ASSI: D2D Jadi Peluang Besar Industri Satelit Indonesia

Teknologi BRH 24 Mei 2026 07:29 WIB 5
ASSI: D2D Jadi Peluang Besar Industri Satelit Indonesia

Teknologi direct-to-device atau D2D mulai menjadi sorotan global karena dinilai mampu menghubungkan perangkat langsung ke satelit tanpa infrastruktur tambahan. Asosiasi Satelit Indonesia menilai peluang ini besar bagi industri nasional, tetapi implementasinya masih dibayangi tantangan regulasi dan kedaulatan data.

Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia, Rusdianto Yuli Hermansyah, menjelaskan D2D memiliki dua model utama, yakni direct-to-cell untuk ponsel dan direct IoT untuk sensor. Teknologi ini disebut berpotensi memperluas konektivitas, mulai dari layanan komunikasi hingga pengiriman data real-time di berbagai sektor.

D2D dan Peluang Industri

Rusdianto mengatakan D2D dapat membuka pasar baru bagi industri satelit nasional. Teknologi ini memungkinkan ponsel terhubung langsung ke jaringan satelit tanpa perlu menunggu pembangunan BTS di seluruh wilayah.

Di sisi lain, perangkat sensor di sektor maritim, industri, dan logistik juga dapat mengirim data langsung ke satelit. Skema ini dinilai lebih efisien karena proses pengumpulan data menjadi lebih cepat dan terintegrasi.

ASSI menilai pemanfaatan D2D dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat ekosistem antariksa. Namun, manfaat tersebut hanya dapat diraih jika dukungan regulasi dan investasi berjalan seiring.

Regulasi Masih Jadi Kendala

Implementasi D2D di Indonesia masih menunggu kejelasan dari pemerintah. Kementerian Komunikasi dan Digital disebut tengah mengkaji model operasional, penggunaan spektrum, dan skema bisnis yang paling sesuai.

Saat ini, layanan D2D memungkinkan pemanfaatan spektrum Mobile Satellite Service atau MSS. Meski demikian, kapasitas bandwidth yang tersedia masih terbatas untuk mendukung layanan skala luas.

Di tingkat global, International Telecommunication Union masih membahas penambahan alokasi frekuensi untuk kebutuhan D2D. Proses itu diperkirakan belum akan selesai dalam waktu dekat, bahkan baru berpeluang terealisasi pada akhir 2027 atau awal 2028.

Peta Teknologi Satelit Baru

Dalam perkembangannya, D2D dikenal memiliki dua pendekatan utama, yakni model transparan dan model regeneratif. Model transparan memanfaatkan jaringan seluler yang sudah ada, sedangkan model regeneratif menjadikan satelit berfungsi seperti operator seluler dengan jaringan inti sendiri.

Di Indonesia, pemerintah dan pelaku industri masih menimbang model mana yang paling tepat diterapkan. Menurut Rusdianto, skema yang paling mungkin adalah model transparan, di mana satelit menjadi perpanjangan dari BTS.

Pilihan tersebut dinilai lebih realistis untuk tahap awal karena bisa memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada. Meski begitu, keputusan akhir tetap bergantung pada arah kebijakan nasional dan kesiapan industri.

Kedaulatan Data Tetap Penting

ASSI menekankan bahwa peluang bisnis D2D harus diikuti dengan perlindungan kedaulatan digital. Idealnya, seluruh infrastruktur satelit dikendalikan oleh entitas dalam negeri agar kepentingan nasional tetap terjaga.

Namun, pembangunan infrastruktur mandiri membutuhkan waktu panjang dan investasi besar. Karena itu, ASSI mendorong agar data layanan D2D tetap berakhir di Indonesia meski sebagian infrastruktur melibatkan pihak asing.

Rusdianto menegaskan bahwa data konsumen tidak boleh lepas dari pengawasan nasional. Menurutnya, hal itu penting untuk menjaga keamanan informasi sekaligus memastikan kedaulatan data tetap berada di tangan Indonesia.

Persaingan global di sektor satelit juga semakin ketat dengan hadirnya pemain besar seperti Starlink, Amazon, dan perusahaan asal China. Kondisi ini membuat Indonesia perlu bergerak cepat agar tidak tertinggal dalam adopsi teknologi direct to device.

Kecepatan adaptasi pemerintah dan industri akan menentukan posisi Indonesia dalam peta persaingan satelit dunia. Jika dikelola dengan tepat, D2D bukan hanya menjadi solusi konektivitas, tetapi juga peluang strategis bagi kemandirian teknologi nasional.

ASSI menilai masa depan industri satelit Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh kesiapan menghadapi perubahan tersebut. Karena itu, penguatan regulasi, perlindungan data, dan investasi menjadi kunci agar teknologi baru ini memberi manfaat maksimal.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!