Hari pertama Inacraft Oktober 2025 di Jakarta Convention Center, Jakarta, langsung menjadi momentum penting bagi 32 UMKM binaan Pertamina. Dalam satu hari, para pelaku usaha itu membukukan transaksi penjualan lebih dari Rp1,2 miliar. Pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara tersebut menjadi ruang temu antara pembeli ritel, buyer korporasi, dan calon pasar mancanegara. Capaian itu menunjukkan bahwa persiapan matang UMKM dapat menghasilkan dampak bisnis yang cepat.
Pertamina menyebut para peserta telah melalui proses kurasi, seleksi, dan pembekalan sebelum tampil di ajang tersebut. Pendampingan mencakup coaching clinic tentang branding, packaging, storytelling, hingga penataan display booth. Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menilai hasil hari pertama itu mencerminkan kegigihan UMKM dalam menyiapkan produk. Ia menegaskan bahwa dukungan terhadap UMKM merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan.
UMKM Binaan Pertamina Bersinar
Keikutsertaan 32 UMKM binaan Pertamina di Inacraft langsung memberi hasil yang signifikan. Mereka tersebar di sejumlah area pameran dengan produk wastra, kriya, fesyen, aksesori, makanan, dan minuman. Kehadiran mereka tidak hanya menyasar pembeli lokal, tetapi juga membuka peluang bertemu buyer internasional. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pameran masih menjadi kanal efektif untuk memperluas pasar UMKM.
Di Lobby Hall A, sebanyak 18 UMKM tampil membawa produk unggulan yang berfokus pada wastra, kriya, fesyen, dan aksesori. Sementara itu, 6 UMKM makanan dan minuman menempati Talam Hall B. Ada pula 7 UMKM co-branding yang memilih membeli booth mandiri di area pameran. Pembagian lokasi ini menunjukkan ragam strategi bisnis yang diambil para peserta.
Pertamina mengusung konsep booth Youthpreneur: Craft, Culture, Future untuk memperkuat daya tarik pameran. Konsep tersebut dilengkapi display produk, layanan penjualan, business matching, dan aktivasi digital. Pengunjung juga diajak berinteraksi melalui lucky dip dan mobcast yang menambah perhatian terhadap produk UMKM. Pendekatan ini membuat area pameran tidak hanya menjadi etalase, tetapi juga ruang transaksi yang aktif.
Transaksi Awal Tembus Miliar
Salah satu penyumbang transaksi terbesar datang dari Kainnesia milik Nur Salam asal Umbulharjo, Yogyakarta. Dalam hari pertama, usaha tersebut menerima pesanan seragam dan souvenir senilai lebih dari Rp300 juta. Pembelinya berasal dari perusahaan pelayaran serta sejumlah kementerian. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa produk UMKM mampu menarik pasar institusional.
Smart Batik Indonesia milik Miftahudin Nur Insan dari Yogyakarta juga mencatat hasil impresif. Usaha ini membukukan transaksi lebih dari Rp125 juta dari penjualan Kain Batik Sawit dan Payung Batik. Produk yang dibawa mencakup kain batik, fesyen batik, hingga payung batik ramah lingkungan. Ragam produk tersebut menjadi pembeda yang memperkuat posisi merek di pasar kerajinan.
Menurut Fadjar, capaian hari pertama menjadi indikasi bahwa persiapan UMKM dilakukan secara serius. Ia menilai proses kurasi dan pembinaan sebelum pameran membantu peserta tampil lebih siap. Dengan tampilan produk yang lebih matang, peluang terjadinya penjualan di hari pertama menjadi lebih besar. Situasi ini juga menunjukkan pentingnya pendampingan berkelanjutan bagi pelaku usaha kecil.
Smart Batik Raih Peluang Baru
Smart Batik menempatkan Batik Sawit sebagai produk unggulan yang berorientasi pada keberlanjutan. Produk itu sudah dikenalkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan sempat digunakan oleh menteri serta artis nasional pada Anugerah Komedi Indonesia 2025. Pengakuan tersebut memperkuat citra produk sebagai inovasi batik ramah lingkungan. Di Inacraft, strategi itu kembali terbukti mampu menarik perhatian pembeli.
Miftahudin menyebut partisipasi bersama Pertamina memberi dampak besar bagi usahanya. Selain transaksi yang meningkat, pameran juga membuka jaringan baru dengan buyer domestik dan internasional. Baginya, jejaring bisnis memiliki nilai penting untuk pengembangan pasar jangka panjang. Ia optimistis Batik Sawit dapat menjadi ikon baru batik ramah lingkungan Indonesia.
Dari sisi pemasaran, kehadiran produk yang memiliki cerita dan nilai inovasi memberi daya saing lebih kuat. Buyer cenderung mencari produk yang tidak hanya unik, tetapi juga punya identitas dan narasi yang jelas. Karena itu, pelatihan storytelling sebelum pameran menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan. Pendekatan tersebut membantu UMKM menjelaskan nilai tambah produknya secara lebih meyakinkan.
Dorongan Ekonomi Kreatif Nasional
Pertamina menegaskan bahwa dukungan terhadap UMKM bukan sekadar agenda pameran tahunan. Langkah itu menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Melalui dukungan seperti ini, pelaku usaha kecil mendapat ruang untuk tumbuh dan bersaing. Kehadiran mereka di panggung besar juga memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional.
Fadjar menyampaikan bahwa strategi pembinaan UMKM diarahkan agar peserta siap berhadapan dengan pasar yang lebih luas. Pendampingan dilakukan sejak awal, mulai dari seleksi produk hingga penyusunan tampilan booth. Dengan bekal tersebut, peserta dapat memaksimalkan peluang transaksi selama pameran. Hasil hari pertama Inacraft menjadi contoh bahwa proses pembinaan yang tepat dapat menghasilkan capaian nyata.
Dukungan terhadap UMKM sejalan dengan visi Asta Cita, khususnya poin ketiga yang menekankan penciptaan lapangan kerja berkualitas. Pemerintah juga mendorong kewirausahaan dan pengembangan industri kreatif sebagai penggerak ekonomi. Dalam konteks itu, pameran seperti Inacraft menjadi wadah strategis untuk mempertemukan inovasi dengan pasar. Keberhasilan para binaan Pertamina memperlihatkan bahwa ekosistem yang kuat dapat mendorong pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.
