Wanita Ini Alergi Matahari, Sinar UV Bisa Picu Nyeri

Lifestyle Clara Monica 26 Mei 2026 01:25 WIB 3
Wanita Ini Alergi Matahari, Sinar UV Bisa Picu Nyeri

Sonal Keay hidup dengan kondisi langka yang membuatnya alergi terhadap sinar matahari, sehingga paparan UV dalam waktu sangat singkat dapat memicu rasa sakit hebat. Perempuan asal Inggris itu harus menghindari aktivitas di siang hari dan baru merasa aman setelah matahari terbenam.

Kondisi tersebut mulai disadari Sonal saat berusia 18 tahun, ketika reaksi kulitnya memburuk setelah liburan ke luar negeri. Kini, ia didiagnosis dermatitis aktinik kronis, gangguan kulit langka yang membuat tubuh bereaksi ekstrem terhadap cahaya, termasuk saat cuaca mendung.

Alergi Matahari yang Langka

Sonal Keay mengalami kondisi kulit yang sangat jarang ditemukan, yakni dermatitis aktinik kronis. Gangguan ini membuat tubuhnya menganggap sinar matahari sebagai ancaman, lalu memicu reaksi nyeri dan peradangan.

Ia mengatakan kulitnya dapat terasa seperti terbakar hanya setelah terpapar sinar matahari lebih dari satu menit. Reaksi itu tidak hanya muncul saat cuaca cerah, tetapi juga ketika langit tampak berawan.

Menurut American Academy of Dermatology, alergi kulit fotosensitif memiliki berbagai bentuk dan tingkat keparahan. Pada kasus Sonal, dampaknya bukan sekadar kemerahan, melainkan rasa sakit yang sangat berat.

Gejala Muncul Sejak Remaja

Keluhan Sonal mulai terasa ketika dirinya berusia 18 tahun saat berlibur ke luar negeri. Setelah kembali ke rumah, kondisi kulitnya tidak membaik dan justru semakin menyakitkan.

Ia mengaku sempat tidak memahami apa yang terjadi pada tubuhnya. Selama dua tahun, Sonal merasakan ketidaknyamanan berulang tanpa mengetahui bahwa sumber masalahnya adalah sinar matahari.

Riwayat eksim yang dialaminya sejak kecil diduga turut memperburuk kondisi tersebut. Saat akhirnya mendapatkan diagnosis, ia baru memahami bahwa tubuhnya bereaksi ekstrem terhadap paparan UV.

Dampak pada Kehidupan Sehari-hari

Kondisi ini membuat Sonal harus sangat disiplin menjaga diri dari paparan cahaya. Ia bahkan perlu memakai tabir surya hanya untuk mengambil kunci mobil atau mengenakan sepatu sebelum keluar rumah.

Ia juga harus berhati-hati terhadap cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Karena itu, Sonal memasang tirai anti-UV agar tetap bisa beraktivitas di dalam rumah dengan lebih aman.

Selain memengaruhi fisik, gangguan ini juga berdampak pada kesehatan mentalnya. Sonal mengaku sempat takut terhadap cahaya, termasuk lampu, karena khawatir memicu reaksi kulit.

Beradaptasi Demi Tetap Aman

Sonal mengubah banyak kebiasaan agar dapat menjalani hidup sehari-hari. Ia memilih beraktivitas pada malam hari dan menghindari paparan matahari langsung sebisa mungkin.

Meski tampak normal dari luar, ia menegaskan bahwa kehidupannya jauh dari kata normal. Setiap keputusan sederhana, dari keluar rumah hingga membuka tirai, harus dipertimbangkan dengan hati-hati.

Ia menilai kondisi tersebut membuatnya lebih waspada terhadap hal-hal yang sebelumnya dianggap biasa. Bagi Sonal, hidup dengan alergi matahari berarti terus beradaptasi agar tetap bisa menjalani rutinitas tanpa memicu rasa sakit.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!