Gen Z semakin rentan terhadap kecemasan di kalangan muda. Penelitian menunjukkan lonjakan anxiety di kalangan usia 18-26 tahun dengan insidensi serangan panik yang lebih sering. Di tengah tren tersebut, muncul solusi sederhana yang viral di media sosial: anxiety bag, tas kecil berisi alat bantu menenangkan saat cemas.
Menyikapi kebutuhan praktis saat serangan panik, para ahli menekankan bahwa teknik mindfulness dan terapi sering tidak cukup karena konteksnya bisa tidak relevan pada momen mendesak. Ahli neuroscience Dr. Kyra Bobinet menyarankan alat bantu regulasi diri yang bisa diakses dengan cepat. Artikel ini mengulas bagaimana anxiety bag bekerja dan bagaimana penggunaannya dapat membantu grounding.
Apa itu Anxiety Bag
Anxiety bag, atau panic pouch, adalah tas kecil berisi alat bantu untuk menenangkan diri saat cemas. Alatnya sederhana, seperti minyak esensial, permen asam, dan benda bertekstur. Tujuan utamanya adalah menghasilkan respons sensorik cepat untuk meredakan ketegangan.
Tren ini semakin populer di kalangan Gen Z, khususnya perempuan. Hasil survei terhadap hampir seribu responden berusia 18-26 tahun menunjukkan adanya gangguan kecemasan terdiagnosis serta serangan panik yang lebih sering terjadi. Alat di dalam tas dipilih untuk memicu grounding dan mengalihkan fokus.
Menurut Dr. Jenny Martin, intervensi sensorik cepat seperti memegang es, mengisap permen asam, atau mencium aroma kuat bisa menghentikan lonjakan sistem saraf. Ia menekankan bahwa alat seperti ini mengalihkan perhatian dari pikiran cemas ke sensasi tubuh saat ini. Isi tas perlu disesuaikan dengan pemicu masing-masing individu.
Isi Anxiety Bag
Stefany Staples, 24 tahun, mulai mengalami kecemasan dengan gejala fisik seperti jantung berdebar hingga beberapa kali harus ke rumah sakit. Dalam anxiety bag-nya, Stefany tidak hanya membawa obatnya, namun juga minyak esensial lavender untuk menenangkan, serta permen asam dengan rasa tajam untuk mengalihkan pikiran. Menurutnya, alat itu membantu dirinya tetap grounded ketika serangan datang.
Psikolog klinis Dr Jenny Martin mengatakan intervensi sensorik cepat seperti memegang es, mengisap permen asam, atau mencium aroma kuat bisa menghentikan lonjakan sistem saraf. Ia menekankan bahwa alat seperti ini mengalihkan perhatian dari pikiran cemas ke sensasi tubuh saat ini. Isi tas perlu disesuaikan dengan pemicu masing-masing individu.
MaryEllen Eller menjelaskan, jika kecemasan dipicu overstimulasi, headphone peredam suara dan musik menenangkan bisa membantu. Namun jika dipicu pikiran bagaimana jika, teknik grounding lebih efektif, misalnya mengunyah permen mint sambil fokus pada rasa dan teksturnya. Fidget atau benda bertekstur lain bisa memberi sensasi sentuhan yang kuat.
Panduan Praktis
Para ahli menyarankan mencoba berbagai metode saat kondisi tenang untuk menemukan yang paling cocok. Mereka menganjurkan eksperimen isi tas dan teknik grounding secara berkala. Dengan begitu, fungsi tas bisa optimal saat diperlukan.
Semakin otak mengasosiasikan isi tas dengan rasa aman dan tenang, semakin efektif saat dibutuhkan. Vinay Saranga, psikiater, menekankan bahwa tujuan jangka panjang adalah mengurangi ketergantungan terhadap alat tersebut. Pengguna perlu tetap belajar mengelola kecemasan tanpa bergantung pada tas itu.
Kunci utamanya adalah personalisasi isi tas sesuai kebutuhan individu. Konsistensi latihan grounding juga diperlukan untuk hasil yang berkelanjutan. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan dan belajar mengelola kecemasan tanpa tas.
