UPF Tidak Selalu Sama, Ini Penjelasannya

Lifestyle Clara Monica 01 Juni 2026 23:30 WIB 2
UPF Tidak Selalu Sama, Ini Penjelasannya

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di media sosial, terutama setelah sarden kalengan disebut bukan termasuk kelompok yang sama dengan makanan olahan yang kerap dipersoalkan. Perbincangan ini memicu pertanyaan baru tentang apakah semua produk UPF otomatis buruk bagi kesehatan. Padahal, jawabannya tidak sesederhana itu karena dampaknya dipengaruhi jenis pangan, kandungan gizi, dan frekuensi konsumsi.

Dalam klasifikasi NOVA, pangan dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahannya, mulai dari makanan segar hingga UPF. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tidak semua produk dalam kategori ini memiliki risiko kesehatan yang sama. Temuan tersebut penting dipahami agar masyarakat tidak menilai makanan hanya dari label olahannya semata.

UPF dan klasifikasi NOVA

Klasifikasi NOVA digunakan untuk membedakan pangan berdasarkan tingkat pengolahan, bukan semata-mata berdasarkan bahan asalnya. Kelompok pertama terdiri dari unprocessed or minimally processed foods, lalu ada processed culinary ingredients, processed foods, dan ultra-processed foods. Sistem ini membantu melihat bagaimana proses produksi memengaruhi karakter nutrisi dan potensi dampak kesehatan.

UPF identik dengan produk yang melewati banyak tahap industri, serta sering mengandung bahan tambahan seperti perisa, pewarna, pemanis, dan pengawet. Karena itu, makanan seperti mi instan, sosis, nugget, dan minuman kemasan kerap langsung dicap tidak sehat. Namun, tidak semua produk dalam kelompok tersebut memiliki profil gizi yang sama.

Sejumlah produk UPF memang cenderung tinggi gula, garam, dan lemak, sehingga lebih sering dikaitkan dengan risiko kesehatan. Akan tetapi, ada juga produk yang tetap memiliki komposisi nutrisi relatif baik dibandingkan produk sejenis. Perbedaan inilah yang membuat penilaian terhadap UPF perlu dilakukan secara lebih hati-hati.

Di tengah maraknya informasi di media sosial, pemahaman terhadap NOVA menjadi penting agar masyarakat tidak terjebak generalisasi. Label UPF sebaiknya dipandang sebagai indikator awal, bukan vonis mutlak. Dengan begitu, konsumen dapat menilai makanan berdasarkan komposisi, porsi, dan pola konsumsi secara lebih objektif.

Risiko kesehatan UPF

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care pada 2023 menyoroti kaitan antara konsumsi UPF dan risiko diabetes tipe 2. Studi itu menggunakan data dari lebih dari 198 ribu partisipan di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit tersebut.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa hubungan itu tidak berlaku sama untuk semua jenis UPF. Beberapa kelompok produk menunjukkan asosiasi yang lebih kuat dibanding kelompok lainnya. Artinya, risiko kesehatan dari UPF sangat dipengaruhi karakteristik produknya.

Produk seperti minuman berpemanis, refined breads, produk hewani olahan, dan ready-to-eat dishes lebih sering dikaitkan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2. Kandungan gula tambahan, natrium, dan lemak jenuh diduga menjadi faktor yang memperbesar risiko tersebut. Pola konsumsi yang berlebihan juga dapat memperburuk dampaknya.

Sebaliknya, beberapa produk lain seperti yogurt, whole-grain breads, dan sereal tertentu menunjukkan hasil yang berbeda dalam penelitian itu. Temuan ini memperlihatkan bahwa pengelompokan UPF tidak bisa disamakan begitu saja dengan kualitas gizi yang buruk. Penilaian harus tetap melihat komposisi dan manfaat masing-masing produk.

Produk UPF yang berbeda

Perdebatan soal sarden kalengan menjadi contoh bahwa tidak semua makanan olahan berada dalam kategori risiko yang sama. Pada beberapa produk, pengolahan justru membantu memperpanjang daya simpan dan menjaga keamanan pangan. Selama komposisinya masih terkontrol, makanan tersebut tidak selalu identik dengan pilihan yang tidak sehat.

Yogurt tertentu, misalnya, masih dapat memberikan manfaat dari sisi protein dan probiotik, meski masuk kategori UPF dalam klasifikasi NOVA. Begitu pula dengan roti gandum tertentu yang tetap menawarkan serat lebih tinggi dibanding roti putih biasa. Karena itu, konteks produk menjadi sangat penting dalam menilai kualitas pangan.

Di sisi lain, produk yang tinggi gula tambahan dan natrium tetap perlu dibatasi karena dapat mendorong risiko metabolik. Konsumsi berlebihan dalam jangka panjang berpotensi berdampak pada berat badan, kadar gula darah, dan kesehatan jantung. Hal ini menegaskan bahwa yang paling penting bukan hanya prosesnya, tetapi juga kandungan dan frekuensi konsumsi.

Masyarakat perlu lebih cermat membaca label gizi, daftar bahan, dan takaran saji sebelum membeli produk kemasan. Kebiasaan ini dapat membantu membedakan produk yang masih bisa masuk pola makan seimbang dan produk yang sebaiknya dibatasi. Dengan pendekatan tersebut, keputusan konsumsi menjadi lebih rasional dan berbasis informasi.

Cara memilih makanan lebih cermat

Ahli gizi umumnya menyarankan agar masyarakat tidak hanya terpaku pada istilah UPF saat memilih makanan. Fokus utama tetap perlu diarahkan pada kandungan gizi, kualitas bahan, dan keseimbangan menu harian. Pendekatan ini dinilai lebih praktis untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Membiasakan diri mengonsumsi makanan segar atau minim olahan tetap menjadi pilihan terbaik untuk jangka panjang. Namun, dalam situasi tertentu, makanan kemasan bisa menjadi alternatif yang membantu memenuhi kebutuhan praktis. Kuncinya adalah menempatkan produk tersebut sebagai bagian dari pola makan, bukan sumber utama nutrisi.

Kebijakan makan sehat juga perlu mempertimbangkan konteks sosial dan ekonomi, karena tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap bahan pangan segar. Produk olahan tertentu dapat membantu memenuhi kebutuhan energi dan gizi jika dipilih dengan cermat. Oleh karena itu, edukasi publik sebaiknya menekankan literasi pangan, bukan sekadar larangan.

Pemahaman yang lebih proporsional terhadap UPF akan membantu masyarakat membuat keputusan yang lebih tepat. Tidak semua makanan dalam kategori ini berdampak sama, sehingga penilaian perlu berbasis bukti ilmiah. Dengan cara itu, konsumsi pangan kemasan dapat tetap selaras dengan tujuan menjaga kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!