UMKM Binaan Pertamina Raih Ekspor Cokelat Rp87 Miliar

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 01 Juni 2026 00:06 WIB 3
UMKM Binaan Pertamina Raih Ekspor Cokelat Rp87 Miliar

Pertamina mencatat capaian penting di Trade Expo Indonesia (TEI) 2025, setelah salah satu UMKM binaannya meneken transaksi ekspor senilai US$ 5,2 juta atau sekitar Rp87 miliar. Kesepakatan itu terjalin antara PT Java Criollo Cokelat Indonesia dan Being Co Ltd asal Jepang, dengan penandatanganan disaksikan Menteri Koperasi dan UKM Maman Abdurrahman.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menilai kerja sama tersebut menjadi bukti bahwa UMKM lokal mampu bersaing di pasar global. Ia juga berharap 44 UMKM binaan lain yang ikut dalam TEI 2025 dapat memperoleh peluang serupa dari buyer internasional.

Ekspor UMKM Cokelat

Transaksi ekspor itu menjadi sorotan karena melibatkan produk cokelat olahan dari UMKM binaan Pertamina yang berhasil menarik minat pembeli asing. Nilai kesepakatan mencapai US$ 5,2 juta dan dinilai sebagai pencapaian besar bagi pelaku usaha mikro dan kecil. Prosesi penandatanganan MoU berlangsung di ajang TEI 2025 yang menjadi ruang temu antara pelaku usaha lokal dan pembeli mancanegara. Momentum ini sekaligus menegaskan bahwa produk UMKM Indonesia memiliki daya saing di pasar internasional.

Fadjar Djoko Santoso menyebut kerja sama tersebut sebagai sinyal positif bagi perkembangan UMKM binaan perusahaan. Menurut dia, kehadiran buyer dari Jepang menunjukkan produk lokal semakin dipercaya karena kualitasnya kompetitif. Pertamina, kata dia, terus mendorong pelaku usaha binaannya untuk tidak hanya bertahan di pasar domestik, tetapi juga naik kelas ke pasar ekspor. Harapannya, capaian Java Criollo dapat menjadi contoh bagi UMKM lain yang ingin memperluas jangkauan bisnis.

PT Java Criollo Cokelat Indonesia dikenal sebagai produsen kakao dan cokelat yang mengusung kualitas bahan baku alami. Produk perusahaan ini dinilai unggul oleh pihak Jepang karena menggunakan bahan yang baik, tanpa pupuk kimia, serta ditawarkan dengan harga yang relatif terjangkau. Kombinasi kualitas dan harga tersebut membuat produk ini menarik bagi Being Co Ltd. Bagi Pertamina, keberhasilan ini menunjukkan bahwa pendampingan terhadap UMKM dapat berbuah pada transaksi nyata.

Nilai ekspor yang tercatat juga memberi sinyal bahwa sektor pangan olahan masih memiliki prospek besar di pasar luar negeri. Dengan penguatan kualitas produksi, kemasan, dan akses promosi, UMKM dapat menembus pasar yang lebih luas. TEI 2025 pun menjadi panggung penting bagi pelaku usaha untuk mempertemukan inovasi lokal dengan permintaan global. Dalam konteks ini, ekspor cokelat Java Criollo menjadi bukti bahwa produk Indonesia mampu bersaing secara bernilai tambah.

Minat Buyer Jepang Meningkat

Perwakilan Being Co Ltd, Sakae Noda, mengaku tertarik setelah melihat kualitas produk cokelat asal Indonesia yang ditawarkan Java Criollo. Ia menilai produk tersebut memiliki karakter alami, berkualitas tinggi, dan ditawarkan dengan harga yang bersaing. Menurut dia, keunggulan itu menjadi alasan utama perusahaan Jepang memilih menjalin kerja sama. Noda juga berharap masyarakat Jepang dapat menikmati cokelat Indonesia dalam waktu mendatang.

Penilaian positif dari buyer Jepang menjadi faktor penting dalam tercapainya transaksi ekspor tersebut. Dalam perdagangan internasional, kualitas produk, konsistensi pasokan, dan harga yang kompetitif menjadi pertimbangan utama. Java Criollo dinilai mampu memenuhi kebutuhan itu melalui produk cokelat berbasis kakao Indonesia. Hal ini memperkuat posisi UMKM lokal di mata pembeli luar negeri yang semakin selektif.

MoU yang ditandatangani oleh Founder Java Criollo, Inge Oktavia Arina, dan Sakae Noda menjadi penanda awal kerja sama yang lebih luas. Kesepakatan tersebut bukan hanya bernilai finansial, tetapi juga membuka jalur distribusi ke pasar Jepang. Bagi pelaku usaha, masuk ke pasar negeri lain membutuhkan kesiapan produksi dan standar mutu yang konsisten. Karena itu, kerja sama ini dianggap sebagai lompatan penting bagi pengembangan bisnis mereka.

