Pertamina mencatat capaian penting di ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 setelah salah satu UMKM binaannya, PT Java Criollo Cokelat Indonesia, meneken kerja sama ekspor dengan perusahaan asal Jepang, Being Co Ltd. Nilai transaksi yang dibukukan mencapai US$ 5,2 juta atau sekitar Rp87 miliar, dan disaksikan langsung oleh Menteri Koperasi dan UKM Maman Abdurrahman.
Kesepakatan itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Founder Java Criollo, Inge Oktavia Arina, dan perwakilan Being Co Ltd, Sakae Noda. Pertamina menilai keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa produk UMKM Indonesia mampu bersaing di pasar internasional melalui kualitas, harga, dan keberlanjutan produksi.
Ekspor UMKM di TEI 2025
Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, mengatakan kerja sama itu menunjukkan UMKM lokal memiliki daya saing yang kuat di pasar global. Menurut dia, pencapaian Java Criollo menjadi contoh konkret bahwa produk binaan dapat menembus buyer internasional. Ia menilai kehadiran Pertamina dalam TEI 2025 bukan sekadar pameran, melainkan juga pintu masuk untuk memperluas jejaring dagang.
Fadjar menambahkan, Pertamina berharap 44 UMKM lainnya yang ikut serta dalam TEI 2025 juga memperoleh peluang kerja sama serupa. Ajang tersebut dipandang sebagai sarana efektif untuk mempertemukan pelaku usaha kecil dengan pembeli mancanegara. Dengan demikian, UMKM dapat mempercepat proses ekspansi pasar secara lebih terukur.
Ia menegaskan bahwa dukungan terhadap UMKM tidak berhenti pada pembinaan produksi, tetapi juga mencakup akses pasar dan pendampingan bisnis. Melalui partisipasi di pameran dagang internasional, pelaku usaha diberi kesempatan memperlihatkan kualitas produknya secara langsung. Langkah ini diharapkan menghasilkan kontrak dagang yang berkelanjutan dan bernilai ekonomi tinggi.
Pencapaian Java Criollo juga memperlihatkan bahwa sektor UMKM memiliki peluang besar untuk masuk ke rantai pasok global. Di tengah kompetisi yang semakin ketat, konsistensi kualitas menjadi faktor utama yang diperhatikan buyer asing. Karena itu, keikutsertaan dalam ajang seperti TEI dinilai strategis untuk memperkuat reputasi produk Indonesia.
Kualitas Cokelat Indonesia
Dari pihak Jepang, Sakae Noda menyampaikan ketertarikannya terhadap kualitas cokelat asal Indonesia yang dinilai memiliki karakter unggul. Ia menyebut produk Java Criollo menarik karena dibuat dari bahan alami dan menawarkan harga yang kompetitif. Menurut dia, kombinasi tersebut memberi nilai tambah yang sulit ditemukan pada banyak produk sejenis.
Sakae juga menilai proses produksi yang tidak menggunakan pupuk kimia menjadi keunggulan tersendiri bagi pasar Jepang. Konsumen di negaranya, kata dia, semakin memperhatikan aspek kesehatan, keberlanjutan, dan asal bahan baku. Oleh karena itu, cokelat Indonesia dinilai memiliki prospek cerah untuk diterima secara luas.
Ia berharap masyarakat Jepang dapat menikmati produk cokelat Indonesia dengan kualitas yang konsisten. Menurutnya, kerja sama ini bukan hanya transaksi bisnis, melainkan juga jembatan untuk mengenalkan cita rasa Indonesia ke pasar yang lebih luas. Pernyataan itu mempertegas bahwa kualitas menjadi faktor utama dalam membuka pasar ekspor.
Minat buyer Jepang terhadap produk lokal menunjukkan bahwa komoditas olahan Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan besar. Jika kualitas, harga, dan pasokan dapat dijaga, peluang ekspor akan semakin terbuka. Kondisi tersebut sekaligus menjadi sinyal positif bagi UMKM lain yang ingin menembus pasar Asia Timur.
Apresiasi untuk Java Criollo
Founder Java Criollo Cokelat Indonesia, Inge Oktavia Arina, mengaku bangga karena produknya dapat diterima di pasar internasional. Ia menceritakan bahwa buyer awalnya memang mencari cokelat asal Indonesia dan kemudian menemukan perusahaannya. Setelah menilai kualitas produk, pihak Jepang akhirnya memutuskan untuk menjalin kerja sama.
Inge menyebut pencapaian ini sebagai hasil dari konsistensi menjaga mutu dan identitas produk. Menurut dia, cita rasa yang dibangun sejak awal menjadi alasan mengapa Java Criollo mampu menarik perhatian pembeli luar negeri. Kepercayaan buyer, lanjutnya, tidak datang secara instan, melainkan melalui pembuktian kualitas yang nyata.
Ia menilai keberhasilan menembus pasar Jepang merupakan langkah penting, bukan hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi UMKM Indonesia secara umum. Menurut dia, capaian tersebut membuktikan bahwa produk lokal memiliki peluang besar bila dipasarkan dengan strategi yang tepat. Karena itu, dukungan terhadap inovasi dan peningkatan kapasitas usaha tetap menjadi kebutuhan utama.
Inge berharap kerja sama ini dapat membuka jalan bagi ekspor yang lebih besar pada masa mendatang. Ia juga menegaskan bahwa nilai tambah dari produk Indonesia terletak pada kualitas, karakter rasa, dan proses yang dijaga dengan baik. Dengan modal itu, Java Criollo ingin terus memperkuat posisi di pasar global.
Peluang UMKM Binaan
Selain Java Criollo, Pertamina membawa 44 UMKM lain ke TEI 2025 untuk menjajaki peluang serupa. Kehadiran para pelaku usaha ini menunjukkan bahwa pembinaan UMKM kini diarahkan tidak hanya pada pasar domestik, tetapi juga ke kancah internasional. Pameran dagang tersebut menjadi ruang penting untuk mempertemukan produk lokal dengan pembeli dari berbagai negara.
Langkah tersebut selaras dengan kebutuhan UMKM untuk memperluas jejaring, memahami permintaan pasar, dan menyesuaikan standar ekspor. Dalam praktiknya, buyer internasional cenderung mencari produk yang stabil dari sisi mutu, kemasan, dan kontinuitas pasokan. Karena itu, pendampingan yang berkelanjutan menjadi kunci agar peluang tidak berhenti pada pameran semata.
Keberhasilan Java Criollo diyakini dapat memberi efek berantai bagi UMKM binaan lain yang mengikuti TEI 2025. Capaian ekspor bernilai besar itu menunjukkan bahwa produk berbasis lokal pun bisa menembus pasar premium bila memiliki daya saing kuat. Momentum ini diharapkan mendorong lebih banyak pelaku usaha untuk berani masuk pasar ekspor.
Dengan pencapaian tersebut, Pertamina menegaskan kembali peran strategisnya dalam memperkuat ekonomi kerakyatan melalui UMKM. Dukungan terhadap akses pasar internasional menjadi bagian penting dalam mempercepat pertumbuhan usaha kecil dan menengah. Jika konsisten dijalankan, model pembinaan seperti ini berpotensi melahirkan lebih banyak eksportir baru dari Indonesia.
