Anime Diuji Jadi Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Lifestyle Anindya Kirana Putri 28 Mei 2026 00:24 WIB 2
Anime Diuji Jadi Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Anime di Jepang kini diuji bukan hanya sebagai hiburan, melainkan juga sebagai sarana membantu kesehatan mental. Gagasan ini digagas psikiater asal Italia, Francesco Panto, melalui riset di Yokohama City University. Penelitian tersebut menyoroti potensi konseling berbasis karakter anime untuk membantu remaja dan dewasa muda yang mengalami depresi. Pendekatan ini dipandang relevan di tengah tingginya stigma terhadap pencarian bantuan psikologis di Jepang.

Dalam studi percontohan selama enam bulan yang selesai pada Maret 2026, tim peneliti melibatkan 20 responden berusia 18 hingga 29 tahun. Para peserta yang menunjukkan gejala depresi mendapat sesi konseling daring dari psikolog yang tampil sebagai avatar anime dengan suara digital yang dimodifikasi. Metode ini dirancang agar peserta merasa lebih nyaman saat membahas persoalan emosional yang mereka hadapi. Peneliti juga memantau detak jantung dan pola tidur untuk menilai kelayakan terapi tersebut.

Anime dan kesehatan mental

Francesco mengatakan gagasan ini berakar dari pengalaman pribadinya saat tumbuh di pedesaan Sisilia, Italia. Saat remaja, ia merasa anime dan manga menjadi tempat berlindung ketika kesulitan menemukan jati diri. Ia menyebut kedua medium itu sebagai alat dukungan emosional yang sangat penting dalam masa pertumbuhannya. Pengalaman tersebut kemudian membentuk ketertarikannya pada pendekatan terapi yang memanfaatkan karakter fiksi.

Ia juga mengingat pengaruh video game Final Fantasy yang dikenalnya ketika berusia sekitar 12 atau 13 tahun. Menurutnya, karakter protagonis pria dalam game itu terasa dekat karena tampil maskulin dan keren dengan caranya sendiri. Pengalaman itu membantunya memahami bahwa figur fiksi dapat menjadi jembatan emosional yang kuat. Dari sanalah muncul ide untuk mengkaji peran karakter anime dalam konseling psikologis.

Dalam penelitian ini, Francesco dan timnya mengembangkan konsep character-based counselling atau konseling berbasis karakter. Peserta diberi kebebasan memilih avatar yang paling terasa cocok dengan diri mereka. Para psikolog kemudian menyampaikan sesi lewat karakter anime yang sudah disesuaikan secara visual dan vokal. Menurut Francesco, filter fantasi tersebut dapat membantu orang lebih terbuka terhadap persoalan mental yang dialami.

Tim peneliti membuat enam karakter khusus untuk studi tersebut, dengan latar dan kepribadian yang beragam. Ada figur keibuan yang tenang tetapi membawa senjata, hingga sosok pria bergaya pangeran berjubah dengan sisi emosional yang kuat. Seluruh karakter terinspirasi dari arketipe khas manga Jepang agar terasa akrab bagi peserta. Setiap tokoh tetap dirancang menarik meski membawa tema masalah psikologis yang spesifik.

Karakter anime dalam terapi

Francesco menjelaskan bahwa masing-masing karakter diberi perjuangan mental yang berbeda. Salah satunya adalah Kuroto Nagi, yang digambarkan memiliki ciri-ciri bipolar. Karakter lain mengalami gangguan kecemasan, PTSD, hingga masalah terkait konsumsi alkohol. Namun, seluruh tokoh tetap dibuat menyenangkan agar tidak terasa mengintimidasi.

Psikolog yang terlibat memperkenalkan kisah tiap karakter pada awal sesi agar peserta memahami konteksnya. Meski demikian, peneliti diminta agar penjelasan soal gangguan mental tidak dibuat terlalu gamblang. Pendekatan ini dipilih untuk menjaga keseimbangan antara kedekatan emosional dan kenyamanan peserta. Dengan cara itu, terapi diharapkan tetap terasa ringan tanpa kehilangan unsur klinisnya.

Menurut Francesco, karakter anime dapat menciptakan ruang aman bagi peserta untuk berbicara lebih jujur. Ia menilai sebagian orang akan lebih mudah membuka diri ketika berinteraksi melalui figur fiksi dibandingkan langsung dengan konselor manusia. Strategi ini juga diharapkan dapat menurunkan hambatan psikologis yang sering muncul saat sesi konseling. Hasil awal penelitian akan menjadi dasar untuk melihat apakah metode ini efektif mengurangi gejala depresi.

