UMKM Tenun Indonesia Tembus Pasar Malaysia

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 31 Mei 2026 14:27 WIB 2
UMKM Tenun Indonesia Tembus Pasar Malaysia

Produk UMKM Indonesia semakin menarik perhatian pasar luar negeri, seiring meningkatnya permintaan terhadap kain tenun nusantara. Salah satu pencapaian terbaru datang dari Kainnesia, pemenang Pertapreneur Aggregator 2024, yang menerima pesanan sarung tenun dari Malaysia senilai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta.

Keberhasilan itu tidak hanya memperkuat posisi Kainnesia sebagai penggerak produk lokal, tetapi juga membuka peluang bagi ratusan penenun dari berbagai daerah. Melalui pembinaan yang terstruktur, produk tenun Indonesia kini mulai menembus pasar internasional dengan nilai ekonomi yang semakin besar.

UMKM Tenun Menembus Pasar

Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Kainnesia, Nur Salam, mengatakan pertumbuhan usaha yang dicapai melalui Pertapreneur Aggregator berdampak langsung pada perusahaan dan UMKM binaan. Menurut dia, program tersebut membantu memperluas skala usaha sekaligus memperkuat daya saing produk tenun di pasar global. Dampak itu terlihat dari jumlah tenaga kerja pada 37 UMKM mitra yang kini mencapai lebih dari 400 orang.

Nur menegaskan bahwa pertumbuhan itu bukan sekadar peningkatan penjualan, melainkan hasil dari ekosistem yang dibangun secara berkelanjutan. Ia menilai dukungan teknis dan akses pasar menjadi faktor penting bagi UMKM agar mampu naik kelas. Hal itu membuat produk yang sebelumnya hanya dikenal di pasar lokal, kini memiliki peluang lebih besar untuk diterima pembeli mancanegara.

Dalam kunjungan Sustainability Implementation & Monitoring Pertapreneur Aggregator di Yogyakarta pada Senin, 15 September, Nur menyampaikan apresiasi atas program yang telah mendukung perkembangan Kainnesia. Ia menyebut capaian tersebut sebagai bukti nyata bahwa kolaborasi yang tepat dapat menggerakkan ekonomi pelaku usaha kecil. Menurut dia, manfaat program terasa luas karena turut menghidupkan aktivitas produksi di tingkat penenun.

Tenun Nusantara Jadi Daya Tarik

Produk Kainnesia kini telah tampil dalam sejumlah ajang internasional, termasuk Osaka World Expo Japan 2025 dan Korea Import Fair di Seoul. Kehadiran di pameran tersebut membuka akses pertemuan dengan buyer dari Jepang, Australia, hingga Malaysia. Kesempatan itu menjadi pintu masuk untuk memperluas pasar tenun Indonesia di luar negeri.

Selain event internasional, Kainnesia juga tampil di berbagai ajang dalam negeri seperti Jogja Fashion Week 2025 dan Inacraft 2025. Partisipasi di forum tersebut membantu memperkuat citra produk tenun sebagai karya budaya yang bernilai ekonomi tinggi. Di saat yang sama, jejaring bisnis yang terbentuk memberi peluang transaksi yang lebih besar bagi para pengrajin.

Nur menilai tenun bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang harus terus dikembangkan agar tetap relevan dengan zaman. Ia ingin generasi muda melihat tenun sebagai bagian dari masa depan, bukan hanya peninggalan tradisi. Dengan pendekatan itu, produk tenun diharapkan mampu hidup berdampingan dengan tren pasar modern.

Pertapreneur Dorong Naik Kelas

Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menyebut Kainnesia sebagai contoh nyata dari tujuan Pertapreneur Aggregator. Menurut dia, program tersebut dirancang agar semakin banyak UMKM aggregator mampu mendorong usaha binaan naik kelas. Dampaknya diharapkan tidak berhenti pada peningkatan omzet, tetapi juga pada perluasan lapangan kerja.

Rudi menjelaskan bahwa keberadaan agregator membuat UMKM kecil memperoleh dukungan yang lebih terarah. Dukungan itu mencakup aspek teknis, manajerial, hingga akses pasar yang lebih luas. Dengan fondasi tersebut, UMKM binaan memiliki peluang yang lebih kuat untuk tumbuh secara berkelanjutan.

Ia juga berharap UMKM binaan Kainnesia dapat menjadi tentakel ekonomi yang menciptakan nilai tambah lebih besar bagi daerah. Menurut dia, pertumbuhan usaha yang terhubung dalam satu rantai nilai akan mendorong ekonomi lokal bergerak lebih cepat. Karena itu, program seperti Pertapreneur Aggregator dinilai penting untuk memperkuat ekosistem UMKM nasional.

Ekonomi Lokal Kian Menguat

Program Pertapreneur Aggregator sendiri telah melibatkan ratusan UMKM sejak diluncurkan pada 2022. Melalui program ini, para pelaku usaha mendapat pendampingan yang membantu mereka memperbaiki kualitas produksi dan strategi bisnis. Hasilnya, sejumlah UMKM binaan mampu menjangkau pasar yang sebelumnya sulit diakses.

Keterlibatan ratusan penenun dalam ekosistem Kainnesia menunjukkan bahwa industri kreatif berbasis budaya memiliki potensi ekonomi yang besar. Ketika produk lokal mampu bersaing di pasar internasional, manfaatnya ikut mengalir ke masyarakat di tingkat bawah. Hal ini memperkuat peran UMKM sebagai tulang punggung ekonomi daerah.

Pencapaian Kainnesia menjadi sinyal bahwa kolaborasi antara pembinaan usaha, pelestarian budaya, dan akses pasar dapat menghasilkan pertumbuhan yang nyata. Dari Yogyakarta, tenun nusantara menunjukkan bahwa produk tradisional tetap relevan di tengah persaingan global. Dengan dukungan yang konsisten, lebih banyak UMKM berpeluang mengikuti jejak serupa.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!