Vanilla Hijab Soroti Beban Marketplace yang Kian Mencekik

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 01 Juni 2026 05:35 WIB 2
Vanilla Hijab Soroti Beban Marketplace yang Kian Mencekik

Beban biaya di marketplace dinilai semakin menekan pelaku UMKM lokal, termasuk brand fashion muslim Vanilla Hijab. Founder Vanilla Hijab, Atina Maulina, menyebut kenaikan potongan layanan, biaya promosi, dan beban operasional lain membuat ruang gerak penjual kian sempit.

Dalam keterangannya di Jakarta Selatan, Atina mengatakan kebijakan platform yang berubah sepihak membuat seller sulit menjaga harga tetap kompetitif. Kondisi itu memaksa perusahaan menaikkan harga secara bertahap, mengurangi produksi massal, dan mencari strategi baru agar tetap bertahan di pasar digital.

Beban Marketplace bagi UMKM

Atina menilai marketplace memang membantu memperluas jangkauan penjualan, tetapi manfaat itu kini dibarengi beban yang makin berat. Biaya layanan yang terus naik disebut menggerus margin keuntungan penjual lokal secara perlahan.

Ia menyebut potongan gratis ongkir dan biaya lain kerap dibebankan kepada seller tanpa ruang negosiasi yang memadai. Dalam kondisi yang sama, harga bahan baku juga meningkat, sementara pasar sulit menerima kenaikan harga jual.

Untuk menjaga arus penjualan, Vanilla Hijab memilih menyesuaikan harga produk secara bertahap. Contohnya, harga yang semula sekitar Rp80.000 dinaikkan menjadi Rp95.000 agar konsumen tidak kaget.

Langkah lain yang ditempuh adalah menahan volume produksi massal sambil memantau respons pasar. Strategi ini dipilih agar bisnis tidak terpukul lebih dalam oleh tekanan biaya yang datang bersamaan.

Strategi Harga dan Nilai Tambah

Di tengah persaingan dengan produk impor siap pakai atau white label, Vanilla Hijab tidak ingin sekadar bersaing lewat harga murah. Perusahaan memilih memperkuat inovasi agar produk tetap memiliki daya tarik berbeda.

Atina menjelaskan bahwa nilai tambah menjadi kunci untuk menjaga minat konsumen. Salah satu pengembangan yang dilakukan adalah hijab instan dengan magnet sehingga tidak lagi memerlukan pentul.

Perubahan juga dilakukan pada kemasan yang sebelumnya berbahan plastik. Kini, Vanilla Hijab mulai beralih ke packaging reusable agar konsumen merasakan manfaat tambahan dari produk yang dibeli.

Menurut Atina, strategi tersebut membuat kenaikan harga lebih mudah diterima pasar. Konsumen dinilai cenderung memahami harga yang sedikit lebih tinggi jika disertai fungsi dan kualitas yang meningkat.

Keluhan Soal Kebijakan Otomatis

Selain biaya layanan, Atina juga menyoroti fitur promosi yang kerap aktif otomatis tanpa pemberitahuan. Kondisi itu membuat seller menanggung biaya kampanye yang sebenarnya tidak mereka pilih.

Ia mencontohkan program gratis ongkir yang dapat menyala sendiri dan langsung dibebankan ke akun penjual. Hal serupa juga disebut terjadi pada fitur promosi lain seperti Live Extra.

Atina menilai masalah tersebut bukan hanya dialami Vanilla Hijab, melainkan juga banyak penjual lain di Indonesia. Karena itu, seller diminta lebih rajin memeriksa laporan biaya agar tidak dirugikan oleh pengaturan sistem.

Ia juga mengeluhkan beban tambahan ketika pembeli menggunakan paylater. Menurutnya, biaya transaksi itu dibebankan kepada seller, padahal fasilitas tersebut digunakan oleh pembeli.

Harapan Pada Perlindungan Negara

Atina menilai lemahnya proteksi bagi penjual semakin terlihat dari maraknya kasus retur bermodus penipuan atau fraud. Meski Vanilla Hijab belum pernah mengalami kerugian serupa, ia mengaku prihatin terhadap banyak UMKM lain yang terdampak.

Ia berharap pemerintah hadir secara konkret untuk melindungi ekosistem digital. Menurutnya, kebijakan tidak cukup hanya menyasar makro ekonomi, tetapi juga harus menyentuh regulasi mikro yang adil bagi penjual.

Atina mengingatkan bahwa UMKM menyumbang sekitar 60 persen terhadap penopang ekonomi Indonesia. Di saat sekitar 90 persen pasar mereka bergantung pada marketplace, posisi tawar seller dinilai perlu diperkuat.

Ia menilai sektor e-commerce belum memiliki wadah formal yang cukup kuat seperti industri pariwisata atau energi. Karena itu, pelaku usaha berharap pemerintah segera menertibkan kebijakan internal platform agar industri kreatif nasional tetap bertahan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!