Pemerintah pun didorong untuk lebih sigap membaca arah perkembangan global.

Dengan dukungan regulasi, investasi, dan perlindungan data yang memadai, D2D berpotensi menjadi infrastruktur penting di masa depan. Bagi Indonesia, momentum ini dapat menjadi pintu masuk menuju ekosistem satelit yang lebih mandiri dan kompetitif.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!