Wanita Ini Hidup dengan Alergi Sinar Matahari Langka

Lifestyle Clara Monica 23 Mei 2026 08:30 WIB 6
Wanita Ini Hidup dengan Alergi Sinar Matahari Langka

Seorang perempuan asal Inggris, Sonal Keay, hidup dengan kondisi kulit langka yang membuat sinar matahari menjadi ancaman serius bagi kesehatannya. Bahkan paparan cahaya matahari dalam waktu sangat singkat dapat memicu rasa sakit hebat, sensasi terbakar, hingga reaksi alergi yang parah. Kondisi ini memaksanya menghindari aktivitas siang hari dan lebih aman beraktivitas setelah matahari terbenam.

Perjalanan Sonal menuju diagnosis tidak terjadi dengan cepat, karena gejala awalnya sempat disangka sebagai masalah kulit biasa. Baru setelah reaksi alergi memburuk usai liburan pada usia 18 tahun, ia mengetahui bahwa sumber keluhannya berkaitan dengan sinar UV. Setelah diperiksa lebih lanjut, Sonal didiagnosis mengidap dermatitis aktinik kronis, salah satu bentuk alergi fotosensitif yang tergolong langka.

Alergi Sinar Matahari Langka

Sonal Keay mengalami kondisi yang membuat kulitnya bereaksi sangat kuat terhadap paparan sinar matahari. Menurut pengakuannya, rasa sakit dapat muncul hanya dalam waktu sekitar satu menit saat berada di luar ruangan.

Keluhan itu tidak hanya muncul ketika cuaca cerah, tetapi juga saat langit mendung. Bahkan, paparan cahaya yang masuk dari jendela rumah dapat memicu reaksi pada kulitnya.

Kondisi tersebut membuat Sonal harus selalu waspada sebelum keluar rumah, termasuk untuk aktivitas sederhana seperti mengambil kunci mobil. Ia juga perlu menggunakan tabir surya dan pakaian tertutup agar risiko paparan UV dapat ditekan.

Diagnosis Dermatitis Aktinik Kronis

Gejala Sonal mulai disadari saat berusia 18 tahun ketika sedang berlibur ke luar negeri. Setelah kembali ke rumah, reaksinya justru semakin parah dan tidak kunjung membaik.

Selama dua tahun, ia merasakan ketidaknyamanan tanpa memahami penyebab pastinya. Sonal yang sudah memiliki riwayat eksim sejak kecil sempat mengira kondisinya hanya memburuk seperti biasanya.

Setelah pemeriksaan medis, dokter menyimpulkan bahwa ia mengalami dermatitis aktinik kronis. American Academy of Dermatology menyebut kondisi ini sebagai salah satu bentuk alergi kulit fotosensitif yang dapat menimbulkan nyeri luar biasa.

Dampak Pada Aktivitas Harian

Keterbatasan akibat alergi sinar matahari membuat Sonal tidak bisa menjalani rutinitas seperti kebanyakan orang. Ia harus menyesuaikan jadwal agar tidak berada di luar rumah pada siang hari.

Untuk beraktivitas di dalam rumah, ia memasang tirai anti-UV agar paparan cahaya dapat dikurangi. Langkah itu dilakukan karena cahaya matahari yang melewati kaca tetap bisa memicu reaksi kulit yang berat.

Sonal mengaku, ia tampak normal dari luar, tetapi kehidupannya sangat berbeda dari orang lain. Setiap keputusan kecil, mulai dari berpakaian hingga keluar rumah, harus dihitung dengan cermat.

Tekanan Mental dan Adaptasi

Selain menyerang kulit, kondisi ini juga berdampak pada kesehatan mental Sonal. Ia sempat merasa takut terhadap cahaya, termasuk lampu, karena khawatir akan memicu reaksi alergi.

Rasa sakit yang dialaminya tergolong ekstrem, hingga ia menyebutnya sangat tidak nyaman dan sulit ditahan. Situasi itu membuatnya harus terus beradaptasi dengan disiplin tinggi dalam menjaga tubuhnya dari paparan UV.

Kasus Sonal menjadi pengingat bahwa kondisi kulit langka dapat memengaruhi kualitas hidup secara menyeluruh. Penanganan yang tepat, penyesuaian lingkungan, dan kewaspadaan terhadap paparan matahari menjadi kunci utama untuk bertahan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!