ASSI Ingatkan Kedaulatan Industri Satelit di Tengah Gempuran LEO

Teknologi BRH 24 Mei 2026 20:03 WIB 8
ASSI Ingatkan Kedaulatan Industri Satelit di Tengah Gempuran LEO

Industri satelit Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tumbuh, seiring kebutuhan konektivitas di wilayah kepulauan dan pasar Asia Pasifik yang terus meluas. Namun, peluang itu kini dihadapkan pada persaingan ketat dari pemain global seperti Starlink dan operator asing lain yang menawarkan teknologi lebih maju. Tantangan tersebut membuat isu kedaulatan data, spektrum frekuensi, dan infrastruktur satelit nasional semakin mendesak dibahas.

Layanan berbasis satelit orbit rendah atau low earth orbit, menawarkan kecepatan tinggi, latensi rendah, dan instalasi yang lebih mudah bagi pengguna akhir. Model bisnis ini bukan hanya mengubah ekspektasi pasar, tetapi juga berpotensi menggeser posisi operator domestik yang selama ini bertumpu pada satelit orbit geostasioner. Asosiasi Satelit Indonesia menilai Indonesia perlu merespons perubahan ini dengan strategi yang tepat, agar tidak sekadar menjadi pasar.

Tantangan Satelit LEO

Kehadiran satelit LEO membawa efisiensi layanan yang menarik bagi pelanggan, terutama di daerah yang sulit dijangkau jaringan terestrial. Teknologi ini juga memberi pengalaman konektivitas yang lebih cepat, sehingga langsung menyasar kebutuhan pengguna akhir. Di sisi lain, daya saing operator lokal menjadi lebih berat karena harus berhadapan dengan pemain global yang memiliki modal dan teknologi lebih besar.

Persaingan itu tidak hanya terjadi pada layanan, tetapi juga pada penguasaan sumber daya strategis. Operator yang lebih dulu mengamankan orbit dan spektrum frekuensi akan memperoleh keunggulan yang sulit dikejar. Kondisi ini membuat Indonesia perlu memperkuat posisi tawar agar kepentingan nasional tetap terjaga.

Ketua Umum ASSI, Rusdianto Yuli Hermansyah, menegaskan bahwa perkembangan teknologi global tidak mungkin dihentikan. Meski begitu, Indonesia tetap harus memiliki kontrol atas data dan infrastruktur yang beroperasi di wilayahnya. Menurut dia, potensi industri satelit nasional besar, tetapi negara tidak boleh hanya menjadi konsumen layanan.

Kedaulatan Data Satelit

Salah satu perhatian utama industri adalah potensi aliran data keluar dari yurisdiksi nasional. Layanan satelit global memungkinkan konektivitas tanpa bergantung penuh pada infrastruktur dalam negeri. Situasi ini memunculkan risiko terhadap pengawasan data strategis yang seharusnya berada dalam kendali Indonesia.

ASSI mendorong agar seluruh data dari layanan satelit, termasuk yang terintegrasi dengan jaringan seluler, tetap landing di Indonesia. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kedaulatan digital dan memperkuat perlindungan terhadap informasi strategis. Dengan begitu, pemanfaatan teknologi global tetap dapat berjalan tanpa mengurangi kontrol nasional.

Selain itu, pengaturan yang ketat juga dibutuhkan untuk memastikan kepatuhan operator asing. Pemerintah perlu menata mekanisme operasi agar kepentingan nasional tidak tergeser oleh model bisnis lintas negara. Tanpa aturan yang jelas, Indonesia berisiko kehilangan kendali atas infrastruktur komunikasi yang melintasi wilayahnya.

Spektrum Satelit Nasional

Perebutan spektrum frekuensi dan slot orbit di tingkat global menjadi tantangan lain yang tidak kalah serius. Negara atau operator yang lebih cepat mengamankan sumber daya tersebut akan berada pada posisi yang lebih unggul. Karena itu, koordinasi nasional menjadi kebutuhan mendesak bagi industri satelit Indonesia.

ASSI menilai perlu ada orkestrasi nasional dalam pengembangan konstelasi satelit. Tanpa koordinasi yang baik, benturan frekuensi dan orbit antaroperator dapat terjadi. Kondisi itu bukan hanya mengganggu layanan, tetapi juga berpotensi merugikan industri dalam negeri.

Pemerintah juga didorong menerapkan kebijakan yang adil antara operator lokal dan global. Kesetaraan aturan perlu terlihat dari biaya spektrum hingga kewajiban operasional yang harus dipenuhi semua pemain. Dengan level playing field yang jelas, industri nasional memiliki ruang tumbuh yang lebih sehat dan kompetitif.

Satelit dan Ekosistem 6G

Di tengah tren integrasi jaringan terestrial dan non-terestrial menuju era 6G, satelit akan menjadi bagian penting dari ekosistem telekomunikasi nasional. Peran satelit tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan infrastruktur strategis. Karena itu, isu kedaulatan harus ditempatkan sebagai bagian dari kebijakan jangka panjang.

Indonesia disebut telah memiliki fondasi awal melalui riset Badan Riset dan Inovasi Nasional serta operasional satelit oleh operator domestik. Namun, kemampuan end-to-end dari pembangunan hingga peluncuran satelit masih perlu ditingkatkan. Rencana pembangunan fasilitas peluncuran di dalam negeri juga dinilai penting untuk memperkuat rantai pasok nasional.

ASSI berharap pemerintah memberi perhatian lebih pada penguatan kapasitas nasional agar ketergantungan terhadap pemain global dapat dikurangi. Rusdianto menilai momentum saat ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem satelit dalam negeri. Jika tidak, Indonesia berisiko tertinggal di wilayahnya sendiri saat era konektivitas baru semakin dekat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!