UPF Tak Selalu Sama, Ini Penjelasan Peneliti

Lifestyle Anindya Kirana Putri 28 Mei 2026 12:12 WIB 2
UPF Tak Selalu Sama, Ini Penjelasan Peneliti

Istilah ultra-processed food atau UPF kembali ramai dibicarakan di media sosial setelah sarden kalengan disebut tidak termasuk kategori tersebut. Perdebatan ini memicu pertanyaan, apakah semua makanan UPF memang otomatis buruk bagi kesehatan.

Dalam klasifikasi NOVA, pangan dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahan, mulai dari makanan tidak olahan hingga ultra-processed foods. Sejumlah penelitian menunjukkan, dampak kesehatan dari produk UPF tidak selalu sama, tergantung jenis makanannya.

Memahami Kategori UPF

Klasifikasi NOVA digunakan untuk menilai makanan berdasarkan tingkat pengolahan, bukan semata-mata dari bahan asalnya. Sistem ini membagi pangan ke dalam empat kelompok, yakni makanan tidak atau minim olahan, bahan kuliner olahan, makanan olahan, dan UPF.

Kelompok UPF biasanya mencakup produk yang melalui banyak tahap industri dan mengandung bahan tambahan tertentu. Contohnya antara lain mi instan, sosis, nugget, dan minuman kemasan.

Meski begitu, label UPF tidak selalu berarti suatu produk pasti berbahaya bagi tubuh. Penilaian risiko tetap perlu melihat komposisi, kandungan gizi, serta pola konsumsi secara keseluruhan.

Temuan Studi Diabetes Care

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care pada 2023 meneliti lebih dari 198 ribu partisipan di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2.

Namun, peneliti menemukan bahwa hubungan tersebut tidak berlaku sama untuk semua kelompok UPF. Beberapa produk menunjukkan kaitan yang lebih kuat dibandingkan produk lainnya.

Temuan ini memperlihatkan bahwa kategori besar UPF tidak bisa disamaratakan sebagai sumber risiko tunggal. Dengan kata lain, konteks jenis produk menjadi penting dalam membaca hasil penelitian.

Produk Yang Lebih Berisiko

Dalam studi tersebut, minuman berpemanis termasuk kelompok yang paling sering dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Selain itu, refined breads, produk hewani olahan, dan makanan siap santap juga menunjukkan pola serupa.

Kelompok-kelompok ini umumnya memiliki kandungan gula, garam, atau lemak yang lebih tinggi. Kombinasi tersebut dapat berpengaruh terhadap kesehatan metabolik bila dikonsumsi berlebihan.

Karena itu, perhatian utama bukan hanya pada status UPF, tetapi juga pada profil gizinya. Makanan yang tampak praktis belum tentu menjadi pilihan terbaik jika dikonsumsi terlalu sering.

Produk Yang Tidak Seragam

Di sisi lain, beberapa produk UPF justru tidak menunjukkan hasil yang sama dalam penelitian tersebut. Yogurt, roti gandum utuh, dan sereal tertentu termasuk di antaranya.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa proses industri tidak selalu identik dengan dampak kesehatan yang buruk. Faktor lain seperti kandungan serat, protein, dan gula turut menentukan kualitas suatu produk.

Masyarakat perlu lebih cermat membaca label gizi sebelum membeli makanan kemasan. Pendekatan ini lebih membantu daripada hanya menilai makanan dari istilah UPF semata.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!