Adik Ammar Zoni, Aditya Zoni, mengungkapkan kekagetan keluarga ketika mengetahui sang kakak dipindahkan kembali ke Nusakambangan setelah sidang di Jakarta dan divonis tujuh tahun penjara. Perpindahan yang dilakukan secara mendadak itu membuat keluarga terkejut dan khawatir dengan kondisi Ammar di lembaga pemasyarakatan tersebut. Informasi ini menambah ketidakpastian mengenai nasib Ammar dan menimbulkan pertanyaan soal akses keluarga serta rehabilitasi yang tepat.
Keluarga menyatakan mereka tetap berupaya agar Ammar bisa kembali dipindahkan ke Jakarta. Mereka berharap ada kemudahan akses untuk menjenguk dan memantau kondisi kakak mereka secara langsung. Aditya meminta doa dari publik dan netizen guna mendukung proses keadilan dan pemulihan Ammar.
Pemindahan Mendadak
Aditya Zoni menyatakan bahwa perpindahan Ammar ke Nusakambangan berlangsung sangat mendadak. Ia mengatakan kejadian itu membuat keluarga terpinga-pinga karena setelah sidang di Jakarta, Ammar langsung dibawa ke lokasi pemasyarakatan baru. Pasca pemindahan, keluarga mengaku menaruh kekhawatiran besar terhadap kondisi kakaknya.
Keluarga berharap Ammar bisa kembali dipindahkan ke Jakarta jika memungkinkan. Mereka menyatakan dukungan penuh dan terus mengupayakan jalur hukum serta kemudahan akses untuk melihat kakak mereka secara langsung. Aditya meminta netizen dan pihak terkait untuk mendoakan prosesnya.
Keluarga menegaskan fokus mereka pada keselamatan dan pemulihan Ammar, sambil menilai bahwa langkah rehabilitasi lebih tepat daripada pemindahan ke lembaga lain. Mereka berharap kebijakan akses kunjungan dan kesehatan mental Ammar diperhatikan pihak berwenang. Harapan ini juga disampaikan dengan permohonan kepada publik untuk tetap memberi dukungan.
Kondisi di Nusakambangan
Aditya menyebut Ammar tidak nyaman karena ruang tahanan sempit dan minim akses keluar. Ia menjelaskan Ammar hanya bisa tidur dengan posisi tertentu dan tidak bisa menghirup sinar matahari secara bebas. Kondisi ini menambah kekhawatiran keluarga terkait kesehatan fisik dan mentalnya.
Sebagai tambahan, Ammar disebut tidak leluasa keluar sel, dengan durasi kunjungan terbatas. Menurut Aditya, ia hanya keluar sekitar 10 menit, dan kunjungan itu jarang terjadi, yakni satu hingga dua kali seminggu. Keluarga khawatir masa isolasi itu dapat memperburuk kondisinya.
Aditya menegaskan bahwa fokus penanganan seharusnya pada rehabilitasi, bukan sekadar tempat pemasyarakatan. Ia berharap ada evaluasi berkala terkait kesehatannya dan hak untuk berkomunikasi dengan keluarga melalui jalur yang resmi. Akses menjenguk menjadi prioritas utama bagi kelancaran penanganan kasus Ammar.
Harapan Keluarga
Meski berat, keluarga Ammar tetap optimistis Ammar bisa dipindahkan kembali ke Jakarta. Mereka menyatakan keyakinan bahwa dialog dengan pihak terkait dapat membuka peluang tersebut. Doa dan dukungan publik dianggap penting dalam proses yang sedang berjalan.
Aditya menegaskan bahwa keluarga tidak diam, melainkan terus berupaya melalui jalur hukum dan permohonan akses kunjungan. Mereka berharap transparansi terkait kondisi Ammar dan langkah rekayasa rehabilitasi diberikan kepada publik. Keluarga menutup dengan permintaan agar semua pihak menjaga solidaritas dan empati.
Di akhir pernyataan, keluarga menekankan pentingnya kesehatan Ammar dan kesempatan untuk pulang dengan aman. Mereka memohon dukungan pemerintah dan aparat terkait agar proses pemulihan dapat berjalan dengan adil dan manusiawi. Kisah ini menjadi sorotan publik sejalan dengan hak asasi dan perlindungan kesehatannya.
