Aisah, mantan karyawan pabrik, memulai usaha hanya untuk menambah penghasilan dari pekerjaan sampingan. Dari jualan kecil-kecilan, ia justru berhasil membangun bisnis jajanan jadul khas Betawi yang kini menghasilkan omzet jutaan rupiah setiap bulan. Usaha itu dikenal dengan nama Betawi Punya Gaye atau BPG, yang dirintis sejak 2020. Perjalanan tersebut berawal dari keberanian Aisah membaca peluang di tengah tekanan ekonomi dan perubahan pasar.
Berawal pada 2018 saat masih bekerja di pabrik spidol, Aisah memilih menjual keripik pedas kepada rekan kerja dan menitipkan dagangan di warung sekitar. Saat itu, pendapatannya sempat mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan. Namun, usaha tersebut kemudian tersendat ketika banyak warung tutup dan penjualan merosot selama pandemi COVID-19. Alih-alih menyerah, ia mengambil keputusan besar untuk beralih ke jajanan tradisional Betawi dan fokus membangun merek sendiri.
Awal Dari Pabrik
Aisah memulai langkah usaha ketika masih menjadi karyawan pabrik. Ia melihat penjualan camilan sebagai cara paling cepat untuk menambah pemasukan keluarga. Produk pertama yang ia tawarkan adalah keripik pedas, yang dibawa langsung ke lingkungan kerja. Dari situ, ia mulai mengenali minat pasar dan pola belanja konsumen di sekitarnya.
Dengan cara sederhana, ia menawarkan dagangan kepada teman kerja dan menitipkannya di warung. Strategi tersebut sempat memberi hasil yang cukup baik pada masa awal. Dalam satu bulan, ia bisa mengantongi pendapatan tambahan hingga Rp2 juta. Pengalaman itu menjadi modal penting untuk mengembangkan usaha berikutnya.
Situasi berubah saat pandemi membuat penjualan menurun tajam. Banyak warung yang menjadi tempat titip jual ikut tutup, sehingga distribusi produk terganggu. Kondisi itu memaksa Aisah meninjau ulang arah usahanya. Dari kegagalan tersebut, ia belajar bahwa bisnis kecil harus adaptif agar tetap bertahan.
Pilih Cita Rasa Betawi
Setelah usahanya mandek, Aisah memutuskan mengganti arah bisnis dengan menjual aneka jajanan khas Betawi. Pilihan itu lahir dari keinginannya menghadirkan produk yang lebih kuat identitasnya. Ia kemudian memproduksi kembang goyang, biji ketapang, hingga kacang bawang. Menu tersebut dipilih karena dekat dengan budaya kuliner Jakarta dan punya pasar yang stabil.
Peralihan produk menjadi titik balik bagi usaha yang ia bangun. Aisah menekuni proses produksi secara lebih serius, bukan lagi sekadar dagangan sampingan. Ia mempelajari kembali resep-resep tradisional secara mandiri sampai mendapatkan rasa yang sesuai. Dari proses itu, kualitas produk mulai terbentuk dan lebih konsisten.
Aisah mengaku memiliki dasar membuat kue sejak kecil karena sering membantu orang tua. Pengalaman itu membuatnya tidak kesulitan saat harus meracik camilan khas Betawi. Ia menilai, keputusan meninggalkan pekerjaan pabrik memberi ruang untuk fokus penuh pada usaha. Langkah tersebut juga membuka kesempatan untuk mengembangkan merek yang lebih kuat.
Bangun Merek Sendiri
Pada 2020, Aisah mulai serius menekuni usahanya melalui program Jakpreneur. Ia memanfaatkan waktu luang untuk mengikuti bimbingan teknis pembuatan Hak Kekayaan Intelektual dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dari proses itu, ia menyadari pentingnya nama usaha yang mudah diingat dan memiliki identitas jelas. Awalnya, ia sempat menggunakan nama Camilan 19 sebelum akhirnya mencari alternatif yang lebih kuat.
Nama Betawi Punya Gaye akhirnya dipilih sebagai merek dagang. Menurut Aisah, nama tersebut terasa lebih khas dan merepresentasikan produk yang dijual. Identitas itu juga membantu memperkuat posisi usaha di tengah persaingan camilan rumahan. Dengan merek baru, ia punya pijakan lebih jelas untuk masuk ke pasar yang lebih luas.
Proses pendaftaran HAKI menjadi bagian penting dalam perjalanan bisnisnya. Selain memberi perlindungan merek, langkah itu juga meningkatkan nilai profesional usaha. Aisah menilai legalitas sangat dibutuhkan agar produk lebih dipercaya konsumen. Ia ingin bisnis yang dibangun tidak hanya laris, tetapi juga berumur panjang.
Omzet Dan Pelatihan
Perubahan arah usaha mulai menunjukkan hasil yang lebih baik. Produk jajanan Betawi yang ia buat perlahan mendapat tempat di pasar. Omzet bulanan pun berkembang hingga mencapai jutaan rupiah. Capaian itu menjadi bukti bahwa bisnis kecil dapat tumbuh jika dikelola dengan konsisten.
Selain mengandalkan penjualan, Aisah juga aktif mengikuti pelatihan dan pembinaan. Ia memanfaatkan dukungan dari Rumah BUMN BRI untuk memperkuat kemampuan usaha. Pelatihan semacam itu membantunya memahami pengemasan, pemasaran, dan pengelolaan bisnis. Dukungan tersebut penting agar produk rumahan bisa bersaing secara lebih profesional.
Kisah Aisah menunjukkan bahwa perubahan besar sering lahir dari keputusan sederhana. Dari karyawan pabrik, ia bertransformasi menjadi pelaku UMKM yang membangun merek sendiri. Ketekunan, keberanian, dan kemauan belajar menjadi kunci utama perjalanannya. Kini, Betawi Punya Gaye bukan hanya sekadar usaha, tetapi juga simbol dari kerja keras dan adaptasi.
