Ubi Ungu Jadi Sorotan, Ini Manfaat dan Cara Konsumsinya

Lifestyle Anindya Kirana Putri 24 Mei 2026 23:26 WIB 6
Ubi Ungu Jadi Sorotan, Ini Manfaat dan Cara Konsumsinya

Olahan ubi kembali menjadi sorotan di media sosial, mulai dari ubi panggang hingga ubi cream cheese dengan beragam topping kekinian. Di tengah tren tersebut, dokter gizi menyarankan masyarakat untuk mempertimbangkan ubi ungu sebagai pilihan yang lebih menyehatkan.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menyebut ubi ungu memiliki kandungan antosianin yang cukup tinggi. Zat alami ini memberi warna ungu khas pada ubi, sekaligus dikaitkan dengan manfaat antioksidan dan anti-peradangan.

Manfaat ubi ungu

Menurut dr Tjandra, ubi ungu dapat menjadi pilihan yang baik untuk mendukung pola makan sehat. Kandungan antosianin di dalamnya disebut berperan sebagai flavonoid dan polifenol yang bersifat anti-peradangan. Karena itu, ubi ungu kerap dipandang lebih unggul dibanding jenis ubi lain untuk konsumsi harian. Pilihan ini juga sesuai bagi masyarakat yang ingin menikmati camilan tanpa harus meninggalkan unsur gizi.

Ia menjelaskan bahwa manfaat tersebut dapat membantu kelompok yang berisiko mengalami penyakit tidak menular. Diabetes dan hipertensi menjadi dua contoh kondisi yang sering dikaitkan dengan pola makan kurang seimbang. Konsumsi bahan pangan dengan antioksidan tinggi dinilai dapat menjadi langkah pencegahan yang sederhana. Namun, manfaat itu tetap perlu didukung oleh pola hidup sehat secara keseluruhan.

Temuan dalam ulasan ilmiah juga memperkuat klaim tersebut. Dalam review yang dipublikasikan di jurnal Molecules tahun 2019, kadar antosianin pada ubi ungu dilaporkan mencapai sekitar 218-244 mg per 100 gram, bergantung varietas dan cara pengolahan. Angka ini menunjukkan potensi gizi yang cukup besar dari bahan pangan sederhana. Dengan pengolahan yang tepat, ubi ungu dapat menjadi menu sehat yang tetap lezat.

Kandungan antosianin pada ubi

Antosianin merupakan pigmen alami yang memberi warna ungu pada ubi. Senyawa ini juga banyak ditemukan pada blueberry dan anggur ungu. Selain memberi warna, antosianin diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang dapat membantu melindungi sel tubuh. Sifat tersebut membuat ubi ungu semakin dilirik sebagai pangan fungsional.

Di dalam tubuh, antioksidan berperan melawan radikal bebas yang dapat memicu kerusakan sel. Proses ini penting untuk menjaga kesehatan metabolik dan mencegah peradangan berlebihan. Karena itu, bahan pangan dengan kandungan antosianin kerap mendapat perhatian dalam kajian gizi. Ubi ungu menjadi salah satu sumber yang mudah ditemukan dan terjangkau.

Meski demikian, kandungan gizi dapat dipengaruhi oleh cara pengolahan. Perebusan, pengukusan, atau pemanggangan bisa menghasilkan profil nutrisi yang berbeda. Sebagian zat aktif juga dapat menurun jika pengolahan dilakukan terlalu lama. Oleh sebab itu, cara memasak yang sederhana lebih dianjurkan agar manfaatnya tetap optimal.

Risiko topping berlebihan

Manfaat ubi ungu dapat berkurang jika disajikan dengan topping tinggi gula dan lemak jenuh. Tambahan seperti krim manis, keju berlebihan, atau saus tinggi gula dapat meningkatkan kalori secara signifikan. Kondisi ini membuat makanan yang semula sehat berubah menjadi kurang seimbang. Karena itu, pilihan topping perlu diperhatikan sejak awal.

Dr Tjandra mengingatkan masyarakat agar tetap bijak dalam memilih porsi. Konsumsi berlebihan, meski berasal dari bahan alami, tetap dapat mengganggu pengaturan asupan harian. Hal ini penting terutama bagi orang yang memiliki risiko diabetes atau tekanan darah tinggi. Pola makan sehat tetap menekankan keseimbangan, bukan sekadar tren makanan viral.

Tren olahan ubi di media sosial memang menarik perhatian banyak orang. Namun, popularitas tidak selalu sejalan dengan nilai gizi jika tidak diatur dengan tepat. Masyarakat disarankan menikmati ubi ungu dalam bentuk yang sederhana dan tidak berlebihan. Dengan begitu, camilan populer ini tetap dapat memberi manfaat tanpa menambah risiko kesehatan.

Cara memilih olahan sehat

Untuk mendapatkan manfaat yang lebih baik, ubi ungu sebaiknya diolah dengan cara yang minim tambahan gula. Pengukusan atau pemanggangan tanpa topping berlebihan dapat menjadi pilihan yang lebih aman. Jika ingin menambah rasa, masyarakat bisa menggunakan bahan pelengkap yang lebih alami. Langkah kecil ini membantu menjaga kualitas gizinya.

Porsi juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang. Konsumsi yang terlalu banyak tetap dapat menambah asupan karbohidrat dan kalori secara berlebih. Karena itu, ubi ungu sebaiknya diposisikan sebagai bagian dari menu seimbang, bukan pengganti semua makanan utama. Kebiasaan ini lebih mendukung kesehatan jangka panjang.

Dengan kandungan antosianin yang tinggi, ubi ungu layak dipertimbangkan sebagai camilan sehat. Tren yang sedang populer ini dapat menjadi peluang untuk mendorong masyarakat memilih makanan yang lebih bernutrisi. Kuncinya terletak pada cara memasak, pilihan topping, dan jumlah konsumsi. Jika dikelola dengan baik, ubi ungu bisa menjadi menu sederhana yang bermanfaat bagi tubuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!