UMKM Tenun Indonesia Tembus Pasar Malaysia

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 23 Mei 2026 07:13 WIB 7
UMKM Tenun Indonesia Tembus Pasar Malaysia

Produk UMKM Indonesia kembali mencuri perhatian pasar luar negeri, kali ini lewat sarung tenun Kainnesia yang mendapat pesanan dari Malaysia senilai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa produk berbasis budaya lokal memiliki daya saing kuat ketika didukung pengembangan usaha yang tepat.

Kainnesia, pemenang Pertapreneur Aggregator 2024, berhasil menggandeng ratusan penenun dari berbagai daerah dan membawa tenun nusantara menembus pasar internasional. Capaian tersebut juga berdampak pada puluhan UMKM mitra yang kini menyerap lebih dari 400 tenaga kerja.

UMKM Tenun Menembus Pasar

Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Kainnesia, Nur Salam, menyampaikan bahwa program Pertapreneur Aggregator memberi dampak berlapis bagi usahanya. Pertumbuhan Kainnesia tidak hanya mendorong penjualan, tetapi juga menggerakkan UMKM binaan di sekitarnya. Saat ini, total tenaga kerja dari 37 UMKM mitra mencapai lebih dari 400 orang.

Menurut Nur, capaian tersebut menjadi bukti bahwa model pendampingan yang terstruktur dapat memperkuat ekosistem usaha kecil. Ia menilai pertumbuhan yang terjadi bukan hanya milik satu perusahaan, melainkan hasil kolaborasi banyak pihak. Dukungan yang konsisten juga membuat UMKM mitra lebih siap menghadapi pasar yang lebih besar.

Kainnesia kini menjadi salah satu contoh UMKM yang mampu naik kelas melalui inovasi dan jejaring pasar. Produk tenun yang semula berorientasi domestik, kini mulai dikenal di luar negeri. Kondisi ini memperlihatkan bahwa komoditas berbasis budaya memiliki peluang ekspor yang nyata.

UMKM Binaan Naik Kelas

Program Pertapreneur Aggregator memberikan dukungan teknis, manajerial, dan akses pasar bagi UMKM mitra. Pendekatan tersebut membantu pelaku usaha memperbaiki kualitas produksi, memperluas jaringan, dan meningkatkan daya saing. Dalam praktiknya, pembinaan yang berkelanjutan menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan.

Nur Salam menegaskan bahwa keberhasilan Kainnesia tidak berdiri sendiri. Ia menyebut pertumbuhan perusahaan juga membuka ruang bagi UMKM binaan untuk berkembang bersama. Dengan demikian, manfaat program terasa lebih merata dan memberi efek ekonomi yang lebih luas.

Jumlah mitra yang mencapai 37 UMKM menunjukkan bahwa skema agregator mampu membangun rantai pasok yang lebih kuat. Tenaga kerja yang terserap pun meningkat seiring bertambahnya kapasitas produksi. Hal ini menjadi indikator bahwa pembinaan UMKM dapat menghasilkan dampak ekonomi yang konkret.

UMKM Tenun Raih Pengakuan

Produk Kainnesia telah tampil di sejumlah ajang internasional, termasuk Osaka World Expo Japan 2025 dan Korea Import Fair di Seoul. Selain itu, merek ini juga hadir di Jogja Fashion Week 2025 serta Inacraft 2025. Dari berbagai pameran tersebut, terbuka peluang pertemuan dengan buyer dari Jepang, Australia, hingga Malaysia.

Kehadiran di ajang internasional memperluas eksposur tenun Indonesia di mata pembeli global. Langkah ini penting karena pasar ekspor menuntut kualitas, konsistensi, dan identitas produk yang kuat. Kainnesia dinilai mampu menjawab kebutuhan itu melalui pengembangan desain dan penguatan narasi budaya.

Nur Salam menekankan bahwa tenun bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang harus terus dikembangkan. Ia ingin generasi muda melihat tenun sebagai bagian dari masa depan, bukan hanya peninggalan masa lalu. Pandangan itu sejalan dengan upaya menjaga relevansi produk tradisional di tengah perubahan pasar.

UMKM Dorong Ekonomi Lokal

Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menyebut Kainnesia sebagai contoh nyata tujuan Pertapreneur Aggregator. Menurut dia, semakin banyak UMKM aggregator, semakin banyak pula pelaku usaha yang bisa naik kelas. Efek lanjutannya adalah pembukaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi lokal.

Rudi berharap UMKM binaan Kainnesia dapat menjadi tentakel ekonomi yang menciptakan nilai tambah lebih besar. Ia menilai model seperti ini relevan untuk memperluas manfaat program hingga ke tingkat komunitas. Dengan ekosistem yang sehat, UMKM dapat tumbuh lebih mandiri dan kompetitif.

Program Pertapreneur Aggregator sendiri telah melibatkan ratusan UMKM sejak diluncurkan pada 2022. Melalui program ini, para pelaku usaha mendapat dukungan teknis, pendampingan manajerial, dan akses pasar yang lebih luas. Keberhasilan Kainnesia menjadi gambaran bahwa pembinaan yang tepat dapat mengubah produk lokal menjadi komoditas bernilai ekspor.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!