Minat buyer asing terhadap produk Indonesia memperlihatkan bahwa komoditas olahan berbasis lokal masih memiliki potensi besar. Dengan pengemasan yang tepat dan pemenuhan standar internasional, produk UMKM dapat masuk ke rantai pasok global. Pertamina memandang capaian ini sebagai hasil dari proses pembinaan yang berkelanjutan. Ke depan, perusahaan berharap lebih banyak UMKM dapat mengikuti jejak serupa di ajang dagang internasional.

Bangga Tembus Pasar Global

Founder Java Criollo Cokelat Indonesia, Inge Oktavia Arina, menyampaikan rasa bangganya karena produk yang dirintisnya dapat diterima di pasar internasional. Ia menjelaskan, awalnya buyer memang mencari cokelat asal Indonesia dan kemudian menemukan nama perusahaannya. Setelah melihat kualitas produk, pihak Jepang akhirnya mempercayakan kerja sama ekspor itu. Bagi Inge, pencapaian ini menjadi pengakuan atas kerja keras timnya selama ini.

Inge mengatakan bahwa proses menuju kesepakatan tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat. Pihak buyer terlebih dahulu menilai kualitas produk, karakter rasa, dan konsistensi yang ditawarkan perusahaan. Setelah itu, komunikasi bisnis berkembang hingga akhirnya masuk ke tahap penandatanganan MoU. Ia menilai penerimaan pasar internasional menjadi bukti bahwa produk lokal memiliki peluang besar jika dikelola secara serius.

Menurut Inge, nilai dan cita rasa yang dibawa Java Criollo menjadi pembeda di pasar global. Ia menekankan bahwa produk Indonesia memiliki identitas kuat yang dapat bersaing jika terus dijaga kualitasnya. Kerja sama dengan buyer Jepang juga memberi dorongan moral bagi UMKM lain untuk lebih percaya diri. Dengan dukungan yang tepat, pelaku usaha kecil dapat menjangkau pasar yang selama ini dianggap sulit ditembus.

Keberhasilan ini, lanjut Inge, bukan hanya milik perusahaan, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi UMKM Indonesia. Ia berharap pengalaman tersebut dapat membuka lebih banyak pintu bagi produk lokal di masa depan. Pasar internasional, menurut dia, membutuhkan inovasi, konsistensi, dan keberanian untuk memenuhi standar yang ketat. Karena itu, pencapaian Java Criollo menjadi contoh bahwa UMKM mampu naik kelas melalui kualitas produk.

Peluang 44 UMKM Binaan

Selain Java Criollo, Pertamina membawa 44 UMKM lainnya ke TEI 2025 untuk mencari peluang bisnis serupa. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pembinaan UMKM dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya pada satu sektor usaha. Pertamina berharap partisipasi dalam pameran dagang tersebut dapat mempertemukan lebih banyak pelaku usaha dengan buyer internasional. Dengan demikian, peluang ekspor dapat tersebar lebih merata ke berbagai UMKM binaan.

Partisipasi dalam TEI 2025 menjadi langkah strategis bagi UMKM untuk memperluas jaringan pasar. Ajang ini memberi ruang promosi, pertemuan bisnis, serta negosiasi langsung dengan calon pembeli dari luar negeri. Dalam situasi seperti itu, kemampuan presentasi produk dan kesiapan kapasitas produksi menjadi faktor penentu. Pertamina menilai kesempatan ini harus dimanfaatkan secara maksimal oleh para binaannya.

Fadjar Djoko Santoso menegaskan bahwa keberhasilan Java Criollo diharapkan menular kepada UMKM lain yang ikut pameran. Ia menilai setiap pelaku usaha memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan kontrak dagang jika mampu menunjukkan kualitas terbaik. Karena itu, Pertamina terus mendorong peningkatan kapasitas, pendampingan, dan akses pasar bagi para UMKM. Dukungan tersebut diharapkan memperkuat ekosistem usaha kecil agar lebih kompetitif.

Di tengah persaingan global yang semakin ketat, capaian ekspor UMKM binaan Pertamina menjadi kabar positif bagi ekonomi nasional. Transaksi bernilai besar itu menunjukkan bahwa produk lokal tidak kalah bersaing jika dibangun dengan standar yang tepat. TEI 2025 pun kembali menegaskan perannya sebagai jembatan antara produsen Indonesia dan pasar dunia. Dari ajang ini, UMKM diharapkan tidak hanya tampil, tetapi juga memperoleh kontrak nyata yang berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!