Vanilla Hijab Soroti Beban Biaya Marketplace bagi Seller

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 28 Mei 2026 05:36 WIB 3
Vanilla Hijab Soroti Beban Biaya Marketplace bagi Seller

Biaya operasional di marketplace dinilai semakin menekan pelaku usaha lokal, terutama penjual yang bergantung pada kanal digital untuk menjaga omzet. Keluhan itu disampaikan oleh Vanilla Hijab, brand fashion muslim lokal yang didirikan Atina Maulina dan Intan Kusuma Fauzia, saat membahas kondisi e-commerce yang kian tidak ramah bagi seller.

Atina menilai, kenaikan potongan biaya layanan, beban promo, hingga biaya tambahan lain membuat margin keuntungan pelaku UMKM terus tergerus. Dalam kondisi harga bahan baku naik dan pasar sulit menerima kenaikan harga, ia menyebut banyak penjual terpaksa menahan produksi, menaikkan harga perlahan, dan mencari cara agar tetap bertahan.

Biaya Marketplace Tekan Seller Lokal

Atina mengungkapkan bahwa beban marketplace kini sudah berada di tahap yang mengkhawatirkan bagi kelangsungan bisnis. Ia menyebut potongan biaya layanan yang terus meningkat secara sepihak membuat ruang gerak penjual semakin sempit. Situasi itu juga diperparah oleh kewajiban menanggung program promosi yang tidak selalu dipilih sendiri oleh seller.

Menurut dia, kondisi tersebut terjadi ketika biaya marketplace naik, sementara biaya bahan baku juga ikut meningkat. Di sisi lain, pasar cenderung sulit menerima harga jual yang lebih tinggi. Akibatnya, pelaku usaha harus menanggung tekanan dari dua arah sekaligus.

Vanilla Hijab mengaku terpaksa menaikkan harga produk secara bertahap agar perubahan tidak terlalu mengejutkan konsumen. Contohnya, harga produk yang semula berada di kisaran Rp80.000 naik perlahan menjadi Rp95.000. Perusahaan juga mengerem volume produksi massal sambil memantau respons pasar.

Langkah itu diambil karena penjualan di marketplace masih menjadi tumpuan utama bagi banyak pelaku usaha kecil. Namun, ketika biaya terus naik, ruang untuk mempertahankan harga kompetitif menjadi semakin sempit. Dalam pandangan Atina, kondisi ini dapat mengganggu keberlanjutan bisnis UMKM jika tidak segera dibenahi.

Strategi Bertahan Dengan Inovasi

Untuk menghadapi persaingan dengan produk impor siap pakai atau white label yang lebih murah, Vanilla Hijab memilih berfokus pada inovasi. Atina menilai memotong harga bukan solusi jangka panjang karena berisiko merusak struktur bisnis. Karena itu, perusahaan berusaha meningkatkan nilai tambah pada setiap produk yang dijual.

Inovasi yang dilakukan antara lain pengembangan hijab instan dengan magnet sehingga lebih praktis dipakai. Selain itu, perusahaan juga mulai beralih dari kemasan plastik ke packaging yang bisa digunakan kembali. Menurut Atina, perubahan kecil seperti ini dapat memberi persepsi nilai yang lebih baik di mata konsumen.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga masih bisa diterima apabila konsumen merasakan manfaat tambahan. Nilai tambah itu menjadi pembeda di tengah persaingan produk yang semakin padat. Dengan cara tersebut, Vanilla Hijab berupaya menjaga daya saing tanpa mengorbankan kualitas bisnis.

Meski telah bermitra dengan produsen tekstil lokal besar seperti Gistex di Bandung, tantangan rantai pasok tetap ada. Atina menyebut sekitar 50 persen bahan baku lain di pasar Indonesia masih tidak lepas dari jalur impor secara tidak langsung. Kondisi ini membuat biaya produksi tetap rentan terhadap perubahan harga global.

Keluhan Soal Fitur Otomatis

Selain biaya yang terus menekan, Atina juga menyoroti pengalaman kurang menyenangkan selama berjualan di platform digital. Ia mengakui marketplace memang membantu memperluas pasar, tetapi kebijakannya belakangan dinilai semakin tidak berpihak kepada penjual. Salah satu yang paling dikeluhkan adalah aktivasi fitur promosi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Menurut dia, fitur seperti gratis ongkir kerap aktif sendiri meski pihak seller tidak ikut kampanye. Setelah dicek, biaya dari program itu justru dibebankan kepada penjual. Saat dikonfirmasi, pihak platform disebut hanya menyampaikan bahwa fitur tersebut menyala otomatis.

Keluhan serupa, kata Atina, juga muncul pada fitur promosi lain seperti Live Extra. Ia meyakini praktik itu tidak hanya dialami Vanilla Hijab, tetapi juga banyak seller di Indonesia. Karena itu, penjual harus lebih rajin memeriksa laporan dan biaya yang dibebankan oleh platform.

Atina juga menyinggung beban tambahan ketika pembeli menggunakan paylater. Menurut dia, biaya tersebut tetap dibebankan kepada seller, padahal fasilitas itu digunakan pembeli. Ia menilai situasi ini menunjukkan perlunya transparansi yang lebih kuat dalam ekosistem marketplace.

Perlindungan untuk Ekosistem Digital

Di luar soal biaya, Atina menyoroti lemahnya perlindungan terhadap penjual dalam kasus penipuan bermodus retur barang. Ia menyebut sistem proteksi bagi seller masih belum cukup kuat untuk mencegah kerugian akibat fraud. Walaupun Vanilla Hijab belum pernah menjadi korban, ia mengaku prihatin terhadap banyak UMKM lain yang terdampak.

Menurutnya, kelonggaran aturan pengembalian barang dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Dalam situasi seperti itu, penjual justru berada pada posisi paling rentan. Karena itu, ia menilai platform perlu memperkuat mekanisme verifikasi dan penyelesaian sengketa.

Atina menegaskan bahwa kehadiran negara dibutuhkan secara konkret untuk melindungi ekosistem digital. Ia mengingatkan bahwa UMKM menyumbang sekitar 60 persen penopang ekonomi Indonesia dan sekitar 90 persen pasarnya kini bergantung pada marketplace. Dengan kondisi sebesar itu, regulasi yang adil menjadi kebutuhan mendesak.

Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada kebijakan makro ekonomi, tetapi juga pada aturan mikro yang menyentuh langsung penjual daring. Menurut dia, sektor e-commerce belum memiliki wadah formal yang kuat untuk menyeimbangkan posisi seller dan platform. Tanpa pembenahan serius, pelaku usaha lokal dikhawatirkan terus kehilangan daya tawar di pasar digital.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!