Viral Curhatan Pelaku Hijab Lokal Soal Kerugian COD

Lifestyle Anindya Kirana Putri 26 Mei 2026 05:35 WIB 2
Viral Curhatan Pelaku Hijab Lokal Soal Kerugian COD

Curhatan seorang pelaku usaha hijab lokal bernama Dyalodya viral di media sosial setelah menampilkan tumpukan paket retur dalam jumlah besar. Video itu memicu perhatian publik karena menunjukkan kerugian yang dialami usaha kecil akibat pesanan sistem COD yang gagal sampai ke pelanggan. Pemilik brand mengaku kondisi tersebut terjadi hanya dalam waktu satu minggu, sehingga menekan operasional dan keuangan toko. Unggahan itu juga membuka kembali perdebatan soal risiko penggunaan sistem Cash on Delivery dalam transaksi daring.

Dalam video yang diunggah akun Instagram @dyalodya, tampak paket-paket berlabel COD yang dikembalikan oleh kurir. Pemilik usaha menilai ada pihak yang memanfaatkan sistem tersebut secara tidak bertanggung jawab, mulai dari menolak paket tanpa alasan hingga menukar isi kiriman. Ia menyebut sebagian paket bahkan kembali dalam kondisi terbuka dan diduga telah diganti dengan barang tidak bernilai. Kasus ini membuat banyak warganet ikut menyoroti keamanan data, kejujuran pembeli, dan pengawasan dalam pengiriman paket.

COD dan Retur Hijab

Pemilik Dyalodya menumpahkan kekecewaannya melalui video yang memperlihatkan tumpukan paket retur yang menumpuk selama sepekan. Ia menyebut sebagian besar paket berasal dari transaksi COD, sehingga risiko penolakan di tangan pelanggan menjadi lebih tinggi. Dalam keterangan video, ia menilai ada oknum pembeli yang tidak amanah dan dengan mudah menolak paket ketika kurir datang. Kondisi itu membuat penjual harus menanggung biaya kirim, waktu, dan tenaga yang terbuang.

Zahra, pemilik brand Dyalodya, menjelaskan bahwa usahanya telah berdiri sejak 2017 dan selama ini membangun pelanggan secara bertahap. Menurut dia, video tersebut dibuat sebagai bentuk edukasi setelah banyak orang mengeluh menerima paket yang tidak pernah mereka pesan. Ia menilai persoalan itu tidak bisa dianggap sepele karena berdampak langsung pada kepercayaan konsumen terhadap merek. Dalam situasi seperti ini, pelaku UMKM harus menanggung beban tambahan ketika retur menumpuk.

Ia juga mengaku ada paket yang diterima kembali dalam keadaan rusak dan isi barangnya telah ditukar. Dalam video, ia menunjukkan barang yang diduga diganti dengan celana kolor bekas, sehingga kerugian yang dialami tidak hanya pada ongkos kirim. Zahra menilai tindakan tersebut memperlihatkan adanya penipuan yang dilakukan secara sengaja. Ia menegaskan bahwa pengalaman seperti itu sangat menyakitkan bagi pelaku usaha kecil yang mengandalkan penjualan harian.

Modus Penipuan Dyalodya

Menurut Zahra, ada pula modus baru yang lebih berbahaya karena melibatkan penggunaan identitas toko secara tidak sah. Ia menyebut ada pihak yang mencantumkan alamat Dyalodya sebagai pengirim, padahal barang itu berasal dari toko lain yang tidak jelas identitasnya. Modus ini berpotensi membuat konsumen menerima paket yang tidak pernah mereka pesan. Di sisi lain, reputasi toko juga bisa ikut tercoreng karena nama usaha dipakai tanpa izin.

Zahra mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menerima paket COD jika memang tidak melakukan pemesanan. Ia menilai kewaspadaan konsumen penting untuk mencegah kerugian yang lebih luas, baik bagi pembeli maupun penjual. Dalam penjelasannya, ia menyebut paket yang mencurigakan kerap tidak memiliki alamat dan nomor telepon pengirim yang jelas. Situasi itu membuat proses pelacakan menjadi sulit ketika masalah sudah terlanjur terjadi.

Ia juga menyinggung kemungkinan keterlibatan pihak dalam rantai pengiriman yang mengetahui data pelanggan. Menurut dia, kebocoran data bisa terjadi dari berbagai sumber, termasuk kurir atau karyawan yang memiliki akses ke informasi pengiriman. Dugaan itu memunculkan kekhawatiran baru mengenai keamanan data pribadi konsumen. Karena itu, ia mendorong adanya pengawasan yang lebih ketat dalam sistem distribusi paket COD.

Respons Warganet Viral

Unggahan curhat tersebut dengan cepat menyebar dan telah ditonton lebih dari 54,4 ribu kali. Respons warganet pun berdatangan, mayoritas menyampaikan simpati atas kerugian yang dialami pemilik usaha. Sebagian akun mengaku pernah mengalami kejadian serupa, terutama saat data alamat dipakai tanpa izin. Ada pula yang menyarankan agar sistem COD dihapus demi mengurangi risiko penipuan.

Kolom komentar dipenuhi reaksi geram terhadap pelaku yang dianggap merugikan penjual kecil. Beberapa warganet menilai tindakan menolak paket atau menukar isi barang merupakan perbuatan yang sangat tidak etis. Mereka juga menyoroti betapa rentannya pelaku UMKM ketika harus berhadapan dengan pelanggan yang tidak bertanggung jawab. Dukungan moral pun mengalir agar Dyalodya tetap bertahan menghadapi masalah tersebut.

Kasus ini memperlihatkan bahwa sistem COD masih menyimpan risiko jika tidak diiringi tanggung jawab dari semua pihak. Pelaku usaha perlu berhati-hati, sementara konsumen juga harus memastikan pesanan sebelum menerima paket. Di saat yang sama, perusahaan pengiriman dituntut memperkuat verifikasi dan pengamanan data pelanggan. Tanpa langkah pencegahan yang memadai, kasus serupa berpotensi terus berulang dan merugikan banyak pihak.

Risiko COD bagi UMKM

Bagi pelaku UMKM, sistem COD memang memudahkan pembeli yang belum terbiasa bertransaksi digital. Namun, kemudahan itu bisa berubah menjadi beban ketika pembeli menolak paket tanpa alasan yang jelas. Penjual harus menanggung ongkos kirim bolak-balik, stok barang yang tertahan, dan proses operasional yang terganggu. Dalam jangka panjang, situasi tersebut dapat menggerus arus kas dan kepercayaan pelanggan.

Kasus yang dialami Dyalodya menunjukkan pentingnya kontrol yang lebih baik dalam transaksi daring. Penjual perlu memperkuat validasi pesanan, sementara kurir dan perusahaan logistik harus memastikan penerima benar-benar sesuai dengan data tujuan. Konsumen juga sebaiknya tidak sembarangan menggunakan alamat orang lain atau menerima paket yang tidak dikenali. Langkah sederhana itu dapat mencegah kerugian yang lebih besar di kemudian hari.

Peristiwa ini pada akhirnya menjadi pengingat bahwa ekosistem belanja online membutuhkan kejujuran dan pengawasan bersama. Tanpa itu, sistem yang dirancang untuk memudahkan justru bisa berubah menjadi celah penipuan. Pelaku usaha kecil seperti Dyalodya menjadi pihak yang paling rentan menanggung dampaknya. Karena itu, edukasi kepada konsumen dan penguatan keamanan pengiriman menjadi kebutuhan mendesak.

Tag Terkait
#hijab#COD#UMKM

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!