Kementerian Komunikasi dan Digital menilai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan menjadi pendorong utama adopsi jaringan 5G di Indonesia. Pemerintah melihat kombinasi dua teknologi itu sebagai kunci mempercepat transformasi digital di berbagai sektor.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, menyampaikan pandangan tersebut dalam IndoTelko Forum di Jakarta, Rabu (29/5/2026). Menurut dia, cakupan 5G yang baru mencapai 4,44 persen masih perlu didorong agar manfaatnya lebih luas dirasakan masyarakat dan industri.
AI Dorong 5G Lebih Cepat
Wayan menyebut AI berpotensi menjadi killer content bagi 5G, yakni pemicu utama yang membuat masyarakat dan pelaku usaha lebih aktif memanfaatkan jaringan generasi kelima tersebut. Ia membandingkannya dengan momentum besar pada era penyiaran yang dulu mendorong migrasi ke televisi digital.
Menurut dia, kebutuhan akan layanan berbasis AI dapat menjadi alasan kuat bagi industri untuk mengandalkan jaringan berkecepatan tinggi dan berlatensi rendah. Dengan begitu, 5G tidak lagi dipandang hanya sebagai infrastruktur, melainkan sebagai enabler bagi layanan digital yang lebih canggih.
Komdigi menilai akselerasi pemanfaatan 5G akan bergantung pada munculnya layanan yang benar-benar relevan dengan kebutuhan pengguna. Dalam konteks itu, AI dipandang mampu menghadirkan pengalaman baru yang lebih cepat, personal, dan efisien.
Transformasi Digital Masuki Fase Baru
Wayan mengatakan Indonesia sedang memasuki fase baru transformasi digital yang bergerak dari sekadar konektivitas menuju ekosistem cerdas berbasis data. Pergeseran ini menuntut kesiapan infrastruktur, aplikasi, dan sumber daya manusia yang memadai.
Ia menegaskan bahwa 5G dan AI tidak bisa dipisahkan karena keduanya saling melengkapi. 5G menyediakan konektivitas berkecepatan tinggi, sedangkan AI berfungsi mengolah data menjadi wawasan dan inovasi yang bernilai ekonomi.
Integrasi keduanya diyakini akan melahirkan banyak model bisnis baru di masa depan. Pemerintah memandang peluang tersebut sebagai bagian penting dari penguatan daya saing digital nasional.
Peluang Baru di Berbagai Sektor
Kombinasi 5G dan AI dinilai akan membuka ruang pertumbuhan di sektor industri manufaktur, layanan kesehatan digital, hingga pengembangan kota cerdas. Di sektor manufaktur, teknologi itu dapat mendukung efisiensi produksi dan pemantauan sistem secara real time.
Pada layanan kesehatan, konektivitas cepat dan analisis data berbasis AI dapat membantu pengembangan layanan jarak jauh yang lebih responsif. Sementara itu, kota cerdas berpotensi memanfaatkan integrasi keduanya untuk pengelolaan lalu lintas, energi, dan layanan publik.
Wayan menilai peluang tersebut akan semakin besar jika ekosistem digital nasional berkembang secara seimbang. Karena itu, pemerintah berupaya mendorong kesiapan sektor swasta agar inovasi dapat diadopsi lebih cepat.
Komdigi Genjot Ekosistem Pendukung
Selain infrastruktur jaringan, Komdigi juga menaruh perhatian pada pembangunan pusat data dan penguatan talenta digital. Kedua unsur itu dianggap penting agar solusi berbasis AI dapat dikembangkan dan dioperasikan secara mandiri di dalam negeri.
Pemerintah turut menyiapkan kebijakan yang adaptif agar pengembangan 5G dan AI berjalan seiring dengan pertumbuhan industri. Wayan menegaskan regulasi harus menjadi enabler, bukan penghambat, bagi percepatan inovasi digital.
Saat ini, Komdigi juga telah membuka proses lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz untuk mendukung pemerataan akses internet. Kedua pita frekuensi tersebut diharapkan dapat mendorong perluasan layanan 4G hingga 5G di Indonesia.
