UMKM Binaan Pertamina Raup Rp1,2 Miliar di Inacraft 2025

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 27 Mei 2026 13:36 WIB 2
UMKM Binaan Pertamina Raup Rp1,2 Miliar di Inacraft 2025

Hari pertama pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara, Inacraft Oktober 2025, menjadi momentum penting bagi 32 UMKM binaan Pertamina. Dalam satu hari, total transaksi yang dibukukan menembus lebih dari Rp1,2 miliar di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada 1-5 Oktober 2025. Capaian itu menunjukkan besarnya potensi produk lokal ketika dipertemukan dengan pasar ritel dan buyer internasional.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menjelaskan bahwa capaian tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Para UMKM binaan telah menjalani kurasi, seleksi, coaching clinic branding, packaging, storytelling, hingga persiapan display booth sebelum tampil di pameran. Menurut dia, hasil hari pertama ini mencerminkan kesiapan pelaku usaha dalam bersaing di ajang berskala besar.

Transaksi UMKM Pertamina Melesat

Fadjar menilai penjualan pada hari pertama Inacraft menjadi bukti kegigihan UMKM binaan Pertamina. Produk yang dipamerkan mampu langsung menarik minat pengunjung sejak hari pembukaan. Hal ini juga memperlihatkan bahwa pembinaan yang dilakukan memberi dampak nyata bagi kinerja usaha.

Ajang Inacraft menjadi ruang strategis bagi pelaku usaha untuk menjangkau pembeli ritel. Di sisi lain, pameran ini juga membuka peluang perluasan pasar ke mancanegara. Pertemuan langsung dengan calon pembeli membuat produk UMKM memiliki kesempatan lebih besar untuk dikenal.

Pertamina menyebut dukungan kepada UMKM merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan. Program itu dijalankan secara rutin melalui pendampingan usaha dan akses promosi. Langkah ini juga sejalan dengan visi Asta Cita, terutama pada aspek penciptaan lapangan kerja dan penguatan kewirausahaan.

Selain mendorong penjualan, ajang tersebut memperkuat posisi UMKM dalam industri kreatif nasional. Kehadiran mereka di pameran besar memberi nilai tambah pada daya saing produk. Dengan begitu, UMKM tidak hanya menjual barang, tetapi juga membangun reputasi merek di pasar yang lebih luas.

Kainnesia Raup Pesanan Besar

Salah satu pencapaian terbesar datang dari Kainnesia milik Nur Salam asal Umbulharjo, Yogyakarta. Dalam satu hari, usaha ini mengantongi pesanan seragam dan souvenir senilai lebih dari Rp300 juta. Pembeli datang dari perusahaan pelayaran serta sejumlah kementerian.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa produk wastra lokal masih memiliki pasar yang sangat kuat. Kainnesia mampu memanfaatkan panggung Inacraft untuk menawarkan produk yang sesuai kebutuhan institusi. Kepercayaan dari pembeli besar menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan usaha ke depan.

Pesanan dalam jumlah besar seperti ini juga memperlihatkan pentingnya kesiapan produksi. UMKM tidak hanya dituntut memiliki produk menarik, tetapi juga mampu memenuhi permintaan dalam skala besar. Pada titik ini, kualitas layanan menjadi sama pentingnya dengan kualitas barang.

Bagi pelaku usaha, transaksi hari pertama menjadi modal awal untuk memperluas jejaring bisnis. Keberhasilan Kainnesia memberi gambaran bahwa pameran masih efektif sebagai kanal penjualan langsung. Di saat yang sama, momentum ini dapat membuka peluang kontrak lanjutan di kemudian hari.

Smart Batik Tembus Pasar Baru

Selain Kainnesia, Smart Batik atau CV Smart Batik Indonesia milik Miftahudin Nur Insan juga mencatat hasil impresif. UMKM asal Yogyakarta ini menampilkan kain batik, fesyen batik, hingga payung batik ramah lingkungan berbahan Batik Sawit. Produk unggulannya bahkan sudah dikenal di tingkat nasional.

Batik Sawit dari Smart Batik pernah diperkenalkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Produk tersebut juga digunakan para menteri dan artis nasional dalam panggung Anugerah Komedi Indonesia 2025. Paparan itu membantu memperkuat citra merek di mata publik.

Pada hari pertama Inacraft, Smart Batik membukukan transaksi lebih dari Rp125 juta. Penjualan datang dari Kain Batik Sawit dan Payung Batik yang menjadi daya tarik utama pengunjung. Hasil ini menunjukkan minat pasar terhadap produk yang menggabungkan fungsi, nilai budaya, dan unsur ramah lingkungan.

Miftahudin mengatakan kesempatan tampil bersama Pertamina memberi dampak besar bagi usahanya. Selain meningkatkan transaksi, pameran ini juga membuka jaringan baru dengan buyer domestik dan internasional. Ia optimistis Batik Sawit bisa tumbuh menjadi ikon baru batik ramah lingkungan Indonesia.

Booth Youthpreneur Jadi Daya Tarik

Dalam pameran ini, 32 UMKM binaan Pertamina tersebar di beberapa titik lokasi. Sebanyak 18 UMKM wastra, kriya, fesyen, dan aksesori tampil di Lobby Hall A. Sementara itu, 6 UMKM makanan dan minuman berada di Talam Hall B, dan 7 UMKM co-branding membeli booth mandiri di area pameran.

Pertamina mengusung konsep booth Youthpreneur: Craft, Culture, Future untuk menarik pengunjung. Konsep itu dilengkapi display produk, layanan penjualan, business matching dengan buyer, serta aktivasi digital. Pengunjung juga dibuat lebih terlibat melalui lucky dip dan mobcast.

Strategi tersebut dirancang agar produk UMKM tampil lebih menonjol di tengah ramainya pameran. Pendekatan visual dan digital menjadi bagian dari upaya membangun pengalaman pengunjung yang lebih interaktif. Dengan cara ini, pelaku usaha memiliki peluang lebih besar untuk mengubah minat menjadi transaksi.

Kehadiran booth yang tertata juga membantu memperkuat storytelling dari masing-masing produk. Pengunjung tidak hanya melihat barang, tetapi juga memahami proses, nilai, dan identitas di baliknya. Hal ini penting untuk membangun hubungan emosional antara produk lokal dan calon pembeli.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!