Waspada Diabetes Anak, Gaya Hidup Jadi Pemicu Utama

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 18:03 WIB 2
Waspada Diabetes Anak, Gaya Hidup Jadi Pemicu Utama

Di tengah rutinitas keluarga yang makin padat, menjaga pola hidup sehat anak menjadi tantangan yang kian nyata. Makanan serba instan, jajanan manis, dan minuman kekinian mudah diakses, sementara waktu bermain anak lebih banyak terserap di depan layar ponsel. Kebiasaan tidur larut malam dan minim aktivitas fisik juga ikut mengganggu kondisi kesehatan sejak usia dini. Dalam situasi ini, risiko gangguan metabolik seperti diabetes dan prediabetes tidak lagi hanya menghantui orang dewasa.

Praktisi kesehatan dr Diana Suganda, SpGK, menilai perubahan gaya hidup menjadi faktor penting di balik meningkatnya kasus diabetes pada usia muda. Ia menekankan bahwa pola makan seadanya, kurang gerak, dan stres yang tinggi membuat risiko tersebut semakin besar. Pernyataan itu disampaikan dalam talkshow bersama Frisian Flag di Tangerang Selatan, Jumat (29/5/2026). Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pencegahan perlu dimulai dari rumah dan dilakukan secara konsisten.

Diabetes anak dan gaya hidup

Menurut dr Diana, diabetes kini tidak lagi identik dengan usia dewasa, karena pola hidup anak dan remaja ikut berubah. Kebiasaan makan yang tidak memperhatikan nilai gizi membuat tubuh lebih mudah mengalami gangguan metabolik. Ditambah lagi, aktivitas fisik yang menurun membuat kalori tidak terpakai secara optimal. Situasi tersebut menjadi pemicu awal munculnya prediabetes pada usia muda.

Ia menjelaskan bahwa makanan siap saji sering kali dipilih karena praktis dan mudah ditemukan. Namun, pilihan itu kerap mengandung gula, garam, dan lemak dalam jumlah yang kurang seimbang. Jika dikonsumsi berulang, pola makan seperti ini dapat mengganggu kestabilan kadar gula darah. Karena itu, orang tua perlu lebih cermat saat menentukan asupan harian anak.

Di sisi lain, waktu layar yang panjang juga ikut membentuk kebiasaan hidup yang kurang sehat. Anak yang lebih sering duduk lama cenderung kurang bergerak dan kehilangan kesempatan untuk beraktivitas fisik. Bila kondisi ini terjadi terus-menerus, risiko obesitas dan gangguan metabolik dapat meningkat. Pada akhirnya, gaya hidup yang tampak sederhana bisa berdampak besar terhadap kesehatan jangka panjang.

Peran orang tua di rumah

Orang tua memiliki peran sentral dalam membentuk kebiasaan makan anak sejak dini. Penyediaan menu seimbang di rumah dapat membantu anak memahami pentingnya gizi yang baik. Langkah ini juga perlu diiringi dengan pembatasan makanan tinggi gula dan minuman manis. Dengan begitu, anak memiliki pola konsumsi yang lebih sehat dan terarah.

Selain makanan, jadwal tidur yang teratur juga perlu dijaga dengan disiplin. Anak yang cukup tidur umumnya memiliki energi lebih stabil dan kemampuan fokus yang lebih baik. Sebaliknya, kebiasaan begadang dapat mengganggu metabolisme tubuh dan memicu keinginan makan berlebih. Karena itu, rutinitas malam yang tenang sangat penting untuk mendukung kesehatan anak.

Orang tua juga perlu menjadi contoh dalam menjalani pola hidup aktif. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, atau bermain di luar rumah dapat membantu anak lebih banyak bergerak. Kebiasaan ini tidak hanya baik bagi tubuh, tetapi juga membantu mengurangi ketergantungan pada gawai. Jika diterapkan bersama, keluarga dapat membangun lingkungan yang lebih mendukung kesehatan.

Bahaya jajan manis berulang

Jajanan manis dan minuman kekinian sering kali dianggap bagian dari gaya hidup anak dan remaja masa kini. Padahal, konsumsi berulang dapat membuat asupan gula harian melewati batas yang dianjurkan. Saat jumlahnya terus menumpuk, risiko gangguan metabolik ikut meningkat. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi keluarga yang ingin mencegah diabetes sejak dini.

Produk ultra-processed food juga perlu mendapat perhatian lebih karena sering mengandung tambahan gula dan bahan lain yang kurang seimbang. Makanan seperti ini memang praktis, tetapi tidak selalu memberikan nilai gizi yang cukup. Bila dijadikan kebiasaan, anak dapat lebih mudah mengalami kenaikan berat badan. Dalam jangka panjang, hal itu dapat memengaruhi kesehatan metabolisme secara keseluruhan.

Karena itu, pengawasan terhadap jajanan anak tidak bisa dilakukan setengah hati. Orang tua sebaiknya mengenalkan alternatif camilan yang lebih sehat dan tetap menarik. Buah, yogurt, atau makanan rumahan dapat menjadi pilihan yang lebih baik untuk konsumsi harian. Dengan kebiasaan yang tepat, anak tetap bisa menikmati camilan tanpa mengorbankan kesehatan.

Langkah pencegahan sejak dini

Pencegahan diabetes pada anak dimulai dari pembiasaan yang konsisten di lingkungan keluarga. Pola makan seimbang, tidur cukup, dan aktivitas fisik teratur harus berjalan bersama. Ketiga aspek ini saling mendukung agar tubuh anak tetap berada dalam kondisi ideal. Jika dijaga sejak awal, risiko gangguan metabolik dapat ditekan secara signifikan.

Orang tua juga perlu memantau perubahan kebiasaan anak secara berkala. Anak yang mulai mudah lelah, sering haus, atau mengalami kenaikan berat badan berlebih layak mendapat perhatian lebih. Pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan bila muncul tanda yang mencurigakan. Tindakan dini membantu mencegah masalah berkembang menjadi lebih serius.

Di tengah perubahan gaya hidup yang serba cepat, pendidikan kesehatan keluarga menjadi semakin penting. Anak perlu dibekali pemahaman sederhana tentang pentingnya makan sehat dan bergerak aktif. Saat orang tua, sekolah, dan lingkungan bergerak sejalan, upaya pencegahan akan lebih efektif. Pada akhirnya, kesehatan anak dapat dijaga tanpa harus menunggu munculnya penyakit terlebih dahulu.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!