Airlangga Bantah Danantara DSI Jadi Penyebab IHSG Anjlok

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 27 Mei 2026 13:13 WIB 2
Airlangga Bantah Danantara DSI Jadi Penyebab IHSG Anjlok

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membantah anggapan bahwa pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menjadi penyebab utama anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia menegaskan pelemahan indeks lebih dipengaruhi sentimen global, termasuk rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), bukan kebijakan pemerintah semata.

Pernyataan itu disampaikan Airlangga di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (22/5/2026), setelah IHSG sempat bergejolak pada perdagangan pekan ini. Meski sempat terkoreksi tajam, Airlangga menyebut pada perdagangan pagi ini IHSG sudah kembali bergerak di zona hijau.

Airlangga Tepis Isu IHSG

Airlangga menilai pelemahan IHSG pada beberapa hari terakhir merupakan bagian dari dinamika pasar yang wajar. Menurutnya, koreksi juga dipicu oleh keluarnya sejumlah emiten dari indeks acuan lembaga pemeringkat internasional. Ia menambahkan bahwa pergerakan seperti itu lazim terjadi di pasar modal.

Ia mengatakan, pasar saham memang kerap merespons cepat berbagai perubahan yang terjadi di level global. Karena itu, penurunan indeks tidak bisa langsung dikaitkan dengan satu kebijakan tertentu. Airlangga meminta publik melihat kondisi pasar secara lebih utuh dan proporsional.

Dalam keterangannya, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah tetap menjaga iklim investasi agar tetap kondusif. Ia menilai pembentukan badan baru seperti DSI tidak serta-merta memicu kepanikan di pasar. Sebaliknya, pemerintah melihat respons pasar masih dalam batas yang dapat dijelaskan secara fundamental.

Respons Pasar Saham

IHSG tercatat melemah 0,82 persen ke level 6.318,50 pada penutupan perdagangan Rabu (20/5/2026). Pada pukul 11.19 WIB di hari yang sama, saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato mengenai tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam, indeks saham bahkan sempat turun lebih dari 2 persen. Kondisi itu menunjukkan tekanan pasar terjadi cukup cepat dalam waktu singkat.

Tekanan berlanjut pada perdagangan Kamis (21/5/2026), ketika IHSG ditutup di level 6.094. Indeks terkoreksi 233 poin atau turun sekitar 3,54 persen dibandingkan hari sebelumnya. Pelemahan tersebut membuat investor mencermati arah pasar dengan lebih hati-hati.

Meski demikian, pada penutupan perdagangan Jumat, IHSG kembali menguat ke kisaran 6.100-an. Kenaikan sekitar 1,1 persen menjadi sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda. Pemulihan ini sekaligus menunjukkan pasar masih memiliki ruang untuk bangkit setelah koreksi tajam.

DSI dan Tata Kelola Ekspor

PT Danantara Sumberdaya Indonesia pertama kali diumumkan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat paripurna DPR RI. Badan ini disebut akan bertugas mengelola ekspor komoditas strategis yang berkaitan dengan sumber daya alam. Pemerintah menempatkan kebijakan tersebut sebagai bagian dari penguatan tata kelola nasional.

Airlangga mengatakan sosialisasi kepada pelaku usaha sudah dilakukan sebelum kebijakan itu dijalankan lebih jauh. Menurutnya, para pengusaha dari dalam maupun luar negeri memahami arah kebijakan pemerintah. Ia bahkan menyebut mereka siap bekerja sama dengan badan yang dibentuk pemerintah tersebut.

Respons positif dari asosiasi usaha dinilai penting untuk menjaga kepastian di pasar. Dukungan itu juga menjadi modal bagi pemerintah dalam mendorong pengelolaan komoditas strategis yang lebih teratur. Dalam pandangan Airlangga, kerja sama antara pemerintah dan dunia usaha dapat menjaga stabilitas ekonomi.

Prospek IHSG Ke Depan

Penguatan IHSG pada perdagangan Jumat memberi sinyal bahwa pasar masih menilai prospek ekonomi Indonesia cukup solid. Meski volatilitas masih tinggi, sentimen global diyakini menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan indeks. Dengan demikian, investor diimbau tidak hanya mencermati isu domestik, tetapi juga perkembangan eksternal.

Rebalancing MSCI disebut menjadi salah satu faktor yang turut menekan saham-saham tertentu di bursa. Kondisi itu biasanya memicu penyesuaian portofolio oleh pelaku pasar, terutama investor institusi. Akibatnya, indeks acuan dapat bergerak turun meski fundamental ekonomi tidak berubah signifikan.

Ke depan, arah IHSG akan sangat bergantung pada stabilitas sentimen global dan keyakinan investor terhadap kebijakan pemerintah. Jika kepastian regulasi terjaga, pasar berpeluang kembali menemukan pijakan yang lebih kuat. Dalam situasi seperti ini, kehati-hatian tetap menjadi kunci bagi pelaku pasar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!