Selain itu, penggunaan avatar anime dinilai dapat membuat proses terapi terasa lebih personal dan tidak kaku. Peserta tidak hanya mendengar nasihat, tetapi juga berinteraksi dengan sosok yang mereka anggap relevan secara emosional. Dalam konteks kesehatan mental, rasa nyaman menjadi faktor penting agar seseorang mau melanjutkan perawatan. Karena itu, pendekatan ini dianggap menawarkan jalur baru dalam layanan psikologis berbasis digital.

Respons Jepang terhadap ikizurasa

Penelitian ini juga berkaitan dengan upaya Jepang menghadapi tantangan kesehatan mental yang lebih luas. Salah satu istilah yang menjadi sorotan adalah ikizurasa, yakni perasaan sulit menjalani hidup dan bertahan di tengah tekanan sosial. Fenomena itu kerap dialami anak muda yang kesulitan bersekolah atau mempertahankan pekerjaan. Karena itu, solusi baru dianggap mendesak untuk menjangkau kelompok yang belum tersentuh layanan formal.

Mio Ishii, asisten profesor yang ikut memimpin proyek ini, menyebut banyak anak muda di Jepang berada dalam kondisi rentan. Menurutnya, sebagian dari mereka tidak mampu kembali ke sekolah atau mempertahankan rutinitas kerja. Ia menegaskan tujuan riset adalah memberi pilihan baru bagi mereka untuk pulih dari kesulitan yang dialami. Pendekatan berbasis karakter anime dipandang sebagai salah satu alternatif yang layak diuji.

Ishii juga menyoroti masih kuatnya stigma terhadap pencarian bantuan kesehatan mental di Jepang. Data World Economic Forum yang dikutip dalam penelitian menunjukkan, hingga 2022 hanya sekitar 6 persen masyarakat Jepang pernah menggunakan layanan konseling psikologis. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara di Eropa maupun Amerika Serikat. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya inovasi agar layanan kesehatan mental lebih mudah diterima publik.

Dengan latar itu, riset konseling berbasis karakter anime mendapat perhatian karena menawarkan pendekatan yang berbeda dari terapi konvensional. Jika terbukti efektif, metode ini dapat menjadi pintu masuk bagi mereka yang selama ini enggan mencari bantuan. Para peneliti berharap teknologi, budaya populer, dan psikologi dapat bertemu dalam satu model layanan yang lebih ramah. Di tengah krisis kesehatan mental, Jepang kini mencoba menjawab masalah lama dengan cara yang tidak biasa.

Stigma dan peluang baru

Minat terhadap pendekatan ini menunjukkan bahwa budaya populer dapat memiliki fungsi sosial yang lebih luas. Anime tidak lagi dipandang semata sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium yang mampu membangun kedekatan emosional. Bagi sebagian orang, karakter fiksi bisa menjadi representasi pengalaman pribadi yang sulit diungkapkan secara langsung. Di titik inilah terapi berbasis karakter menemukan relevansinya.

Namun, para peneliti tetap menempatkan aspek ilmiah sebagai ukuran utama keberhasilan. Pemantauan detak jantung dan pola tidur dilakukan untuk melihat apakah metode ini benar-benar memberi dampak terukur. Tahap awal riset menjadi penting untuk membedakan antara daya tarik visual dan manfaat terapeutik yang sesungguhnya. Hasilnya akan menentukan apakah pendekatan ini layak dikembangkan lebih jauh.

Di sisi lain, proyek ini menunjukkan bahwa upaya menangani kesehatan mental harus disesuaikan dengan konteks sosial setempat. Jepang memiliki tantangan khusus terkait stigma, tekanan kerja, dan rasa keterasingan yang kuat. Karena itu, solusi yang terasa akrab bagi generasi muda berpeluang lebih efektif diterima. Anime, dalam konteks ini, menjadi pintu masuk yang strategis.

Jika riset ini berhasil, konseling berbasis karakter anime dapat membuka jalan bagi model layanan psikologis yang lebih inklusif. Inovasi tersebut berpotensi menjangkau kelompok yang selama ini ragu datang ke psikolog. Meski masih dalam tahap awal, pendekatan ini memperlihatkan bagaimana budaya populer dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kesehatan. Jepang kini tengah menguji apakah dunia imajinasi bisa membantu memulihkan realitas yang berat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!