Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Kulit Bisa Terbakar

Lifestyle Clara Monica 31 Mei 2026 08:13 WIB 3
Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Kulit Bisa Terbakar

London - Sonal Keay, seorang pebisnis asal Inggris, mengalami kondisi kulit langka yang membuatnya alergi terhadap sinar matahari. Reaksi itu dapat muncul hanya dalam waktu singkat, bahkan saat cuaca mendung atau ketika cahaya masuk melalui jendela. Kondisi tersebut membuatnya harus membatasi aktivitas di siang hari dan lebih aman beraktivitas setelah matahari terbenam. Perjalanan hidupnya berubah sejak gejala itu semakin parah saat ia berusia 18 tahun.

Dalam pengakuannya kepada acara televisi ITV This Morning, Sonal menyebut sinar matahari bisa memicu rasa sakit yang sangat hebat. Ia bahkan mengaku kulitnya terasa seperti terbakar jika berada di luar lebih dari satu menit. Setelah bertahun-tahun mencari jawaban, ia akhirnya didiagnosis mengidap dermatitis aktinik kronis. Diagnosis itu menjelaskan mengapa kulitnya bereaksi ekstrem terhadap paparan ultraviolet.

Alergi Sinar Matahari

Sonal mulai menyadari ada yang tidak beres ketika sedang berlibur ke luar negeri. Saat itu, reaksinya menjadi semakin parah setelah ia kembali ke rumah. Ia merasakan nyeri berkepanjangan dan kondisi kulitnya tidak membaik. Pada masa itu, ia belum memahami bahwa sumber masalahnya adalah sinar matahari.

Ia mengaku sudah lama memiliki riwayat eksim sejak kecil, tetapi gejala yang dialami kali ini berbeda. Rasa sakit muncul setiap kali ia berada di luar rumah, meski hanya sebentar. Menurutnya, menutupi tubuh memang sedikit membantu, namun tidak sepenuhnya mengatasi masalah. Selama dua tahun, ia hidup dengan ketidaknyamanan tanpa mengetahui penyebab pastinya.

Setelah pemeriksaan medis, dokter mendiagnosisnya dengan dermatitis aktinik kronis, yakni gangguan kulit langka yang memicu lesi eksim. Kondisi ini tidak hanya menyerang area yang terkena matahari, tetapi juga bagian kulit yang tampak terlindungi. American Academy of Dermatology menyebut ada berbagai bentuk alergi kulit fotosensitif. Dalam kasus Sonal, reaksi tersebut dapat menimbulkan rasa sakit yang sangat berat.

Dampak Pada Kehidupan

Reaksi yang dialami Sonal bukan sekadar kemerahan atau iritasi ringan. Ia menggambarkan rasa sakitnya begitu parah hingga membuatnya ingin menggaruk kulit sendiri untuk meredakan tekanan. Paparan matahari bahkan bisa memicu gejala pada saat langit mendung. Kondisi itu membuatnya harus benar-benar waspada setiap kali keluar rumah.

Sonal mengatakan tubuhnya dapat bereaksi hebat jika berada di luar lebih dari satu menit. Karena itu, ia selalu mengatur waktu keluar rumah dengan sangat hati-hati. Ia juga harus segera memakai tabir surya sebelum menjalani aktivitas sederhana seperti mengambil kunci mobil. Bahkan memakai sepatu sebelum keluar pun menjadi bagian dari rutinitas perlindungannya.

Situasi ini ikut memengaruhi kondisi mentalnya karena ia sempat takut terhadap cahaya dalam bentuk apa pun. Lampu di dalam rumah pun pernah membuatnya cemas. Untuk beraktivitas lebih aman, ia memasang tirai anti-UV di rumahnya. Langkah itu membantu mengurangi risiko paparan cahaya yang masuk melalui kaca.

Adaptasi Sehari-hari

Meski terlihat normal, kehidupan Sonal jauh dari normal. Ia harus menghindari paparan sinar matahari langsung dan baru merasa aman ketika malam tiba. Dalam kesehariannya, ia memprioritaskan perlindungan kulit sebelum melakukan apa pun. Kebiasaan itu menjadi bagian penting dari hidupnya yang kini sangat terbatas.

Kondisi langka tersebut memaksanya menyesuaikan hampir semua aktivitas di luar ruangan. Sonal tidak bisa bebas berjemur, berjalan santai, atau beraktivitas di siang hari tanpa perencanaan khusus. Cuaca cerah yang bagi kebanyakan orang menyenangkan justru menjadi ancaman baginya. Bahkan cahaya yang melewati jendela tetap bisa memicu reaksi pada kulitnya.

Pengalaman Sonal menjadi pengingat bahwa gangguan kulit dapat berdampak luas pada kualitas hidup seseorang. Selain menimbulkan nyeri fisik, kondisi itu juga memengaruhi rasa aman dan kesehatan mental. Ia kini berusaha menjalani hidup dengan penyesuaian ketat agar tetap bisa beraktivitas. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi fisiknya tidak selalu mencerminkan beratnya perjuangan yang ia hadapi setiap hari.

Harapan Penanganan Medis

Kasus Sonal menunjukkan pentingnya deteksi dini saat gejala kulit tampak tidak biasa. Alergi terhadap sinar matahari tidak boleh dianggap sebagai iritasi ringan semata. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai. Semakin cepat kondisi dikenali, semakin besar peluang penderita menata hidup dengan lebih aman.

Penanganan dermatitis aktinik kronis umumnya berfokus pada pencegahan paparan cahaya dan pengendalian gejala. Penggunaan tabir surya, pakaian pelindung, serta pengaturan lingkungan dalam rumah menjadi bagian penting dari perlindungan harian. Dalam kasus tertentu, pasien juga membutuhkan pemantauan rutin dari dokter spesialis kulit. Langkah-langkah itu bertujuan mengurangi risiko kambuh dan memperbaiki kenyamanan hidup.

Bagi Sonal, disiplin menjaga diri adalah cara utama untuk bertahan. Ia harus memperhitungkan waktu, cahaya, dan aktivitas yang tampak sepele bagi orang lain. Kisahnya memperlihatkan bahwa kondisi medis langka dapat mengubah seluruh pola hidup seseorang. Di balik penampilan yang terlihat biasa, ia menjalani perjuangan panjang untuk tetap aman dari sinar matahari.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!