UPF Tidak Selalu Sama, Ini Penjelasan Peneliti

Lifestyle Anindya Kirana Putri 29 Mei 2026 17:03 WIB 5
UPF Tidak Selalu Sama, Ini Penjelasan Peneliti

Istilah ultra-processed food atau UPF kembali menjadi sorotan setelah sarden kalengan dianggap tidak masuk kategori tersebut. Perbincangan ini memicu pertanyaan baru, apakah semua makanan UPF benar-benar sama buruknya bagi kesehatan.

Dalam sistem klasifikasi NOVA, pangan dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahannya. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa risiko kesehatan dari UPF tidak selalu seragam, karena sangat dipengaruhi komposisi dan jenis produknya.

UPF dan Risiko Kesehatan

UPF kerap langsung dipandang sebagai makanan yang harus dihindari. Pandangan ini muncul karena banyak produk dalam kategori tersebut mengandung gula, garam, dan lemak dalam kadar tinggi.

Meski demikian, label UPF tidak otomatis berarti produk itu selalu berbahaya. Sejumlah studi menemukan bahwa dampaknya terhadap kesehatan dapat berbeda-beda, tergantung jenis makanan dan pola konsumsinya.

Karena itu, penilaian terhadap makanan tidak cukup hanya melihat kategori pengolahannya. Kandungan gizi dan porsi konsumsi tetap perlu diperhitungkan secara lebih cermat.

Temuan Studi Diabetes Care

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care pada 2023 meneliti data dari lebih dari 198 ribu partisipan di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2.

Namun, peneliti juga menemukan bahwa tidak semua kelompok UPF memiliki hubungan yang sama dengan risiko tersebut. Artinya, efek kesehatan dari tiap produk dalam kategori ini tidak bisa disamaratakan.

Temuan ini penting karena memberi gambaran yang lebih rinci tentang UPF. Masyarakat diimbau untuk lebih kritis dalam membaca konteks hasil penelitian, bukan sekadar mengikuti label populer.

Produk yang Perlu Diwaspadai

Dalam studi tersebut, minuman berpemanis, refined breads, produk hewani olahan, dan ready-to-eat dishes lebih sering dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Jenis pangan ini umumnya memiliki kandungan gula, natrium, atau lemak yang lebih tinggi.

Sementara itu, beberapa produk lain menunjukkan hasil yang berbeda dalam analisis yang sama. Yogurt, roti gandum utuh, dan sereal tertentu tidak selalu memperlihatkan hubungan risiko yang serupa.

Perbedaan ini menegaskan bahwa kualitas nutrisi tetap menjadi faktor utama. Konsumen sebaiknya tidak hanya melihat status UPF, tetapi juga membaca label gizi sebelum membeli.

Memilih Makanan dengan Bijak

Di tengah ramainya pembahasan soal UPF, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua makanan olahan harus dihindari sepenuhnya. Yang lebih penting adalah membangun pola makan yang seimbang dan beragam.

Pilihan makanan dengan kandungan serat, protein, dan mikronutrien yang baik tetap dapat menjadi bagian dari pola makan harian. Sebaliknya, produk yang tinggi gula, garam, dan lemak sebaiknya dibatasi.

Dengan pendekatan tersebut, konsumen dapat lebih bijak dalam menilai makanan kemasan. Keputusan yang tepat akan membantu menjaga kesehatan tanpa perlu terjebak pada stigma terhadap seluruh produk UPF.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!