Anime Diteliti sebagai Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Lifestyle Clara Monica 25 Mei 2026 21:36 WIB 2
Anime Diteliti sebagai Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Anime yang selama ini identik sebagai hiburan, kini mulai dilihat dari sudut pandang yang lebih serius di Jepang. Sejumlah peneliti menilai tontonan ini berpotensi membantu menghadapi stres, burnout, hingga depresi. Gagasan tersebut datang dari Francesco Panto, psikiater asal Italia yang lama tinggal di Jepang.

Francesco mengaku pengalaman pribadinya ikut membentuk minat riset itu. Saat remaja di pedesaan Sisilia, ia menjadikan manga dan anime sebagai tempat berlindung ketika kesulitan menemukan jati diri. Dari pengalaman tersebut, ia kemudian mengembangkan kajian mengenai terapi berbasis karakter anime.

Anime dan kesehatan mental

Francesco menjelaskan bahwa anime dan manga memberinya dukungan emosional pada masa remaja. Ia tumbuh di lingkungan yang dipenuhi stereotip kuat soal gender dan cara mengekspresikan diri. Situasi itu membuat tokoh-tokoh fiksi terasa lebih aman untuk dijadikan ruang refleksi.

Perubahan besar terjadi ketika ia mengenal video game Final Fantasy pada usia sekitar 12 atau 13 tahun. Karakter protagonis laki-lakinya dirasakan dekat dengan pengalaman pribadi yang ia alami. Menurutnya, sosok itu tetap maskulin, tetapi hadir dengan cara yang berbeda dan lebih manusiawi.

Pengalaman tersebut mendorong Francesco melakukan penelitian eksperimental di Jepang. Studi percontohan di Yokohama City University berlangsung selama enam bulan dan selesai pada Maret 2026. Penelitian itu menjadi dasar untuk menilai apakah pendekatan berbasis karakter dapat membantu kesehatan mental.

Terapi berbasis karakter anime

Proyek itu diberi nama character-based counselling atau konseling berbasis karakter. Dalam studi ini, tim merekrut 20 responden berusia 18 hingga 29 tahun yang mengalami gejala depresi. Alih-alih konseling konvensional, mereka menerima sesi online dari psikolog yang tampil sebagai avatar anime dengan suara digital yang dimodifikasi.

Francesco menilai penggunaan karakter anime bisa menciptakan filter fantasi yang membuat peserta lebih nyaman. Menurut dia, pendekatan ini juga dapat membantu orang mengenali masalah mental yang sedang dihadapi. Tim peneliti berharap data awal dapat mengonfirmasi dugaan tersebut.

Untuk mendukung studi, tim menciptakan enam karakter dengan kepribadian berbeda. Ada figur berwibawa yang tenang namun membawa senjata, hingga pria bak pangeran berjubah yang sangat peka secara emosional. Setiap karakter terinspirasi dari arketipe khas manga Jepang dan dipilih bebas oleh peserta.

Karakter anime dan depresi

Francesco menyebut setiap karakter sengaja diberi perjuangan mental yang spesifik. Salah satunya adalah Kuroto Nagi, tokoh yang digambarkan memiliki ciri-ciri bipolar. Karakter lain dibuat dengan latar gangguan kecemasan, trauma pascakejadian traumatis, hingga masalah konsumsi alkohol.

Meski mengangkat isu kesehatan mental, tim tetap menjaga agar karakter terasa menyenangkan dan menarik. Psikolog memperkenalkan kisah masing-masing tokoh di awal sesi, tetapi tidak membuat masalah mental mereka terlalu gamblang. Pendekatan ini dilakukan agar peserta tetap merasa terhubung tanpa terbebani.

Tahap awal penelitian juga memantau detak jantung dan pola tidur peserta. Pemantauan itu dilakukan untuk melihat apakah terapi bergaya anime benar-benar layak diterapkan dan mampu mengurangi gejala depresi. Hasilnya diharapkan memberi landasan ilmiah bagi metode konseling baru.

Stigma kesehatan mental Jepang

Penelitian ini muncul di tengah upaya Jepang mencari solusi atas tantangan kesehatan mental di masyarakat. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah ikizurasa, istilah bagi orang-orang yang merasa sulit menjalani hidup dan bertahan dalam masyarakat. Fenomena itu menunjukkan kebutuhan akan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda.

Mio Ishii, asisten profesor yang ikut memimpin proyek, menilai banyak anak muda kesulitan pergi ke sekolah atau mempertahankan pekerjaan. Karena itu, menurut dia, penting untuk menyediakan pilihan baru yang dapat membantu mereka pulih. Riset berbasis anime dipandang sebagai salah satu alternatif yang patut diuji.

Mio juga menyoroti stigma yang masih kuat terhadap pencarian bantuan kesehatan mental di Jepang. Data yang dikutip World Economic Forum menunjukkan, hingga 2022 hanya sekitar 6 persen masyarakat Jepang pernah menggunakan layanan konseling psikologis untuk masalah kesehatan mental. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!