5G Dinilai Jadi Fondasi Ekonomi Digital Indonesia

Teknologi Moh. Royhan Nahado 23 Mei 2026 08:21 WIB 15
5G Dinilai Jadi Fondasi Ekonomi Digital Indonesia

Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi digital melalui pemanfaatan teknologi 5G. Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, menyebut jaringan generasi kelima itu bukan lagi sekadar peningkatan layanan seluler, melainkan fondasi untuk kecerdasan buatan, komputasi awan, dan otomatisasi industri.

Pernyataan tersebut disampaikan Nora dalam IndoTelko Forum di Jakarta, Rabu, 29 April 2026. Menurut dia, jika Indonesia ingin menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia pada 2045, infrastruktur digital harus ditempatkan sebagai prioritas utama, dan 5G berada di pusat agenda itu.

5G Indonesia dan agenda digital

Nora menilai 5G akan berfungsi sebagai infrastruktur kritikal dalam digitalisasi nasional. Teknologi ini dinilai tidak hanya mendukung konektivitas, tetapi juga menjadi tulang punggung layanan digital yang semakin kompleks. Ia menegaskan bahwa daya saing ekonomi digital sangat bergantung pada kualitas jaringan yang tersedia.

Menurut dia, Indonesia memiliki target ambisius dalam Visi Indonesia Emas 2045. Untuk mencapai sasaran tersebut, penguatan infrastruktur digital perlu berjalan seiring dengan pengembangan ekosistem industri. Dalam pandangannya, 5G menjadi elemen yang tidak bisa ditunda lagi.

Ericsson melihat perkembangan 5G sebagai bagian dari perubahan struktur ekonomi digital. Jaringan ini diperlukan untuk mendukung penggunaan data yang lebih besar, proses yang lebih cepat, dan layanan yang lebih responsif. Karena itu, adopsi 5G dinilai perlu dipercepat agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.

Nora juga menekankan bahwa transformasi digital tidak dapat bertumpu pada satu teknologi semata. Namun, 5G disebut sebagai lapisan dasar yang memungkinkan teknologi lain bekerja lebih optimal. Tanpa infrastruktur yang kuat, potensi digital Indonesia dikhawatirkan tidak berkembang maksimal.

Adopsi 5G masih rendah

Meski sudah diperkenalkan sejak lima tahun lalu, adopsi 5G di Indonesia masih tergolong rendah. Nora menyebut penetrasi jaringan tersebut masih berada di bawah 10 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar domestik masih menyimpan ruang pertumbuhan yang besar.

Di sisi lain, secara global 5G telah menjadi teknologi seluler dengan adopsi tercepat sejak era 2G. Teknologi ini berkembang pesat karena menawarkan efisiensi energi yang lebih baik, kecepatan tinggi, serta latensi yang jauh lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Karakter tersebut membuat 5G relevan untuk berbagai kebutuhan industri modern.

Berdasarkan laporan Ericsson Mobility, jumlah pelanggan 5G global pada akhir tahun lalu mencapai sekitar 2,9 miliar. Angka itu diproyeksikan meningkat menjadi 6,4 miliar pada 2031. Tren ini menunjukkan bahwa pasar dunia bergerak cepat menuju konektivitas berbasis generasi kelima.

Di Indonesia, kontribusi 5G diperkirakan akan mencapai lebih dari 30 persen dari total langganan seluler pada 2030. Proyeksi tersebut menjadi sinyal bahwa adopsi dapat meningkat signifikan dalam beberapa tahun mendatang. Meski begitu, percepatan tetap membutuhkan dukungan industri dan kebijakan yang selaras.

Dampak 5G terhadap ekonomi

Nora mengutip data GSMA yang menyebut implementasi 5G berpotensi menambah sekitar USD 41 miliar terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia hingga 2030. Nilai tersebut dinilai sangat besar karena mencerminkan dampak langsung pada aktivitas ekonomi nasional. 5G disebut mampu memperluas ruang inovasi lintas sektor secara nyata.

Potensi itu mencakup manufaktur pintar, smart city, layanan kesehatan digital, pendidikan, logistik, hingga energi. Setiap sektor dinilai dapat memanfaatkan koneksi yang lebih cepat dan stabil untuk meningkatkan efisiensi. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mendorong produktivitas dan daya saing nasional.

Nora menegaskan bahwa tambahan nilai ekonomi tersebut menunjukkan 5G bukan hanya soal konektivitas. Menurutnya, jaringan ini berkaitan langsung dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, manfaat 5G tidak berhenti pada pengguna individu, tetapi juga menyentuh struktur industri yang lebih luas.

Indonesia dinilai perlu melihat 5G sebagai investasi strategis, bukan sekadar pengeluaran infrastruktur. Dengan adopsi yang lebih luas, pelaku usaha dapat memanfaatkan model bisnis baru yang lebih efisien. Kondisi ini berpeluang mempercepat pemulihan dan ekspansi ekonomi di berbagai daerah.

AI dan cloud penggerak utama

Ericsson menilai masa depan transformasi digital Indonesia akan sangat ditentukan oleh tiga pilar utama, yakni artificial intelligence, cloud, dan mobile connectivity berbasis 5G. Ketiganya saling melengkapi dalam menciptakan layanan digital yang cepat dan adaptif. Tanpa jaringan yang mumpuni, pengembangan teknologi tersebut akan berjalan lebih lambat.

Nora menjelaskan bahwa pemanfaatan AI yang semakin masif akan meningkatkan kebutuhan terhadap jaringan yang stabil dan responsif. Dalam konteks industri, AI membutuhkan konektivitas yang mampu memproses data secara real time. Di titik inilah 5G dinilai memiliki peran strategis.

Otomatisasi industri berskala besar disebut sebagai peluang terbesar dari penerapan 5G. Teknologi ini memungkinkan sistem produksi berjalan lebih efisien dengan tingkat kesalahan yang lebih rendah. Selain itu, perusahaan dapat mengoptimalkan pengawasan, distribusi, dan layanan berbasis data.

Dengan kombinasi AI, cloud, dan 5G, Indonesia dinilai berpeluang membangun ekosistem digital yang lebih kompetitif. Nora menyebut arah tersebut akan sangat menentukan posisi Indonesia dalam peta ekonomi global. Jika percepatan dilakukan konsisten, transformasi digital nasional dapat memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih besar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!