UMKM Yogya Raup Omzet Rp 1 M dari Pasok Susu MBG

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 25 Mei 2026 21:04 WIB 2
UMKM Yogya Raup Omzet Rp 1 M dari Pasok Susu MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberi dorongan besar bagi pelaku usaha kecil di daerah. Salah satu yang merasakan manfaat langsung adalah Sweet Sundae, UMKM pengolahan susu asal Yogyakarta, yang mengantongi omzet hingga Rp 1 miliar dari pasokan susu untuk program tersebut.

Owner sekaligus Co-founder Sweet Sundae, Yuki Rahmayanti, mengatakan perusahaan mulai mendapat amanah memasok susu untuk MBG sejak Februari 2025. Saat ini, setidaknya lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Tengah mengambil stok susu dari usahanya secara rutin.

MBG Dorong Usaha Susu

Yuki menjelaskan, setiap SPPG mengambil sekitar 12 ribu kemasan susu per hari dengan ukuran 100 mililiter. Pengiriman dilakukan dua kali dalam sepekan agar pasokan tetap terjaga.

SPPG yang menjadi mitra Sweet Sundae tersebar di beberapa wilayah, seperti Magelang, Purworejo, Cilacap, dan Semarang. Pola distribusi ini membuat kebutuhan produksi meningkat tajam dalam waktu singkat.

Menurut Yuki, lonjakan permintaan dari program MBG menjadi sinyal positif bagi UMKM pangan. Kondisi itu menunjukkan bahwa rantai pasok lokal dapat ikut tumbuh ketika tersambung ke program pemerintah.

Ia menilai kepercayaan dari para pengelola SPPG menjadi modal penting bagi usahanya. Karena itu, Sweet Sundae berupaya menjaga kualitas susu agar pasokan tetap konsisten dan sesuai kebutuhan.

Produksi Susu Kian Meningkat

Permintaan yang terus bertambah membuat Sweet Sundae memperbesar kapasitas produksinya. Perusahaan kemudian membuka peternakan sendiri untuk memastikan ketersediaan bahan baku tetap aman.

Saat ini, Sweet Sundae memelihara setidaknya 97 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan produksi. Dari jumlah tersebut, perusahaan mampu menghasilkan sekitar 4,5 ton susu per hari.

Yuki menyebut langkah memperkuat hulu usaha menjadi keputusan penting di tengah tingginya permintaan. Dengan cara itu, perusahaan dapat mengurangi risiko kekurangan bahan baku saat jadwal pengiriman meningkat.

Selain menjaga suplai, peternakan sendiri juga membantu perusahaan mengontrol mutu susu dari awal proses. Hal ini dinilai penting karena produk yang dipasok untuk MBG harus memenuhi standar yang ketat.

Selektif Pilih Mitra SPPG

Yuki bercerita, awal keterlibatannya dalam program MBG berawal dari kedatangan sejumlah pihak SPPG ke tempat usahanya. Mereka menawarkan kerja sama untuk memasok susu plain atau susu murni bagi program tersebut.

Meski begitu, ia tidak langsung menerima seluruh tawaran yang datang. Sweet Sundae memilih mitra secara selektif agar proses distribusi dan pembayaran tetap berjalan baik.

Menurut Yuki, sikap hati-hati dibutuhkan agar usaha tetap tumbuh secara sehat. Ia ingin memastikan kerja sama yang dijalin benar-benar mendukung keberlanjutan produksi jangka panjang.

Seleksi mitra juga menjadi bagian dari strategi menjaga reputasi usaha di tengah permintaan yang meningkat. Dengan manajemen yang rapi, ia optimistis peluang UMKM untuk masuk ke rantai pasok program pemerintah akan semakin besar.

Peluang UMKM Dari Program

Kasus Sweet Sundae menunjukkan bahwa program MBG dapat membuka ruang pertumbuhan bagi UMKM di sektor pangan. Ketika pasokan terserap secara rutin, pelaku usaha memiliki kepastian pasar yang lebih kuat.

Kepastian itu memberi efek berantai bagi aktivitas produksi, penyerapan tenaga kerja, hingga pengembangan peternakan. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi memperkuat ekonomi lokal di daerah pemasok.

Program seperti MBG juga mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan standar operasional. Mulai dari kebersihan, kapasitas produksi, hingga ketepatan distribusi harus dijaga agar kerja sama tetap berlanjut.

Bagi Sweet Sundae, momentum ini menjadi bukti bahwa UMKM mampu naik kelas ketika diberi akses pasar yang jelas. Dari Yogyakarta, usaha susu tersebut kini menjadi salah satu contoh tumbuhnya bisnis lokal lewat program sosial pemerintah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!