UMKM fesyen modest brand Kienka, dipimpin Helda Amalia, menekankan bahwa mempertahankan DNA merek menjadi kunci bertahan di pasar fesyen yang semakin kompetitif. Pemfokusannya adalah ciri khas produk yang membedakan merek dari pesaing. Hal ini dinilai penting karena konsumen kini memiliki banyak pilihan dan cepat berpindah merek.
Kienka menonjolkan motif bunga dengan palet warna pastel sebagai identitas utama yang konsisten. Brand ini menargetkan konsumen berusia sekitar 30–50 tahun yang ingin tetap tampil muda. Pihak perusahaan juga memperkuat upaya melalui partisipasi dalam fashion weeks nasional serta kolaborasi dengan influencer dan produk kecantikan.
DNA Merek Kuat
Menurut Helda Amalia, pemilik Kienka, DNA merek menjadi penentu daya saing di industri fesyen yang semakin ketat. Beliau menekankan perlunya identitas kuat yang mudah dikenali publik. Motif bunga dengan warna pastel dipakai sebagai elemen inti yang konsisten dari dulu.
Beberapa segmen produk sengaja mempertahankan pola motif bunga dan palet pastel agar tidak kehilangan citra merek. Strategi ini dirancang untuk menjaga loyalitas pelanggan yang berusia 30–50 tahun. Ia menilai konsistensi identitas merek sebagai langkah utama menghadapi kompetisi.
Selain desain, Kienka aktif mengikuti fashion week nasional untuk menjaga eksposur merek. Kolaborasi dengan influencer dan produk kecantikan turut memperluas jangkauan pasar. Langkah-langkah tersebut dianggap penting untuk menjaga relevansi merek di pasaran.
Kolaborasi dan Pameran
Helda menjelaskan bahwa keikutsertaan dalam acara Borderless Commerce in Action menjadi bagian strategi menghadapi persaingan. Acara tersebut berlangsung di sela pameran BNI di ICE BSD, Tangerang pada Sabtu, 16 Agustus 2025. Tujuannya adalah memperluas jaringan bisnis dan memperkuat citra merek melalui aktivitas yang terintegrasi.
Selain itu, Kienka secara aktif menjalin kolaborasi dengan influencer serta produk kecantikan. Kerja sama ini memperluas peluang masuk ke segmen konsumen baru dan menjaga relevansi produk. Upaya multikanal ini menjadi pilar dalam strategi pertumbuhan UMKM fesyen.
Helda juga membagikan kiat agar live shopping tetap ramai. Pertama, pembawa acara harus mampu menciptakan suasana mendesak yang menarik perhatian penonton. Kedua, konten harus dirancang untuk mendorong minat beli secara bertahap dan terarah.
Strategi Penjualan dan Live Shopping
Rencana rilis produk dieksekusi melalui jadwal live shopping yang teratur. Ia menegaskan bahwa konten yang menarik membantu mendorong viralitas sebelum produk tersedia untuk pembelian. Pelaksanaan dilakukan dengan tetap menjaga identitas merek dan kualitas produk.
Target utama masih konsumen usia 30–50 tahun, yang ingin tetap terlihat muda melalui pilihan pakaian modis. Penggunaan motif bunga pastel dipertahankan untuk menjaga kesan segar pada produk. Partisipasi dalam fashion week nasional juga menjadi bagian dari upaya menjaga eksposur merek.
Kunci keberhasilan menurut Helda adalah konsistensi ciri khas, kolaborasi yang terukur, dan eksekusi penjualan yang terencana. Strategi tersebut dinilai mampu membantu UMKM fesyen menghadapi persaingan sengit di pasar domestik. Organisasi industri menekankan perlunya adaptasi cepat tanpa mengorbankan identitas merek.
