Waktu Terbaik Makan Manis Saat Diet Agar Tetap Seimbang

Lifestyle Clara Monica 22 Mei 2026 22:53 WIB 6
Waktu Terbaik Makan Manis Saat Diet Agar Tetap Seimbang

Para pencinta makanan manis sering menghadapi dilema saat menjalani diet, karena dessert favorit kerap dianggap sebagai ancaman bagi angka timbangan. Namun, ahli gizi menilai konsumsi gula tidak selalu harus dihindari sepenuhnya, selama porsinya terkontrol dan waktunya tepat.

Penjelasan ini penting bagi siapa pun yang ingin tetap menikmati kue, cookies, atau camilan manis tanpa merusak pola makan. Menurut ahli gizi Maya Feller, bukan hanya jumlah gula yang perlu diperhatikan, melainkan juga kapan makanan manis tersebut dikonsumsi.

Makan Manis Saat Diet

Makanan manis masih dapat masuk dalam menu diet, asalkan dikonsumsi dengan porsi yang wajar. Kuncinya terletak pada keseimbangan antara asupan gula dan kebutuhan energi harian.

Feller menyebut waktu ideal untuk menikmati makanan manis adalah di antara makan siang dan makan malam. Pada rentang waktu itu, tubuh masih aktif memproses energi dan belum mendekati fase istirahat malam.

Jika dikonsumsi terlalu malam, tubuh cenderung lebih lambat mengolah gula. Kondisi ini membuat gula lebih mudah menumpuk dan berpotensi mengganggu target diet.

Waktu Tepat Setelah Makan

Salah satu waktu terbaik untuk menikmati makanan manis adalah setelah makan utama yang seimbang. Saat itu, gula masuk bersama protein, serat, dan lemak sehat yang membantu proses penyerapan lebih stabil.

Cara ini membuat tubuh memproses gula secara lebih efisien. Selain itu, rasa kenyang dari makanan utama juga dapat mencegah keinginan berlebihan untuk makan camilan manis.

Ahli gizi menilai kebiasaan ini lebih aman dibandingkan mengonsumsi gula dalam keadaan perut kosong. Dengan begitu, lonjakan gula darah dapat ditekan dan energi tubuh tetap terjaga.

Risiko Ngemil Menjelang Tidur

Ngemil manis menjelang tidur tidak disarankan karena metabolisme tubuh melambat saat malam hari. Ketika aktivitas fisik berkurang, tubuh juga tidak bekerja seaktif siang hari dalam mengolah gula.

Feller menjelaskan bahwa kondisi ini dapat menghambat kerja insulin dalam memindahkan gula dari aliran darah ke dalam sel. Jika proses tersebut tidak berjalan optimal, kadar gula darah bisa meningkat.

Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut berisiko memicu gangguan tidur dan meningkatkan kemungkinan resistensi insulin. Karena itu, waktu konsumsi menjadi faktor penting selain jumlah gula yang dimakan.

Diet Seimbang Tetap Prioritas

Feller menegaskan bahwa gula bukanlah musuh yang harus dihindari sepenuhnya. Gula tetap merupakan bentuk karbohidrat yang dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi, termasuk untuk otak.

Meski demikian, diet seimbang tetap menjadi dasar utama dalam menjaga kesehatan. Mengonsumsi gula berlebihan tanpa memperhatikan kebutuhan tubuh justru dapat membuat sistem metabolisme kewalahan.

Ia juga mengingatkan bahwa pola makan sehat tidak boleh dipahami sebagai daftar larangan yang kaku. Jika seseorang mengonsumsi gula sedikit lebih banyak dari rencana, hal itu tidak otomatis merusak seluruh proses diet.

Yang lebih penting adalah menjaga konsistensi dan memberi ruang untuk fleksibilitas dalam pola makan. Dengan pendekatan tersebut, diet dapat dijalani secara lebih realistis dan berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!