UPF Tidak Selalu Buruk, Ini Penjelasannya

Lifestyle Clara Monica 27 Mei 2026 20:34 WIB 2
UPF Tidak Selalu Buruk, Ini Penjelasannya

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di media sosial, terutama setelah sarden kalengan disebut tidak termasuk kategori tersebut. Perdebatan ini memunculkan pertanyaan penting, yakni apakah semua makanan UPF otomatis berbahaya bagi kesehatan.

Dalam klasifikasi NOVA, pangan dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahannya, mulai dari makanan minim proses hingga UPF. Sejumlah penelitian menunjukkan, dampak kesehatan dari produk UPF tidak selalu sama, sehingga penilaiannya perlu lebih cermat.

UPF dan Klasifikasi NOVA

Klasifikasi NOVA membagi pangan ke dalam empat kelompok utama berdasarkan proses pengolahannya. Kelompok itu meliputi unprocessed or minimally processed foods, processed culinary ingredients, processed foods, dan ultra-processed foods.

UPF berada pada kategori paling tinggi dalam tingkat pengolahan. Produk pada kelompok ini umumnya dibuat melalui proses industri yang panjang, dengan tambahan bahan seperti perisa, pemanis, pengawet, dan zat aditif lain.

Contoh makanan yang sering diasosiasikan dengan UPF adalah mi instan, sosis, nugget, dan minuman kemasan. Namun, label UPF tidak otomatis berarti seluruh produk tersebut memiliki dampak kesehatan yang sama.

Karena itu, penilaian terhadap makanan tidak cukup hanya melihat apakah produk tersebut olahan atau bukan. Kandungan gizi, ukuran porsi, serta frekuensi konsumsi juga ikut menentukan dampaknya bagi tubuh.

UPF Tidak Selalu Sama

Banyak orang kini menghindari makanan UPF karena dianggap pasti buruk bagi kesehatan. Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak bisa digeneralisasi untuk semua produk.

Sejumlah penelitian menemukan, beberapa jenis UPF memang lebih sering berkaitan dengan risiko kesehatan. Produk yang tinggi gula, garam, dan lemak umumnya menjadi perhatian utama dalam berbagai studi.

Di sisi lain, ada pula produk dalam kategori UPF yang tidak menunjukkan risiko serupa. Temuan ini menunjukkan bahwa kelompok UPF sangat beragam, sehingga perlu dibedakan satu per satu.

Perbedaan komposisi dan cara konsumsi menjadi faktor yang penting untuk dipahami. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya terpaku pada label proses, tetapi juga pada kualitas gizinya.

Riset Diabetes Care

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care pada 2023 menjadi salah satu rujukan penting dalam perdebatan ini. Penelitian tersebut menggunakan data lebih dari 198 ribu partisipan di Amerika Serikat.

Hasil studi menunjukkan bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa pola makan tinggi makanan olahan dapat berdampak pada kesehatan metabolik.

Meski demikian, peneliti juga menemukan bahwa tidak semua kelompok UPF memiliki hubungan yang sama dengan risiko penyakit. Artinya, dampak kesehatan sangat dipengaruhi oleh jenis produk yang dikonsumsi.

Hasil ini menegaskan perlunya pembacaan yang lebih hati-hati terhadap istilah UPF. Masyarakat disarankan tidak menilai makanan hanya dari kategorinya, tetapi juga dari kandungan dan pola konsumsinya.

Pilih UPF dengan Bijak

Produk seperti minuman berpemanis, refined breads, produk hewani olahan, dan ready-to-eat dishes lebih sering dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Kelompok ini umumnya memiliki kandungan gula, garam, atau lemak yang relatif tinggi.

Sementara itu, beberapa produk lain seperti yogurt, roti gandum utuh, dan sereal tertentu menunjukkan hasil penelitian yang berbeda. Pada kelompok ini, manfaat atau dampaknya dapat bergantung pada komposisi gizinya.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa label UPF tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar dalam menentukan sehat atau tidaknya makanan. Pemahaman yang lebih lengkap akan membantu masyarakat memilih pangan secara lebih tepat.

Dengan membaca label, memperhatikan kandungan gizi, dan membatasi konsumsi makanan tinggi gula, garam, serta lemak, risiko kesehatan dapat ditekan. Pendekatan ini menjadi langkah yang lebih bijak dibanding sekadar menghindari semua makanan olahan tanpa pengecualian.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!