Airlangga Bantah Danantara DSI Jadi Penyebab IHSG Melemah

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 25 Mei 2026 17:18 WIB 3
Airlangga Bantah Danantara DSI Jadi Penyebab IHSG Melemah

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto membantah anggapan bahwa pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menjadi penyebab anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia menegaskan pelemahan indeks lebih dipengaruhi sentimen global, termasuk rebalancing MSCI, sementara pada perdagangan pagi ini IHSG kembali bergerak di zona hijau.

Pernyataan itu disampaikan Airlangga di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Jumat (22/5/2026). Ia juga memastikan kalangan pengusaha, baik domestik maupun asing, menyambut positif kebijakan pemerintah dan siap bekerja sama dengan badan yang dibentuk untuk mengelola ekspor komoditas strategis.

IHSG dan Sentimen Global

Airlangga menilai pelemahan IHSG tidak dapat dikaitkan langsung dengan pembentukan DSI. Menurutnya, koreksi di pasar saham merupakan hal yang wajar ketika terdapat perubahan pada indeks acuan global.

Ia menyebut salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar adalah rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Kondisi tersebut kerap memicu aksi penyesuaian portofolio oleh investor institusi, sehingga tekanan jual dapat muncul pada sejumlah saham.

Dalam penjelasannya, Airlangga mengatakan koreksi yang terjadi kemarin merupakan bagian dari dinamika pasar. Ia menegaskan bahwa pasar tetap memiliki ruang untuk pulih ketika sentimen mereda dan pelaku pasar kembali masuk.

Pada perdagangan pagi ini, IHSG disebut sudah kembali berada di zona hijau. Penguatan itu menjadi sinyal bahwa tekanan sebelumnya tidak berlangsung lama dan pasar masih memiliki daya tahan.

Reaksi Pelaku Usaha

Airlangga mengungkapkan pemerintah telah menyosialisasikan kebijakan terkait pembentukan DSI kepada para pelaku usaha. Setelah penjelasan diberikan, respons yang diterima dinilai positif dari berbagai asosiasi bisnis.

Ia mengatakan hampir seluruh asosiasi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, mengapresiasi langkah pemerintah. Para pelaku usaha juga disebut siap bekerja sama dengan badan yang dibentuk untuk mendukung tata kelola ekspor komoditas strategis.

Menurut Airlangga, dukungan itu menunjukkan adanya kepercayaan terhadap arah kebijakan pemerintah. Kepercayaan tersebut penting agar pengelolaan sumber daya strategis dapat berjalan lebih terukur dan memberi kepastian bagi pasar.

Ia menambahkan komunikasi dengan pelaku usaha akan terus dijaga agar tidak terjadi kesalahpahaman. Pemerintah, kata dia, ingin memastikan kebijakan baru dipahami sebagai upaya memperkuat tata kelola, bukan sumber gejolak pasar.

Pergerakan IHSG Terkini

IHSG tercatat melemah 0,82 persen ke level 6.318,50 pada penutupan perdagangan Rabu (20/5/2026). Pada pukul 11.19 WIB, ketika pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam disampaikan, indeks sempat merosot lebih dari 2 persen.

Tekanan berlanjut pada perdagangan Kamis (21/5/2026), saat IHSG ditutup di level 6.094. Pelemahan itu setara dengan penurunan 233 poin atau sekitar 3,54 persen.

Meski sempat tertekan, pasar menunjukkan pemulihan pada perdagangan hari ini. IHSG ditutup di kisaran 6.100-an atau menguat 1,1 persen dibanding penutupan sebelumnya.

Pergerakan tersebut menunjukkan volatilitas pasar masih cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir. Namun, penguatan kembali ke zona hijau memberi sinyal bahwa investor mulai merespons sentimen secara lebih positif.

Implikasi bagi Pasar

Penjelasan Airlangga menegaskan pemerintah berupaya menenangkan pasar di tengah sorotan terhadap kebijakan baru. Di sisi lain, koreksi IHSG juga memperlihatkan bahwa investor masih sensitif terhadap perubahan kebijakan dan dinamika global.

Dalam kondisi seperti ini, persepsi pasar menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi arah perdagangan saham. Ketika pelaku pasar menilai kebijakan pemerintah jelas dan terukur, tekanan jual cenderung mereda.

Penguatan IHSG pada perdagangan terbaru memberi ruang optimisme bagi investor. Meski demikian, pasar masih perlu mencermati perkembangan sentimen eksternal, terutama dari indeks global dan keputusan investor institusi.

Dengan demikian, pelemahan yang terjadi sebelumnya lebih tepat dibaca sebagai koreksi pasar ketimbang dampak langsung dari pembentukan DSI. Pemerintah berharap stabilitas pasar modal tetap terjaga seiring implementasi kebijakan ekonomi yang tengah disiapkan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!