ASSI Soroti Kedaulatan Satelit di Tengah Serbuan LEO

Teknologi BRH 27 Mei 2026 20:17 WIB 2
ASSI Soroti Kedaulatan Satelit di Tengah Serbuan LEO

Industri satelit Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tumbuh, seiring kebutuhan konektivitas di wilayah kepulauan dan meningkatnya pasar Asia Pasifik. Namun, peluang itu juga diiringi tantangan dari masuknya pemain global dengan teknologi lebih maju, termasuk layanan satelit orbit rendah atau LEO. Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting, yaitu bagaimana Indonesia menjaga kedaulatan satelit di tengah persaingan yang semakin ketat.

Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) menilai perkembangan teknologi global tidak dapat dihindari, tetapi harus direspons dengan kebijakan yang tepat. Ketua Umum ASSI, Rusdianto Yuli Hermansyah, menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi layanan asing. Ia menilai kontrol atas data, spektrum frekuensi, dan infrastruktur harus tetap berada dalam kendali nasional.

Kedaulatan Satelit Jadi Sorotan

Masuknya layanan satelit LEO membawa perubahan besar bagi industri telekomunikasi. Teknologi ini menawarkan konektivitas yang cepat, latensi rendah, dan instalasi yang lebih mudah bagi pengguna akhir. Keunggulan tersebut membuat ekspektasi pasar ikut bergeser.

Bagi pemain domestik, perubahan ini bukan sekadar soal persaingan layanan. Operator yang selama ini mengandalkan satelit orbit geostasioner atau GEO harus menyesuaikan strategi agar tetap relevan. Jika tidak, pangsa pasar mereka berpotensi tergerus oleh pemain global.

ASSI menilai Indonesia perlu menempatkan kedaulatan satelit sebagai isu strategis. Hal ini penting karena infrastruktur satelit tidak hanya melayani komunikasi, tetapi juga menyangkut kepentingan ekonomi dan keamanan data. Dalam konteks ini, regulasi yang kuat menjadi kebutuhan utama.

Risiko Data Melintas Batas

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah aliran data yang berpotensi keluar dari yurisdiksi nasional. Layanan satelit global dapat beroperasi tanpa bergantung pada infrastruktur dalam negeri. Situasi ini menimbulkan risiko terhadap kontrol data strategis Indonesia.

Selain data, spektrum frekuensi dan slot orbit juga menjadi sumber daya yang diperebutkan secara global. Negara atau operator yang lebih dulu mengamankan sumber daya tersebut akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Keunggulan itu sulit dikejar oleh pemain yang datang belakangan.

Karena itu, ASSI mendorong agar seluruh data dari layanan satelit, termasuk yang terhubung dengan jaringan seluler, tetap landing di Indonesia. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kedaulatan digital. Tanpa pengaturan yang tegas, Indonesia berisiko kehilangan kendali atas arus data yang lewat di wilayahnya.

Penguatan Ekosistem Nasional

Untuk mengurangi ketergantungan pada pemain global, penguatan kapasitas nasional menjadi agenda yang mendesak. Indonesia telah memiliki fondasi awal melalui riset yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional. Di sisi lain, sejumlah operator domestik juga sudah menjalankan layanan satelit.

Namun, kemampuan end-to-end dari pembangunan hingga peluncuran satelit masih perlu ditingkatkan. ASSI menilai rencana pembangunan fasilitas peluncuran di dalam negeri dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang. Dengan begitu, rantai industri satelit nasional bisa berkembang lebih mandiri.

Penguatan ekosistem juga membutuhkan koordinasi antar-pemangku kepentingan. Tanpa orkestrasi nasional, benturan frekuensi dan orbit antaroperator dapat terjadi. Kondisi tersebut justru berpotensi merugikan industri dalam negeri.

Menuju Kebijakan Yang Seimbang

ASSI berharap pemerintah menyiapkan kebijakan yang adil bagi operator lokal dan global. Kesetaraan perlakuan diperlukan, baik dari sisi biaya spektrum maupun kewajiban operasional. Dengan begitu, persaingan dapat berlangsung sehat tanpa mematikan pelaku nasional.

Isu ini menjadi semakin penting seiring tren integrasi jaringan terestrial dan non-terestrial atau NTN menuju era 6G. Dalam ekosistem tersebut, satelit akan berperan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari telekomunikasi nasional. Artinya, regulasi yang disusun hari ini akan menentukan posisi Indonesia di masa depan.

Rusdianto menegaskan bahwa momentum saat ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem nasional. Ia mengingatkan bahwa tanpa langkah strategis, Indonesia bisa tertinggal di rumah sendiri. Pesan itu sekaligus menjadi dorongan agar industri satelit nasional tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh dengan kendali yang lebih kuat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!