Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali menguat setelah melemah delapan hari beruntun. Pada penutupan perdagangan Jumat, 22 Mei, indeks saham acuan itu naik 1,10 persen ke level 6.162,04.
Berdasarkan data RTI Business, IHSG sempat menyentuh level 5.966,86 pada awal perdagangan, yang menjadi titik terendah sejak lima tahun terakhir. Penguatan di akhir sesi terjadi di tengah mayoritas saham yang bergerak naik, meski tekanan masih terasa pada sejumlah emiten energi.
IHSG Kembali Menguat
Penguatan IHSG menjadi sinyal adanya pemulihan setelah tekanan yang berlangsung sejak awal pekan sebelumnya. Pergerakan indeks pada hari itu menunjukkan minat beli kembali masuk ke pasar saham domestik.
Meski sempat tertekan ke level 5.966,86, IHSG mampu bertahan dan menutup perdagangan di zona hijau. Kondisi ini menandai berakhirnya tren pelemahan delapan hari yang membebani sentimen investor.
Penguatan tersebut juga terjadi saat pelaku pasar mencermati kondisi saham-saham berkapitalisasi besar. Di sisi lain, pergerakan indeks masih dipengaruhi sentimen pada emiten konglomerasi, khususnya sektor energi.
Dengan kenaikan ini, IHSG setidaknya memperoleh ruang napas setelah terkoreksi cukup dalam sepanjang tahun berjalan. Namun, laju penguatan masih perlu didukung oleh sentimen yang lebih solid agar berlanjut pada perdagangan berikutnya.
Transaksi Pasar Meningkat
Aktivitas perdagangan pada akhir pekan tercatat cukup ramai dengan volume transaksi mencapai 40,26 miliar saham. Nilai transaksi harian juga tergolong besar, yakni Rp 21,55 triliun.
Frekuensi perdagangan sepanjang sesi berlangsung sebanyak 1.970.653 kali. Angka tersebut menunjukkan pasar tetap aktif meski indeks sempat berada di bawah tekanan pada awal perdagangan.
Tingginya aktivitas transaksi mencerminkan respons investor terhadap pergerakan indeks yang volatil. Kondisi seperti ini kerap muncul saat pasar mencari arah setelah fase koreksi yang cukup panjang.
Di tengah volume besar itu, investor tampak selektif memilih saham yang dinilai berpotensi pulih lebih cepat. Pola ini mengindikasikan pasar masih sensitif terhadap sentimen sektoral dan pergerakan emiten unggulan.
Mayoritas Saham Bergerak Naik
Sepanjang perdagangan, mayoritas saham tercatat berada di jalur penguatan. Terdapat 449 saham naik, 251 saham turun, dan 118 saham stagnan.
Data tersebut memperlihatkan bahwa sentimen positif cukup dominan pada perdagangan hari itu. Meski demikian, penguatan yang terjadi belum sepenuhnya merata di seluruh sektor.
Secara akumulatif, IHSG masih melemah 28,74 persen sepanjang 2026. Tekanan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan jangka pendek belum cukup untuk menghapus pelemahan yang terjadi sejak awal tahun.
Pelaku pasar masih menunggu konsistensi penguatan dalam beberapa sesi berikutnya. Jika arus beli berlanjut, IHSG berpeluang memperbaiki posisi dari titik terendah yang sempat tersentuh.
Tekanan Saham Energi Berlanjut
Meski IHSG menguat, tekanan masih terlihat pada saham-saham konglomerasi di sektor energi. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk atau DSSA turun 10,66 persen ke level Rp 545 per saham.
Penurunan juga dialami PT Bayan Resources Tbk atau BYAN yang melemah 4,53 persen ke Rp 10.000 per saham. Sementara itu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN terkoreksi 3,74 persen ke Rp 515 per saham.
Pergerakan tiga emiten tersebut menjadi perhatian karena berasal dari grup usaha besar yang kerap memengaruhi sentimen pasar. Pelemahan di saham-saham itu menegaskan bahwa sektor energi masih menjadi sumber tekanan bagi indeks.
Dengan demikian, penguatan IHSG pada hari ini belum sepenuhnya ditopang oleh seluruh saham unggulan. Pasar masih menunggu stabilisasi di sektor energi agar kenaikan indeks dapat berlangsung lebih konsisten.
