Aisah Raup Omzet Jutaan dari Jajanan Betawi

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 25 Mei 2026 07:54 WIB 4
Aisah Raup Omzet Jutaan dari Jajanan Betawi

Aisah, mantan karyawan pabrik, berhasil mengubah usaha sampingan menjadi bisnis jajanan tradisional Betawi yang menjanjikan. Berawal dari kebutuhan menambah penghasilan, ia kini mengelola merek Betawi Punya Gaye yang dikenal lewat kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang. Perjalanan usaha ini dimulai pada 2018 dan berkembang pesat setelah ia berani fokus penuh pada bisnis. Kisahnya menunjukkan bahwa peluang bisa lahir dari kebutuhan, lalu tumbuh menjadi sumber penghidupan utama.

Usaha yang semula hanya dijual ke teman kerja dan dititipkan di warung, perlahan menjangkau pasar yang lebih luas. Saat pandemi membuat penjualan keripik pedasnya melemah, Aisah memilih beralih ke jajanan khas Betawi yang lebih sesuai dengan identitas usahanya. Langkah tersebut kemudian membawanya mengikuti pembinaan, mendaftarkan HAKI, dan memperkuat merek dagang. Dari situ, omzetnya naik hingga mencapai jutaan rupiah setiap bulan.

Usaha Jajanan Betawi

Aisah memulai usaha pada 2018 ketika masih bekerja di pabrik spidol. Saat itu, ia menjual keripik pedas untuk mendapatkan pemasukan tambahan. Produk tersebut dibawa ke tempat kerja, ditawarkan kepada rekan-rekan, dan dititipkan di warung sekitar. Dari langkah kecil itu, ia sempat meraih omzet Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan.

Namun, bisnis keripik tidak bertahan lama ketika sejumlah warung tutup dan pembelian menurun. Kondisi itu diperburuk oleh pandemi COVID-19 yang membuat penjualan semakin lesu. Alih-alih berhenti, Aisah justru mencari arah baru untuk usahanya. Ia kemudian memilih jajanan tradisional Betawi sebagai produk utama.

Pilihan tersebut tidak muncul tanpa alasan, karena ia punya kedekatan dengan dunia kuliner sejak kecil. Aisah terbiasa membantu orang tuanya membuat kue, sehingga proses adaptasi rasa berjalan lebih mudah. Dari pengalaman itu, ia mulai mengolah resep secara autodidak agar produknya memiliki cita rasa yang tepat. Hasilnya adalah jajanan khas yang lebih kuat identitas budayanya.

Produk yang ia kembangkan meliputi kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang. Seluruh jajanan itu dipasarkan dengan konsep rumahan namun tetap menjaga kualitas rasa dan kebersihan. Ciri khas Betawi menjadi nilai jual yang membedakan produknya dari camilan lain. Dari sinilah usaha Aisah mulai memiliki karakter yang lebih jelas di pasar.

Berani Tinggalkan Pabrik

Keputusan terbesar Aisah adalah meninggalkan pekerjaan di pabrik setelah hampir 20 tahun mengabdi. Ia menyadari bahwa fokus penuh diperlukan agar usaha tidak terus berjalan di tempat. Dengan pertimbangan itu, ia akhirnya mengundurkan diri dan menekuni bisnis secara serius. Langkah tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan usahanya.

Aisah mengaku sudah bekerja sejak era sebelum Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjabat. Pengalaman panjang itu membuatnya mantap untuk mencoba jalan baru di luar dunia pabrik. Ia menilai usia dan pengalaman tidak lagi menjadi alasan untuk menunda usaha sendiri. Menurut dia, sudah saatnya energi dicurahkan untuk membesarkan bisnis keluarga.

Setelah keluar dari pabrik, ia lebih leluasa mengatur waktu produksi dan pemasaran. Kesempatan itu kemudian dimanfaatkan untuk memperbaiki kemasan, menjaga pasokan, dan mengembangkan jaringan penjualan. Ia juga lebih mudah mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan pengembangan usaha. Perlahan, bisnisnya menjadi lebih terstruktur dan siap bertumbuh.

