Produk UMKM Indonesia kembali mencuri perhatian pasar luar negeri setelah Kainnesia, pemenang Pertapreneur Aggregator 2024, mendapat pesanan sarung tenun dari Malaysia senilai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta. Pencapaian ini menunjukkan bahwa produk tenun nusantara mampu bersaing di level global, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi ratusan penenun di berbagai daerah.
Keberhasilan Kainnesia tidak hanya berdampak pada penjualan, tetapi juga pada perluasan lapangan kerja dan penguatan ekosistem UMKM binaan. Dari 37 UMKM mitra, total tenaga kerja yang terlibat kini telah melampaui 400 orang, seiring dukungan akses pasar, pendampingan teknis, dan penguatan manajerial.
UMKM Tenun Menembus Pasar
Pesanan dari Malaysia menjadi penanda penting bagi Kainnesia dalam memperluas pasar ekspor. Produk sarung tenun yang mereka pasarkan berhasil menarik minat pembeli luar negeri dengan nilai transaksi yang signifikan. Capaian ini menegaskan bahwa produk berbasis budaya masih memiliki daya saing tinggi di pasar internasional. Dalam konteks UMKM, peluang seperti ini menjadi bukti bahwa kualitas dan konsistensi dapat membuka jalan ke pasar yang lebih besar.
Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Kainnesia, Nur Salam, menyebut pertumbuhan tersebut lahir dari kolaborasi yang terbangun melalui program Pertapreneur Aggregator. Ia menilai manfaat program tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga oleh para mitra binaan. Saat jumlah tenaga kerja di 37 UMKM mitra menembus lebih dari 400 orang, dampak ekonomi lokal pun ikut menguat. Kondisi ini memperlihatkan bahwa ekspansi usaha dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat.
Nur Salam menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari kerja panjang dalam menjaga mutu produk dan membangun jejaring pasar. Menurutnya, setiap lembar tenun membawa nilai budaya yang perlu dijaga agar tetap relevan. Ia menambahkan bahwa generasi muda perlu melihat tenun sebagai produk masa depan, bukan sekadar warisan. Dengan pendekatan tersebut, Kainnesia berupaya menjembatani tradisi dan kebutuhan pasar modern.
Dukungan Program Pertapreneur
Program Pertapreneur Aggregator menjadi salah satu instrumen penting dalam mendorong UMKM naik kelas. Sejak diluncurkan pada 2022, program ini telah melibatkan ratusan pelaku usaha dari berbagai sektor. Para peserta mendapatkan dukungan teknis, pendampingan manajerial, dan akses pasar yang lebih luas. Skema tersebut dirancang untuk memperkuat daya saing UMKM secara berkelanjutan.
Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menyebut Kainnesia sebagai contoh nyata dari tujuan program tersebut. Ia menilai semakin banyak UMKM aggregator, semakin banyak pula usaha kecil yang bisa ikut tumbuh. Menurutnya, efek berantai dari penguatan UMKM akan mendorong pembukaan lapangan kerja baru. Dalam jangka panjang, kondisi itu turut menopang pertumbuhan ekonomi lokal.
Rudi juga berharap UMKM binaan Kainnesia dapat menjadi penggerak ekonomi yang menghasilkan nilai tambah lebih besar. Ia menekankan pentingnya kolaborasi agar pelaku usaha kecil tidak berjalan sendiri. Melalui pola pembinaan yang terstruktur, UMKM memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke pasar yang lebih kompetitif. Pendekatan ini dinilai relevan untuk menjawab tantangan usaha kecil di era persaingan global.
Peluang Ekspor Produk Lokal
Keikutsertaan Kainnesia dalam berbagai ajang internasional turut memperkuat posisi produk tenun Indonesia di mata buyer luar negeri. Perusahaan itu tercatat tampil di Osaka World Expo Japan 2025, Korea Import Fair di Seoul, Jogja Fashion Week 2025, dan Inacraft 2025. Dari rangkaian event tersebut, Kainnesia membuka komunikasi dengan pembeli dari Jepang, Australia, hingga Malaysia. Jejak pameran ini menjadi modal penting untuk membangun jaringan dagang yang lebih luas.
Peluang ekspor yang terbuka menunjukkan bahwa produk lokal tidak kalah bersaing jika dikemas dengan strategi yang tepat. Kainnesia memanfaatkan nilai budaya, kualitas bahan, dan cerita di balik produk untuk menarik minat pasar. Pendekatan itu memberi diferensiasi yang kuat dibanding produk serupa dari negara lain. Dalam industri kreatif, narasi produk sering kali menjadi pembeda utama yang menentukan keputusan pembelian.
Selain meningkatkan penjualan, ekspor juga memberi dampak langsung terhadap keberlanjutan usaha para penenun. Kenaikan permintaan membuat rantai produksi bergerak lebih stabil dan menciptakan kepastian kerja. Bagi UMKM di daerah, kondisi ini berarti peningkatan pendapatan dan perluasan pasar yang lebih pasti. Dengan fondasi tersebut, produk tenun Indonesia berpeluang semakin dikenal di kancah global.
Tenun Dan Regenerasi
Bagi Kainnesia, tenun bukan hanya produk ekonomi, melainkan juga warisan budaya yang perlu terus dijaga. Nur Salam menilai keberlanjutan usaha tenun bergantung pada kemampuan menghadirkan relevansi bagi generasi muda. Karena itu, perusahaan berupaya mengemas tenun agar tampil modern tanpa kehilangan nilai tradisionalnya. Strategi ini penting untuk memastikan tradisi tetap hidup di tengah perubahan tren pasar.
Upaya regenerasi juga menjadi bagian dari pengembangan ekosistem UMKM yang lebih kuat. Ketika anak muda melihat potensi bisnis dan nilai identitas dalam tenun, maka minat untuk terlibat akan meningkat. Hal itu memberi harapan baru bagi keberlanjutan pengetahuan dan keterampilan para penenun. Dalam jangka panjang, regenerasi akan menjaga kesinambungan produksi dan inovasi.
Keberhasilan Kainnesia memperlihatkan bahwa budaya dan bisnis dapat berjalan beriringan. Dengan dukungan program pembinaan, produk lokal memiliki peluang lebih besar untuk berkembang di pasar nasional maupun internasional. Kisah ini juga menegaskan bahwa UMKM tidak hanya menjadi penggerak ekonomi, tetapi juga penjaga identitas bangsa. Jika ekosistem seperti ini terus diperluas, maka kontribusi UMKM terhadap ekonomi Indonesia akan semakin besar.
