Istilah ultra-processed food atau UPF kembali ramai dibicarakan di media sosial, terutama setelah sarden kalengan yang sempat dianggap termasuk UPF justru dinilai bukan bagian dari kategori itu. Perdebatan ini memunculkan anggapan bahwa UPF pasti tidak sehat, sementara non-UPF otomatis lebih baik bagi tubuh. Namun, pakar teknologi pangan IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak sesederhana itu. Ia menilai, penilaian terhadap pangan perlu dilakukan secara lebih hati-hati agar tidak menyesatkan masyarakat.
Menurutnya, konsep UPF masih menyimpan perdebatan ilmiah karena definisinya belum sepenuhnya konsisten dalam penerapan. Akibatnya, banyak pangan olahan yang sebenarnya aman dan bergizi ikut terkena stigma negatif. Di sisi lain, tidak semua pangan yang minim proses otomatis lebih baik dari segi kesehatan. Karena itu, masyarakat diminta melihat pangan secara utuh, bukan hanya dari label kategorinya.
UPF dan Persepsi Kesehatan
Prof Purwiyatno menjelaskan bahwa istilah UPF kerap menimbulkan salah paham di tengah masyarakat. Definisi yang belum benar-benar seragam membuat penerapannya sering bias, multitafsir, dan tidak konsisten. Kondisi ini kemudian melahirkan penilaian yang terlalu sederhana terhadap makanan olahan. Padahal, karakteristik setiap produk pangan bisa sangat berbeda.
Ia menilai masalah muncul saat suatu produk langsung dicap tidak menyehatkan hanya karena masuk kategori UPF. Padahal, produk tersebut bisa saja mengandung zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Dalam kondisi tertentu, pangan olahan bahkan dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Karena itu, label UPF tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar penilaian.
Menurutnya, pendekatan yang terlalu menyederhanakan justru berisiko mengaburkan informasi penting bagi konsumen. Masyarakat bisa terdorong menghindari produk tertentu tanpa memahami komposisi dan manfaatnya. Di sisi lain, pangan dengan proses minimal pun tetap bisa menjadi kurang sehat jika dikonsumsi berlebihan. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pangan tidak ditentukan oleh satu faktor saja.
Pangan Olahan yang Sering Terseret
Prof Purwiyatno mencontohkan bahwa sejumlah pangan olahan yang aman justru ikut terseret stigma UPF. Susu UHT, pangan fortifikasi, hingga beberapa produk lokal dari industri kecil dan menengah dapat masuk dalam kelompok yang diperdebatkan. Produk-produk tersebut sebenarnya dibuat untuk memenuhi kebutuhan praktis sekaligus menjaga nilai gizi. Namun, label UPF kerap membuat citranya langsung merosot di mata publik.
Ia menilai, stigma semacam itu berpotensi merugikan produsen yang sudah memenuhi standar keamanan pangan. Konsumen juga bisa kehilangan akses terhadap produk yang sebetulnya bermanfaat bagi kelompok tertentu. Dalam beberapa kasus, pangan olahan justru membantu pemerataan asupan gizi di masyarakat. Karena itu, penilaian yang adil perlu mempertimbangkan konteks produksi dan tujuan konsumsi.
Selain itu, tidak semua proses pengolahan merusak kualitas pangan secara otomatis. Ada proses yang justru menjaga keamanan, memperpanjang daya simpan, dan menambah nilai gizi. Jika hal ini diabaikan, masyarakat bisa terjebak pada dikotomi yang keliru antara makanan baik dan buruk. Padahal, realitas pangan jauh lebih kompleks daripada sekadar klasifikasi UPF.
Nilai Gizi Lebih Penting
Menurut Prof Purwiyatno, penilaian terhadap pangan sebaiknya tidak hanya bertumpu pada tingkat pengolahan. Kandungan gizi, keamanan pangan, porsi, serta frekuensi konsumsi perlu diperhitungkan secara bersamaan. Dengan begitu, masyarakat bisa menilai apakah sebuah produk layak dikonsumsi dalam pola makan sehari-hari. Pendekatan ini dinilai lebih ilmiah dan lebih dekat dengan kebutuhan nyata konsumen.
Ia menegaskan bahwa tidak ada satu kategori yang otomatis menentukan sehat atau tidak sehatnya pangan. Sebuah produk bisa saja tergolong olahan, tetapi tetap bergizi dan aman dikonsumsi. Sebaliknya, makanan yang terlihat alami pun belum tentu baik jika komposisinya tidak seimbang. Karena itu, pemahaman gizi perlu ditempatkan di atas sekadar label populer.
Di tengah maraknya konten kesehatan di media sosial, masyarakat diminta lebih kritis dalam menerima informasi. Klaim yang menyederhanakan makanan menjadi hitam-putih berisiko membentuk pola makan yang kurang tepat. Sumber informasi dari ahli dan lembaga kredibel menjadi penting untuk menjadi rujukan. Dengan cara ini, keputusan memilih makanan bisa dilakukan secara lebih bijak dan proporsional.
Bijak Memilih Makanan Olahan
Fenomena UPF menunjukkan bahwa edukasi pangan masih sangat dibutuhkan di masyarakat. Istilah yang viral sering kali diterima tanpa pemahaman yang utuh, lalu berubah menjadi kesimpulan yang terlalu jauh. Akibatnya, publik mudah menganggap semua makanan kemasan sebagai ancaman. Padahal, banyak produk olahan justru lahir untuk menjawab kebutuhan gizi, kepraktisan, dan keamanan.
Karena itu, konsumen disarankan membaca label gizi, memperhatikan komposisi, dan menyesuaikan konsumsi dengan kebutuhan tubuh. Porsi yang tepat dan frekuensi yang wajar tetap menjadi kunci dalam pola makan sehat. Makanan olahan tidak harus dihindari sepenuhnya, selama dipilih secara cermat. Sikap bijak ini akan membantu masyarakat menjaga keseimbangan dalam konsumsi harian.
Prof Purwiyatno menekankan bahwa penilaian pangan harus lebih komprehensif daripada sekadar mengikuti tren. Masyarakat perlu memahami bahwa makanan sehat ditentukan oleh banyak faktor, bukan hanya tingkat proses pengolahannya. Dengan pemahaman yang benar, stigma terhadap pangan olahan dapat dikurangi. Pada akhirnya, keputusan konsumsi yang baik akan lebih bermanfaat bagi kesehatan jangka panjang.