Perubahan arah karier ini tidak hanya soal pekerjaan, tetapi juga soal keberanian mengambil risiko. Aisah membuktikan bahwa keputusan besar bisa menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi kehidupan ekonomi. Dari pegawai pabrik, ia bertransformasi menjadi pelaku usaha mikro yang mandiri. Kisahnya menjadi gambaran bahwa perubahan nasib sering dimulai dari keputusan yang tepat waktu.

Naik Kelas Lewat HAKI

Pada 2020, Aisah mulai menekuni usahanya secara lebih serius dengan bergabung ke Jakpreneur. Melalui program tersebut, ia mendapat akses pembinaan yang membantu pengembangan usaha mikro. Waktu luangnya digunakan untuk mengikuti bimbingan teknis pembuatan Hak Kekayaan Intelektual atau HAKI dari Pemprov DKI Jakarta. Program ini menjadi pintu penting untuk memperkuat legalitas usahanya.

Awalnya, merek usahanya bernama Camilan 19. Namun, nama itu dinilai terlalu umum dan kurang kuat untuk membangun identitas dagang. Ia kemudian diarahkan mencari nama baru yang lebih khas dan mudah diingat. Dari proses itulah lahir nama Betawi Punya Gaye.

Nama baru tersebut dinilai lebih sesuai dengan produk yang ia jual, yakni jajanan khas Betawi. Identitas ini membuat merek dagangnya memiliki karakter budaya yang kuat. Aisah pun semakin percaya diri memasarkan produknya sebagai camilan tradisional dengan sentuhan modern. Strategi branding itu turut membantu usahanya lebih mudah dikenali konsumen.

Selain memperkuat merek, pendaftaran HAKI juga memberi nilai tambah bagi bisnisnya. Legalitas yang jelas membuat usaha lebih siap berkembang ke pasar yang lebih luas. Dalam dunia UMKM, merek yang terlindungi menjadi aset penting untuk jangka panjang. Bagi Aisah, langkah ini menjadi bukti bahwa usaha kecil juga perlu tata kelola yang serius.

Omzet dan Peluang UMKM

Peralihan usaha dari keripik pedas ke jajanan Betawi membuat bisnis Aisah kembali bergerak naik. Produk yang memiliki kekhasan lokal terbukti lebih mudah menarik perhatian pembeli. Dengan resep yang terus disempurnakan, ia mampu menjaga kualitas rasa dari waktu ke waktu. Kondisi ini ikut mendorong peningkatan omzet usahanya.

Meski memulai dari skala kecil, Aisah menunjukkan bahwa UMKM bisa tumbuh melalui konsistensi dan keberanian beradaptasi. Ia tidak berhenti ketika penjualan turun, melainkan mencari model usaha baru yang lebih relevan. Sikap itu membuat bisnisnya tetap bertahan di tengah tekanan pasar. Dalam situasi sulit, perubahan strategi menjadi kunci utama.

Pelatihan dan pendampingan dari Rumah BUMN BRI juga memberi ruang bagi pelaku usaha seperti Aisah untuk berkembang. Akses pembelajaran membantu pelaku UMKM memahami branding, produksi, hingga penguatan legalitas. Dukungan semacam ini penting agar usaha rumahan dapat naik kelas. Dengan ekosistem yang tepat, produk lokal memiliki peluang lebih besar bersaing.

Kisah Aisah memperlihatkan bahwa warisan kuliner tradisional masih memiliki pasar yang menjanjikan. Selama dikelola dengan disiplin, inovasi, dan identitas yang jelas, jajanan daerah dapat menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan. Betawi Punya Gaye kini bukan sekadar nama usaha, tetapi simbol keberanian untuk memulai kembali. Dari dapur rumahan, Aisah membuktikan bahwa perubahan bisa berbuah omzet jutaan rupiah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!