Curhatan pemilik brand hijab lokal Dyalodya viral di media sosial setelah ia memperlihatkan tumpukan paket retur dalam jumlah besar akibat layanan Cash on Delivery atau COD. Video yang diunggah di akun Instagram @dyalodya itu memantik perhatian publik karena menampilkan kerugian operasional, dugaan penipuan, hingga penyalahgunaan alamat penerima.
Dalam unggahan tersebut, pemilik usaha mengaku paket yang sudah dikirim justru kembali dalam kondisi rusak, dibuka, atau ditukar dengan barang tidak berharga. Ia menyebut kejadian itu bukan hanya merugikan bisnis, tetapi juga berpotensi merusak reputasi toko dan membuat konsumen lain ikut dirugikan.
COD dan Retur Hijab
Dyalodya menyoroti tingginya retur paket COD yang terjadi dalam waktu singkat dan berdampak pada biaya kirim yang terus membengkak. Dalam video itu, terlihat sejumlah paket berlabel COD yang kembali ke gudang setelah gagal diterima pelanggan.
Pemilik usaha menilai kondisi tersebut semakin berat karena paket yang dikirim sudah melalui proses pengemasan dan distribusi. Saat barang kembali, beban biaya logistik tetap harus ditanggung penjual tanpa ada pemasukan dari transaksi.
Ia mengaku situasi itu membuat pelaku UMKM berada pada posisi yang sulit karena harus menghadapi kerugian berulang. Menurutnya, masalah COD tidak lagi sekadar pembatalan pesanan, tetapi sudah mengarah pada praktik yang merugikan secara sistematis.
Keluhan itu disampaikan dengan nada emosional karena jumlah paket retur yang menumpuk dinilai tidak wajar. Ia berharap masyarakat lebih bertanggung jawab saat memesan barang secara COD.
Modus Penipuan Pakai Alamat
Zahra, pemilik brand Dyalodya, menjelaskan bahwa sebagian paket yang kembali diduga kuat menjadi bagian dari modus penipuan. Ia menyebut ada paket yang dikirim menggunakan nama dan alamat Dyalodya, tetapi identitas pengirimnya tidak jelas.
Dalam penjelasannya, paket yang diterima konsumen kerap tidak sesuai dengan pesanan, bahkan ada yang dikirim ke alamat acak. Situasi itu membuat pembeli mengira dirinya telah menjadi korban, padahal data alamatnya diduga dipakai oleh oknum tak bertanggung jawab.
Zahra menilai praktik tersebut sangat merugikan karena dapat menimbulkan kebingungan di pihak pelanggan. Di sisi lain, toko juga ikut terbebani karena harus menerima komplain atas kiriman yang bukan berasal dari transaksi resmi.
Ia pun mengingatkan konsumen agar tidak menerima paket bila merasa tidak pernah memesan produk tersebut. Menurutnya, kewaspadaan sangat penting untuk mencegah penyalahgunaan data pribadi dan alamat pengiriman.
Paket Ditukar Barang Bekas
Selain paket yang ditolak, Dyalodya juga menemukan retur dalam kondisi terbuka dan isinya sudah diganti. Salah satu temuan yang paling mengejutkan adalah paket berisi celana kolor bekas yang diduga sengaja ditukar oleh penerima atau pihak lain.
Zahra menyebut temuan itu sebagai bukti bahwa kerugian yang dialami tidak sekadar dari pembatalan pesanan. Ia menilai ada indikasi penipuan yang dilakukan dengan cara mengembalikan barang palsu atau barang yang tidak memiliki nilai jual.
Menurutnya, kasus seperti ini menunjukkan bahwa pelaku usaha perlu lebih berhati-hati saat menjalankan sistem COD. Risiko tidak hanya datang dari pembeli yang membatalkan pesanan, tetapi juga dari manipulasi isi paket setelah diterima.
Ia berharap kasus serupa mendapat perhatian lebih luas agar pelaku UMKM tidak terus menjadi korban. Perlindungan terhadap penjual kecil dinilai penting supaya sistem belanja daring tetap sehat dan saling menguntungkan.
Respons Warganet dan Imbauan
Video curhat Dyalodya telah ditonton lebih dari 54,4 ribu kali dan menuai banyak komentar dari warganet. Sebagian besar pengguna media sosial mengaku prihatin dan menyebut perilaku penipuan dalam transaksi COD sangat meresahkan.
Sejumlah komentar menyinggung kemungkinan kebocoran data pelanggan dari pihak tertentu, termasuk kurir atau karyawan. Ada pula warganet yang menyarankan agar toko menonaktifkan sistem COD demi mengurangi risiko kerugian.
Zahra menegaskan unggahannya dibuat sebagai bentuk edukasi kepada publik, terutama bagi konsumen yang merasa tidak pernah memesan tetapi menerima paket. Ia juga menyampaikan bahwa kasus seperti ini sudah beberapa kali terjadi dan tidak bisa dianggap sepele.
Melalui pesan itu, ia meminta masyarakat lebih waspada terhadap paket yang datang tanpa pesanan jelas. Ia berharap penjual, kurir, dan pembeli sama-sama menjaga kejujuran agar praktik belanja daring tidak disalahgunakan oleh oknum tak bertanggung jawab.
