Kementerian Komunikasi dan Digital menilai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan menjadi pendorong utama adopsi jaringan 5G di Indonesia. Saat ini, cakupan 5G masih rendah, yakni baru mencapai 4,44 persen sejak layanan generasi kelima itu hadir pada pertengahan 2021.
Target pemerintah dalam Rencana Strategis Komdigi 2025-2029 adalah meningkatkan cakupan internet berkecepatan tinggi tersebut menjadi 7 persen pada 2029. Pendorong itu, menurut Komdigi, berpotensi datang dari pemanfaatan AI yang semakin luas di berbagai sektor.
AI Dorong Adopsi 5G
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, menyebut AI berpotensi menjadi killer content bagi 5G. Menurut dia, kebutuhan layanan berbasis AI dapat mempercepat minat masyarakat dan industri untuk memakai jaringan yang lebih cepat dan responsif.
Wayan menilai pola ini mirip dengan momen pendorong migrasi teknologi pada masa lalu. Ia mencontohkan bagaimana sebuah momentum besar dapat memicu perubahan perilaku pengguna secara masif.
Dalam forum IndoTelko di Jakarta, Rabu, 29 Mei 2026, ia menegaskan bahwa AI dapat menjadi pemicu utama pemanfaatan 5G. Pernyataan itu menunjukkan arah kebijakan pemerintah yang mulai melihat hubungan erat antara konektivitas dan inovasi digital.
Menurut Wayan, Indonesia kini memasuki fase baru transformasi digital yang tidak lagi bertumpu pada konektivitas semata. Fase tersebut bergerak menuju ekosistem digital yang lebih cerdas, lebih cepat, dan berbasis data.
Fondasi Ekosistem Digital
Wayan menjelaskan bahwa 5G dan AI tidak dapat dipisahkan dalam pengembangan teknologi modern. 5G berfungsi sebagai fondasi konektivitas berkecepatan tinggi dengan latensi rendah, sedangkan AI menjadi mesin pengolah data.
Ketika keduanya terintegrasi, hasilnya bukan hanya koneksi yang lebih baik, tetapi juga layanan yang lebih cerdas. Integrasi itu membuka ruang bagi lahirnya model bisnis baru di berbagai sektor.
Komdigi melihat potensi terbesar ada pada industri manufaktur berbasis Industry 4.0. Selain itu, sektor kesehatan digital dan pengembangan kota cerdas juga disebut akan ikut terdorong.
Dengan dukungan jaringan yang stabil, pemanfaatan data dapat dilakukan secara lebih efektif. Kondisi ini dinilai penting agar transformasi digital tidak berhenti pada level infrastruktur.
Peluang Industri Baru
Kombinasi 5G dan AI diperkirakan memberi dampak luas terhadap pertumbuhan industri nasional. Teknologi tersebut dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi, mempercepat proses, dan menciptakan layanan yang lebih personal.
Di sektor manufaktur, pemanfaatan AI yang ditopang jaringan 5G dapat memperkuat otomatisasi dan pemantauan real time. Sementara itu, di bidang kesehatan, teknologi ini berpotensi mendukung layanan diagnostik dan pemantauan pasien jarak jauh.
Untuk kota cerdas, 5G dan AI dapat digunakan dalam pengelolaan lalu lintas, keamanan publik, hingga efisiensi layanan kota. Pemerintah menilai peluang ini dapat menjadi nilai tambah bagi pembangunan daerah.
Wayan menyebut pengembangan ekosistem seperti ini akan menciptakan banyak kesempatan ekonomi baru. Karena itu, percepatan adopsi teknologi tidak hanya relevan bagi operator, tetapi juga bagi pelaku usaha dan masyarakat luas.
Langkah Pemerintah Ke Depan
Komdigi menegaskan bahwa tantangan pemerintah bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat. Menurut Wayan, teknologi harus bersifat inklusif, aman, dan memberi manfaat nyata.
Untuk itu, pemerintah mendorong penguatan ekosistem pendukung seperti jaringan, data center, dan talenta digital. Semua unsur tersebut diperlukan agar solusi berbasis AI dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Komdigi juga menyiapkan kebijakan yang adaptif agar pengembangan 5G dan AI berjalan seiring dengan pertumbuhan industri. Regulasi, kata Wayan, harus menjadi enabler, bukan penghambat.
Di sisi lain, pemerintah telah membuka proses lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Kedua pita frekuensi itu diharapkan memperkuat pemerataan akses internet 4G hingga 5G di Indonesia.
