Wanita di China Viral Tak Bisa Dengar Suara Pria

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 19:23 WIB 3
Wanita di China Viral Tak Bisa Dengar Suara Pria

Seorang wanita di Xiamen, China, menjadi perbincangan setelah kisahnya tidak bisa mendengar suara pria viral di media sosial. Kondisi yang awalnya dianggap sebagai masalah hubungan itu ternyata berkaitan dengan gangguan medis langka bernama reverse slope hearing loss.

Wanita bernama Chen itu mulai menyadari ada yang janggal setelah bangun tidur dan tidak dapat mendengar suara pacarnya, meski suara lain masih terdengar. Setelah diperiksa dokter, ia didiagnosis mengalami gangguan pendengaran yang terutama menyerang frekuensi rendah.

Gangguan pendengaran langka

Reverse slope hearing loss adalah kondisi ketika seseorang kesulitan menangkap suara dengan nada rendah. Dalam banyak kasus, suara pria berada pada rentang frekuensi tersebut, sehingga terdengar samar atau hilang sama sekali. Sebaliknya, suara bernada tinggi masih bisa didengar dengan baik.

Fenomena ini terjadi karena pola hasil tes pendengaran atau audiogram menunjukkan bentuk yang berbeda dari gangguan pendengaran pada umumnya. Biasanya, grafik audiogram menurun pada frekuensi tinggi, tetapi pada kondisi ini justru frekuensi rendah yang terganggu. Itulah sebabnya gangguan tersebut disebut reverse slope hearing loss.

Kondisi ini tidak terbatas pada suara pria, karena perempuan dengan suara lebih berat juga dapat terdengar samar. Pria yang memiliki nada bicara lebih tinggi masih mungkin terdengar jelas oleh penderita. Selain itu, suara rendah lain seperti gemuruh petir atau dentuman bass juga bisa sulit ditangkap.

Gejala yang sering luput

Gangguan ini kerap sulit dikenali karena gejalanya tidak selalu terasa sejak awal. Banyak orang lebih cepat menyadari ketika suara bernada tinggi menghilang dibandingkan saat suara rendah melemah perlahan. Akibatnya, pemeriksaan medis sering baru dilakukan setelah keluhan semakin mengganggu.

Dalam kasus Chen, suara pacarnya menjadi salah satu tanda awal yang paling mencolok. Situasi itu sempat memunculkan kesalahpahaman, sebelum pemeriksaan dokter mengungkap penyebab sebenarnya. Dengan diagnosis tersebut, hubungan pribadinya akhirnya dipahami dalam konteks medis, bukan emosional.

Para ahli menilai kondisi seperti ini perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi komunikasi sehari-hari. Penderita bisa merasa orang lain berbicara pelan, padahal masalahnya ada pada kemampuan mendengar frekuensi tertentu. Karena itu, evaluasi pendengaran diperlukan ketika keluhan muncul berulang.

Penyebab dan faktor risiko

Dokter menyebut reverse slope hearing loss dapat dipicu oleh sejumlah faktor medis. Di antaranya adalah penyakit Meniere, infeksi virus, gagal ginjal, hingga perubahan tekanan di sekitar otak. Dalam beberapa kasus, penyebabnya juga bisa berkaitan dengan gangguan pada telinga bagian dalam.

Tingkat keparahan kondisi ini berbeda pada setiap pasien, tergantung pada pemicunya. Pada sebagian orang, gangguan dapat bersifat sementara dan membaik setelah penyebab utama ditangani. Namun pada kasus tertentu, kerusakan pendengaran dapat menetap dalam jangka panjang.

Pemeriksaan lanjutan biasanya diperlukan untuk memastikan sumber masalah secara akurat. Dokter dapat menilai hasil audiogram, riwayat kesehatan, serta gejala penyerta lainnya. Langkah ini penting agar terapi yang diberikan sesuai dengan kondisi pasien.

Penanganan dan dampaknya

Untuk kasus yang bersifat permanen, alat bantu dengar dapat membantu meningkatkan kualitas pendengaran pasien. Alat tersebut membantu memperkuat suara pada frekuensi yang sulit ditangkap. Dengan demikian, komunikasi sehari-hari bisa menjadi lebih nyaman dan efektif.

Meski terdengar unik, kondisi ini tidak seharusnya dijadikan bahan lelucon dalam hubungan. Dokter menegaskan bahwa pacar Chen tidak perlu tersinggung karena suara yang menghilang bukan disebabkan oleh penolakan. Masalah tersebut murni berasal dari kondisi medis yang memengaruhi kemampuan pendengaran.

Kisah Chen menjadi pengingat bahwa gangguan pendengaran tidak selalu dialami dengan pola yang umum. Gejalanya bisa muncul secara halus, lalu baru disadari ketika memengaruhi interaksi sosial. Karena itu, pemeriksaan dini sangat penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!