Ahli Gizi Ungkap Batas Aman Konsumsi Ubi Cream Cheese

Lifestyle Nadia Safira Putri 24 Mei 2026 06:26 WIB 15
Ahli Gizi Ungkap Batas Aman Konsumsi Ubi Cream Cheese

Ubi cream cheese tengah menjadi camilan viral di media sosial karena tampilannya menarik dan rasanya dianggap lezat. Meski berbahan dasar ubi yang kerap dipandang lebih sehat, konsumsi dessert ini tetap perlu dibatasi agar asupan gula, lemak, dan kalori tidak berlebihan. Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menekankan pentingnya porsi yang wajar saat menyantap hidangan tersebut.

Ia menyebut porsi ubi cream cheese yang masih tergolong aman sekitar 100 hingga 150 gram ubi per sekali makan. Jumlah itu setara dengan satu porsi karbohidrat pengganti nasi, tergantung kebutuhan kalori harian masing-masing orang. Menurutnya, batas tersebut perlu dijaga agar camilan viral ini tidak berubah menjadi sumber kalori berlebih.

Ubi cream cheese dan porsinya

Ubi pada dasarnya dapat menjadi pilihan karbohidrat yang lebih baik dibanding sebagian dessert lain. Kandungan seratnya lebih tinggi daripada nasi putih, sehingga dapat membantu memberi rasa kenyang lebih lama. Namun, manfaat itu tetap bergantung pada cara penyajian dan jumlah topping yang digunakan.

dr Tjandraningrum menjelaskan bahwa seporsi ubi dapat diperlakukan sebagai pengganti nasi. Porsi yang dianjurkan berada di kisaran 100 hingga 150 gram, menyesuaikan kebutuhan energi harian seseorang. Dengan takaran tersebut, konsumsi ubi masih dapat ditempatkan dalam pola makan yang wajar.

Ia mengingatkan bahwa porsi berlebihan berpotensi menambah asupan karbohidrat secara tidak disadari. Kondisi itu bisa menjadi masalah bila ubi cream cheese dikonsumsi bersamaan dengan makanan lain yang juga tinggi kalori. Karena itu, ukuran sajian tetap menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan gizi.

Selain porsi, jenis bahan tambahan juga perlu diperhatikan. Ubi yang awalnya relatif sederhana dapat berubah menjadi dessert tinggi energi jika disajikan dengan topping yang berlapis-lapis. Dalam konteks ini, kontrol terhadap komposisi menjadi sama pentingnya dengan memilih bahan utama.

Peran serat pada ubi

Dibandingkan nasi putih, ubi memiliki serat yang lebih tinggi. Serat berperan membantu memperlambat proses pencernaan, sehingga rasa kenyang dapat bertahan lebih lama. Inilah salah satu alasan ubi sering dianggap lebih ramah bagi pola makan sehat.

Meski demikian, keunggulan tersebut tidak otomatis membuat ubi cream cheese bebas dikonsumsi tanpa batas. Serat pada ubi dapat tertutupi oleh tambahan gula, lemak, dan pemanis yang jumlahnya berlebihan. Akibatnya, nilai gizi yang semula baik bisa menurun secara signifikan.

Pengolahan juga memengaruhi manfaat akhir dari ubi itu sendiri. Ubi panggang atau kukus tentu berbeda dengan ubi yang diberi saus manis dan topping kaya lemak. Semakin sederhana penyajiannya, semakin mudah pula kalori tetap terkendali.

Karena itu, masyarakat perlu melihat ubi cream cheese sebagai camilan, bukan makanan pokok harian. Jika dijadikan konsumsi rutin tanpa pengaturan, total asupan energi dapat meningkat dengan cepat. Hal ini dapat mengganggu upaya menjaga berat badan dan kesehatan metabolik.

Risiko topping berlebihan

Menurut dr Tjandraningrum, penggunaan cream cheese harus dibatasi karena kandungan lemak jenuhnya cukup tinggi. Ia menyarankan agar cream cheese tidak dituang terlalu banyak, cukup tipis saja. Takaran sekitar 20 hingga 30 gram masih dinilai berada dalam batas wajar.

Topping lain seperti susu kental manis, gula, dan butter juga perlu dikendalikan. Bahan-bahan tersebut dapat meningkatkan total kalori secara cepat meski porsinya tampak kecil. Jika ditumpuk bersama, dessert ini bisa menjadi jauh lebih berat daripada yang terlihat.

Risiko paling umum dari kebiasaan tersebut adalah asupan energi yang melebihi kebutuhan harian. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyulitkan pengelolaan berat badan. Bagi sebagian orang, konsumsi rutin makanan tinggi kalori juga dapat berdampak pada kesehatan metabolik.

Karena itu, porsi topping sebaiknya diperhitungkan sejak awal penyajian. Semakin banyak tambahan manis dan berlemak, semakin kecil ruang untuk menjaga keseimbangan nutrisi. Prinsip moderasi menjadi kunci agar camilan viral ini tetap aman dinikmati.

Cara menikmati secara bijak

Agar tetap aman, ubi cream cheese sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan kalori harian. Seseorang yang sudah mendapat banyak asupan dari makanan lain perlu lebih berhati-hati saat memilih dessert. Pendekatan ini membantu mencegah konsumsi kalori berlebih dalam satu hari.

Pilihan porsi kecil dapat menjadi langkah praktis untuk menjaga keseimbangan. Ubi dengan cream cheese tipis, tanpa tambahan pemanis berlebihan, sudah cukup untuk memberikan rasa menikmati camilan. Dengan begitu, kebiasaan makan tetap terkendali tanpa harus menghilangkan seluruh kenikmatan.

Masyarakat juga dapat membatasi frekuensi konsumsi agar tidak terlalu sering. Camilan seperti ini lebih tepat dinikmati sesekali, bukan setiap hari. Kebiasaan tersebut akan lebih selaras dengan pola makan yang sehat dan berkelanjutan.

Popularitas ubi cream cheese menunjukkan bahwa makanan sederhana pun bisa menjadi tren besar di media sosial. Namun, daya tarik visual dan rasa tetap harus diimbangi dengan kesadaran gizi. Dengan porsi yang tepat, dessert viral ini masih bisa dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!