Vanilla Hijab Soroti Beban Marketplace yang Kian Memberatkan

Lifestyle Nadia Safira Putri 27 Mei 2026 19:11 WIB 2
Vanilla Hijab Soroti Beban Marketplace yang Kian Memberatkan

Beban biaya di marketplace kian menjadi sorotan setelah Vanilla Hijab, merek fashion muslim lokal, mengungkap tekanan yang dirasakan para penjual. Founder Vanilla Hijab, Atina Maulina, menyebut kenaikan potongan layanan dan berbagai biaya lain telah menekan margin usaha secara serius. Kondisi itu dinilai berisiko mengganggu keberlangsungan UMKM yang selama ini mengandalkan kanal digital untuk menjangkau pasar.

Atina menjelaskan, persoalan tersebut bukan hanya berasal dari biaya operasional yang naik, tetapi juga dari kebijakan platform yang kerap berubah tanpa ruang negosiasi bagi penjual. Ia menilai seller semakin sulit mempertahankan harga produk karena di saat yang sama harga bahan baku juga ikut terdorong naik. Situasi ini membuat banyak pelaku usaha harus lebih cermat agar tetap bisa bertahan di tengah persaingan yang ketat.

Biaya Marketplace Kian Menekan

Atina mengatakan biaya layanan dan program gratis ongkir yang dibebankan ke seller terus meningkat dari waktu ke waktu. Menurut dia, kebijakan tersebut membuat pelaku usaha lokal semakin sempit dalam mengatur harga jual. Di saat yang sama, pasar juga belum mudah menerima kenaikan harga produk.

Ia menuturkan, tekanan biaya datang bersamaan dengan kenaikan harga bahan baku yang terjadi di hulu. Kondisi itu memaksa pelaku usaha memilih langkah yang sangat hati-hati dalam menentukan strategi penjualan. Jika harga dinaikkan terlalu cepat, konsumen bisa langsung menahan pembelian.

Vanilla Hijab akhirnya memilih menaikkan harga secara bertahap agar tidak mengejutkan pelanggan. Contohnya, beberapa produk naik dari kisaran Rp80.000 menjadi Rp95.000. Langkah ini diambil sambil memantau respons pasar dan menjaga volume produksi tetap terukur.

Atina menilai strategi tersebut lebih aman daripada memaksakan harga rendah yang justru menggerus bisnis. Ia menegaskan bahwa pelaku UMKM membutuhkan ruang bernapas untuk menutup biaya produksi, distribusi, dan promosi. Tanpa itu, pertumbuhan usaha lokal akan semakin sulit bergerak.

Strategi Naikkan Nilai Produk

Untuk tetap kompetitif, Vanilla Hijab memilih berfokus pada inovasi alih-alih sekadar bersaing harga. Atina menyebut pendekatan itu penting karena produk impor siap pakai sering hadir dengan harga yang lebih murah. Jika hanya mengikuti perang harga, kualitas dan keberlanjutan usaha bisa terdampak.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah hijab instan dengan magnet yang tidak memerlukan pentul. Selain itu, perusahaan juga mulai beralih ke kemasan reusable untuk menambah nilai guna produk. Perubahan ini diharapkan membuat konsumen merasa memperoleh manfaat lebih besar.

Atina menjelaskan bahwa added value menjadi kunci agar kenaikan harga tetap dapat diterima pasar. Konsumen, menurut dia, cenderung lebih memahami harga baru jika manfaat produk ikut meningkat. Dengan begitu, nilai merek juga dapat terus terjaga.

Langkah inovasi ini sekaligus menjadi cara Vanilla Hijab menjaga identitas produk di tengah persaingan yang semakin padat. Perusahaan ingin tetap relevan tanpa harus mengorbankan standar kualitas. Pendekatan tersebut dinilai lebih sehat bagi bisnis jangka panjang.

Keluhan Soal Kebijakan Otomatis

Di sisi lain, Atina mengkritik kebiasaan marketplace yang dianggap kerap mengaktifkan fitur promosi tanpa persetujuan jelas dari penjual. Ia menyebut pengalaman seperti gratis ongkir dan kampanye lain sering menyala otomatis. Akibatnya, biaya tambahan justru dibebankan kepada seller.

Menurut dia, kondisi itu menimbulkan beban yang tidak transparan bagi pelaku usaha. Penjual baru mengetahui adanya biaya setelah memeriksa laporan atau mengajukan konfirmasi ke platform. Saat diminta dimatikan, fitur tersebut baru dihentikan.

Atina juga menyoroti fitur lain seperti Live Extra yang disebut dapat aktif tanpa pemberitahuan. Ia meyakini masalah ini tidak hanya dialami oleh Vanilla Hijab, melainkan juga ribuan penjual lain. Karena itu, seller diminta rutin mengecek setiap biaya yang muncul di akun toko mereka.

Ia menambahkan, beban lain juga muncul saat pembeli menggunakan paylater, tetapi biayanya justru ditanggung seller. Menurutnya, praktik seperti itu terasa tidak adil karena pengguna layanan bukan pihak penjual. Kondisi ini semakin memperlihatkan perlunya aturan yang lebih jelas dan berpihak.

Harapan Perlindungan Pemerintah

Selain soal biaya, Atina menilai ekosistem marketplace masih lemah dalam memberikan perlindungan terhadap kasus penipuan dengan modus retur barang. Meski Vanilla Hijab belum pernah menjadi korban, ia mengaku prihatin melihat banyak UMKM lain dirugikan. Kelonggaran aturan pengembalian barang dinilai membuka celah bagi praktik fraud.

Atina menegaskan bahwa pemerintah perlu hadir secara lebih konkret untuk menjaga ekosistem digital yang menopang ekonomi nasional. Ia mengingatkan bahwa UMKM menyumbang sekitar 60 persen terhadap perekonomian Indonesia. Sementara itu, sekitar 90 persen pasar mereka kini bergantung pada marketplace.

Menurut dia, sektor e-commerce belum memiliki wadah formal yang kuat untuk memperjuangkan kepentingan penjual seperti sektor lain. Akibatnya, banyak pedagang daring bergerak sendiri tanpa posisi tawar yang seimbang. Situasi tersebut membuat perlindungan terhadap seller menjadi semakin mendesak.

Atina berharap pemerintah tidak hanya fokus pada kebijakan makro ekonomi, tetapi juga mengatur aspek mikro yang menyentuh langsung pelaku usaha. Ia menilai penertiban kebijakan internal marketplace sangat penting untuk menjaga keberlangsungan industri kreatif nasional. Tanpa langkah itu, pelaku usaha lokal akan terus menghadapi tekanan yang berat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!