Vanilla Hijab Soroti Biaya Marketplace yang Kian Mencekik Seller

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 26 Mei 2026 01:42 WIB 2
Vanilla Hijab Soroti Biaya Marketplace yang Kian Mencekik Seller

Brand fashion muslim lokal Vanilla Hijab menyoroti semakin beratnya beban biaya di marketplace yang dinilai menekan margin keuntungan penjual lokal. Founder Vanilla Hijab, Atina Maulina, menyebut kondisi itu telah mengganggu ruang gerak UMKM yang bergantung pada kanal penjualan digital.

Dalam keterangannya di Jakarta Selatan, Atina menjelaskan kenaikan potongan biaya layanan, biaya promosi, dan beban lain yang dibebankan secara sepihak membuat pelaku usaha sulit menjaga harga tetap kompetitif. Situasi tersebut mendorong Vanilla Hijab menyesuaikan harga secara bertahap, mengerem produksi, dan menambah nilai produk agar tetap menarik bagi konsumen.

Biaya Marketplace Kian Menekan

Atina mengatakan biaya marketplace terus naik, sementara harga bahan baku juga ikut meningkat. Kondisi itu membuat pelaku usaha sulit menaikkan harga secara agresif karena pasar cenderung menolak perubahan yang terlalu besar. Ia menilai kebijakan potongan layanan dan program gratis ongkir yang dibebankan kepada seller semakin mempersempit margin keuntungan.

Menurut dia, beban biaya tersebut tidak hanya datang dari satu pos pengeluaran, melainkan berlapis dan saling menumpuk. Seller juga kerap harus menanggung program promosi yang aktif secara otomatis tanpa persetujuan yang jelas. Akibatnya, banyak pelaku usaha harus lebih sering memeriksa laporan keuangan toko mereka agar tidak kecolongan biaya.

Vanilla Hijab pun memilih strategi menyesuaikan harga secara perlahan, misalnya dari Rp80.000 menjadi Rp95.000, agar konsumen tidak kaget. Perusahaan juga menahan volume produksi massal sambil memantau respons pasar. Langkah ini diambil agar bisnis tetap bertahan tanpa merusak persepsi harga di mata pelanggan.

Strategi Bertahan Vanilla Hijab

Di tengah tekanan tersebut, Vanilla Hijab memilih berfokus pada inovasi produk ketimbang sekadar bersaing lewat harga murah. Atina menilai perang harga hanya akan memperbesar risiko kerugian bagi pelaku usaha lokal. Karena itu, perusahaan berupaya menambah nilai produk melalui desain, fungsi, dan pengalaman penggunaan yang lebih baik.

Salah satu pengembangan yang dilakukan adalah hijab instan dengan magnet agar lebih praktis digunakan. Vanilla Hijab juga mulai beralih ke kemasan yang dapat dipakai kembali atau reusable. Menurut Atina, penambahan value seperti ini membuat konsumen merasa tetap memperoleh manfaat meski harga sedikit naik.

Perusahaan sebenarnya bermitra dengan produsen tekstil lokal besar seperti Gistex di Bandung. Namun, Atina mengakui sekitar separuh pasokan bahan baku lain di pasar Indonesia masih berkaitan dengan jalur impor. Hal itu menunjukkan tantangan industri fashion lokal tidak hanya berada di hilir, tetapi juga pada rantai pasok.

Keluhan Seller Soal Fitur Otomatis

Atina juga mengungkap pengalaman tidak menyenangkan saat berjualan di platform digital. Ia menyebut marketplace memang membantu memperluas pasar, tetapi kebijakannya belakangan dinilai kurang berpihak kepada penjual. Salah satu persoalan yang paling sering muncul adalah fitur promosi yang aktif sendiri tanpa pemberitahuan.

Ia menuturkan program gratis ongkir dan fitur lain kerap menyala otomatis, lalu biayanya dibebankan kepada seller. Bahkan setelah pihaknya meminta fitur itu dimatikan, proses penghentian sering kali baru dilakukan belakangan. Kondisi ini membuat penjual harus ekstra teliti dalam memantau setiap perubahan di dashboard toko mereka.

Masalah serupa juga disebut terjadi pada fitur promosi lain seperti Live Extra. Atina meyakini pengalaman itu tidak hanya dialami Vanilla Hijab, melainkan juga banyak seller lain di Indonesia. Ia menilai transparansi dan pemberitahuan yang jelas menjadi kebutuhan mendesak agar penjual tidak dirugikan.

Perlindungan UMKM Digital Mendesak

Selain biaya administrasi, Atina menyoroti lemahnya perlindungan bagi seller terhadap praktik penipuan bermodus retur barang. Meski Vanilla Hijab belum mengalami kasus tersebut, ia menyebut banyak pelaku UMKM lain yang dirugikan karena aturan pengembalian barang terlalu longgar. Ia menilai celah ini perlu segera ditertibkan agar tidak terus merugikan penjual jujur.

Atina berharap pemerintah hadir secara konkret untuk melindungi ekosistem digital yang kini menjadi tumpuan banyak UMKM. Ia mengingatkan bahwa UMKM menyumbang sekitar 60 persen terhadap perekonomian nasional, sementara sekitar 90 persen pasar mereka kini bergantung pada marketplace. Karena itu, regulasi mikro dinilai sama pentingnya dengan perhatian pada isu makro ekonomi.

Menurut dia, sektor e-commerce belum memiliki wadah formal yang cukup kuat untuk menyeimbangkan kepentingan penjual dan platform. Tanpa pengawasan yang lebih tegas, pelaku usaha lokal akan terus berada pada posisi tawar yang lemah. Atina menegaskan stabilitas harga dan kebijakan internal yang adil menjadi kunci keberlangsungan industri kreatif nasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!